Harry Potter Dan Piala Api | BAB 37 - AWAL MULA | (Audiobook Indonesia)

Generasi Z
10 pengikut
2 Tayangan video·24 Okt 2026
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AIHarry berjuang menghadapi trauma kematian Cedric Diggory dan kembalinya Lord Voldemort. Di tengah kecurigaan siswa Hogwarts, Dumbledore secara terbuka mengungkap kebenaran untuk melawan kebohongan dan menyerukan persatuan. Harry kemudian memberikan hadiah kemenangannya kepada Fred dan George untuk modal toko lelucon mereka sebelum kembali ke keluarga Dursley untuk menghadapi masa depan yang gelap.
Harry Potter dan Piala Api, bab 37, awal mula.
Ketika mengenangnya lagi, bahkan setelah lewat sebulan,
ternyata Harry cuma ingat sedikit-sedikit
apa yang terjadi di hari-hari berikutnya.
Seakan dia telah mengalami terlalu banyak
sehingga tak bisa menerima lebih banyak lagi.
Kenangan yang diingatnya sangat menyakitkan.
Yang paling buruk barangkali adalah pertemuan dengan orang tua Cedric
di Diggory yang berlangsung keesokan paginya.
Mereka tidak mempersalahkannya atas apa yang terjadi.
Sebaliknya malah, mereka berdua berterima kasih kepadanya
karena telah mengembalikan jenazah Cedric kepada mereka.
Mr. Diggory terisak hampir sepanjang pertemuan.
Kesedihan Mrs. Diggory rupanya telah melampaui batas air mata.
Dia hanya menderita sedikit sekali kalau begitu.
Kata Mrs. Diggory setelah Harry
menceritakan bagaimana Cedric meninggal.
Dan lagi pula Amos, dia meninggal setelah memenangkan turnamen.
Pastilah dia sangat bahagia.
Saat mereka bangkit, Mrs. Diggory menunduk memandang Harry dan berkata,
Jagalah dirimu baik-baik sekarang.
Harry menyambar kantong emas di meja di sebelah tempat tidurnya.
Ambilah ini.
Dia bergumam kepada ibu Cedric.
Seharusnya ini milik Cedric.
Dia sampai lebih dulu.
Ambilah.
Tetapi Mrs. Diggory menjauh darinya.
Oh tidak, itu milikmu nak.
Aku tak bisa.
Kau saja yang menyimpannya.
Harry kembali ke Menara Gryffindor keesokan malamnya.
Dari apa yang diceritakan Hermione dan Ron,
Dumbledore telah berbicara kepada
seluruh sekolah pagi itu sewaktu sarapan
Dia hanya meminta agar mereka tidak mengganggu Harry
Agar jangan ada yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan
Atau mendesaknya menceritakan apa yang terjadi di maze
Sebagian besar anak-anak
Harry memperhatikan
Menyingkir darinya di koridor
Menghindari tatapannya
Beberapa berbisik-bisik di balik tangan ketika dia lewat
Harry menduga banyak di antara mereka
telah mempercayai artikel Rita Skeeter
Tentang betapa terganggunya
Dan mungkin betapa sangat berbahayanya dia
Mungkin mereka membuat teori sendiri
tentang bagaimana Cedric meninggal.
Ternyata Harry tidak begitu peduli.
Dia paling senang jika sedang bersama Ron dan
Hermione dan mereka bicara tentang hal-hal lain
atau membiarkannya duduk diam sendiri
sementara mereka berdua main catur.
Dia merasa seakan mereka bertiga telah mencapai tingkat
pemahaman yang tak perlu mereka utarakan dalam kata-kata.
Bahwa mereka masing-masing menunggu adanya petunjuk,
adanya kabar tentang apa yang terjadi di luar Hogwarts
dan tak ada gunanya berspekulasi tentang apa
yang akan terjadi sebelum ada kepastian.
Sekalinya mereka menyinggung topik ini
adalah ketika Ron memberitahu Harry
tentang pertemuan Mrs. Weasley dengan Dumbledore sebelum ibunya pulang.
Mam bertanya apakah kau boleh langsung
ke rumah kami musim panas ini, katanya.
Tetapi Dumbledore ingin kau pulang ke rumah
keluarga Dursley dulu, sebentar paling tidak.
Kenapa? Tanya Harry.
Katanya Dumbledore punya alasan,
kata Ron, menggelengkan kepala tak paham.
Ku rasa kita harus mempercayainya, kan?
Satu-satunya orang lain selain Ron dan Hermione,
dengan siapa Harry merasa bisa berbicara, adalah Hagrid.
Karena sudah tak ada lagi guru pertahanan terhadap ilmu hitam,
mereka bebas dalam pelajaran tersebut.
Mereka menggunakan jam bebas kami sore
untuk mengunjungi Hagrid di pondoknya.
Hari itu, matahari bersinar cerah.
Feng melompat ke pintu yang terbuka ketika mereka datang,
menggonggong dan menggoyang ekornya dengan seru.
Siapa itu?
Seru Hagrid.
Datang ke pintu. Harry!
Dia keluar menemui mereka, menarik Harry dalam pelukan satu tangan,
mengacak rambutnya dan berkata,
Senang ketemu kau, nak. Senang ketemu kau.
Mereka melihat dua cangkir sebesar ember dengan tatasannya di atas
meja kayu di depan perapian ketika mereka memasuki pondok Hagrid.
Tadi minum teh dengan Olympe, kata Hagrid. Dia baru saja pergi.
Siapa? Tanya Ron penasaran.
Madam Maxime tentu saja, kata Hagrid.
Kalian berdua baikan ya, kata Ron.
Tak tahu apa maksudmu, kata Hagrid ringan.
Mengambil lebih banyak cangkir dari lemari.
Setelah membuat teh dan menawari mereka sepiring kue,
dia bersandar di kursinya dan mengamati Harry
dengan teliti dengan mata kumbang hitamnya.
Kau baik-baik saja? Tanyanya parahu.
Iya, kata Harry.
Tidak, kau tidak baik-baik saja, kata Hagrid.
Tentu saja tidak, tapi nantinya kau akan baik-baik saja.
Harry tidak berkata apa-apa.
Sudah tahu dia akan kembali, kata Hagrid.
Dan Harry, Ron, dan Hermione menatapnya kaget.
Sudah tahu bertahun-tahun, Harry.
Tahu dia di luar sana, tunggu waktu.
Pasti terjadi.
Nah, sekarang sudah terjadi.
Dan kita harus terima.
Kita akan lawan dia.
Mungkin bisa stop sebelum dia kuat.
Itu rencana Dumbledore paling tidak.
Orang besar Dumbledore.
Asal kita masih punya dia, aku tak terlalu cemas.
Hagrid mengangkat alisnya yang lebat melihat
ekspresi tak percaya di wajah mereka.
Tak ada gunanya cuma duduk singsang memikirkan hal itu, katanya.
Apa yang akan terjadi, pasti terjadi,
dan kita akan song-song kalau datang.
Dumbledore cerita padaku yang kau lakukan, Harry.
Dada Hagrid membusung bangga saat dia memandang Harry.
Yang kau lakukan itu sama seperti yang akan dilakukan ayahmu,
dan aku tak bisa beri kau pujian lebih tinggi daripada itu.
Harry balas tersenyum.
Itu pertama kalinya dia tersenyum setelah berhari-hari ini.
Kau disuruh apa oleh Dumbledore Hagrid?
Dia bertanya.
Dia menyuruh Profesor McGonagall untuk
memintamu dan Mada Maxim menemuinya malam itu.
Punya tugas kecil untukku musim panas nanti, kata Hagrid.
Rahasia tapi, aku tak boleh bicara tentang ini,
bahkan kepada kalian sekalipun.
Olimpi, kalian harus panggil dia Mada Maxim,
mungkin akan pergi bersamaku.
Kurasa dia mau.
Kurasa aku sudah berhasil bujuk dia.
Apa ada hubungannya dengan Voldemort?
Hagrid berjinit mendengar nama itu.
Mungkin, katanya mengelak.
Nah, siapa yang mau ikut aku kunjungi skrut terakhir?
Aku cuma bergurau.
Bergurau.
Dia buru-buru menambahkan.
Melihat tampang mereka.
Harry mengepak kopernya dengan berat hati pada
malam sebelum kepulangannya ke Private Drive.
Dia ngeri menghadapi pesta perpisahan,
yang biasanya merupakan ajang perayaan
ketika pemenang juara antarasrama diumumkan.
Sejak meninggalkan rumah sakit, dia menghindar berada di aula besar,
kalau aula itu penuh.
Dia lebih suka makan saat aula sudah hampir kosong
untuk menghindari tatapan teman-temannya.
Ketika dia, Ron dan Hermione memasuki aula,
mereka langsung melihat bahwa dekorasinya tidak seperti biasa.
Aula besar biasanya didekorasi dengan warna
asrama pemenang pada acara pesta perpisahan.
Tetapi, malam ini, dinding di belakang meja guru ditutupi tirai hitam.
Harry langsung tahu bahwa tirai itu ada
di sana sebagai penghormatan untuk Cedric,
Mad-Eye Moody yang asli ada di meja guru sekarang.
Kaki kayu dan mata gaibnya kembali berada di tempatnya.
Dia luar biasa gugup.
Terlonjak setiap kali ada yang mengajaknya bicara.
Harry tidak menyalahkannya.
Ketakutan Moody akan serangan pastilah semakin besar
dengan penyekapannya selama 10 bulan dalam petinya sendiri.
Kursi Profesor Karkaroff kosong.
Harry bertanya-tanya dalam hati saat dia
duduk bersama anak-anak Gryffindor lainnya.
Dimana Karkaroff sekarang?
Dan apakah Voldemort sudah berhasil menangkapnya?
Madame Maxime masih ada.
Dia duduk di sebelah Hagrid.
Mereka berdua mengobrol pelan.
Agak jauh dari mereka duduk Snape di sebelah Profesor McGonagall.
Matanya sejenak menatap Harry.
Ketika Harry memandangnya, ekspresinya susah ditebak.
Dia tampak sama-masam dan tidak menyenangkan seperti biasanya.
Harry terus mengawasi Snape, lama setelah Snape berpaling.
Apa yang telah dilakukan Snape atas perintah Dumbledore?
Pada malam Voldemort kembali.
Dan kenapa?
Kenapa Dumbledore begitu yakin bahwa
Snape benar-benar berada di pihak mereka?
Dulu dia mata-mata mereka.
Dumbledore sendiri yang mengatakan di dalam Pensieve,
Snape telah berbalik menjadi mata-mata yang menentang Voldemort,
dengan risiko pribadi yang amat besar.
Itukah lagi pekerjaannya sekarang?
Apakah dia sudah mengontak para pelahap maut mungkin,
berpura-pura bahwa dia tak pernah
betul-betul menyeberang ke pihak Dumbledore?
Bahwa dia, sama seperti Voldemort sendiri, sekadar menunggu waktu.
Renungan Harry diakhiri oleh Profesor Dumbledore,
yang berdiri di meja guru.
Aula besar, yang memang lebih sepi dibanding
suasana pesta perpisahan biasanya,
menjadi sunyi senyap.
Akhir, kata Dumbledore, mengedarkan pandang kepada mereka semua.
Tahun ajaran yang lain, dia berhenti sejenak,
dan pandangannya jatuh ke meja Hufflepuff.
Meja mereka adalah meja yang paling muram sebelum Dumbledore berdiri,
dan wajah-wajah mereka masih yang paling
sedih dan paling pucat di aula itu.
Banyak sekali yang ingin kusampaikan kepada
kalian semua malam ini, kata Dumbledore.
Tetapi, pertama-tama,
aku harus menyatakan kehilangan orang yang sangat baik,
yang seharusnya duduk di sini.
Dia memberi isyarat ke arah meja Hufflepuff,
menikmati pesta ini bersama kita.
Kuminta kalian semua berdiri, silakan,
dan bersulang untuk Cedric Diggory.
Mereka mematuhinya, semuanya,
kursi-kursi berderit ketika mereka berdiri,
dan mengangkat gelas, dan berseru bersama,
dalam suara keras, rendah, menggemuruh.
Cedric Diggory.
Sekilas, Harry melihat Cho di antara teman-temannya,
Air matanya bercucuran.
Harry menunduk memandang meja ketika mereka semua sudah duduk lagi.
Cedric adalah anak yang menunjukkan banyak
kualitas yang merupakan karakteristik Hufflepuff.
Dumbledore melanjutkan, dia teman yang baik dan setia,
pekerja keras, dia menghargai permainan yang jujur.
Kematiannya telah mempengaruhi kalian semua,
apakah kalian kenal baik dengannya atau tidak.
Karena itu, kurasa kalian berhak untuk mengetahui
bagaimana persisnya kematiannya terjadi.
Harry mengangkat kepala dan menatap Dumbledore.
Cedric Diggory dibunuh oleh Lord Voldemort.
Bisikan-bisikan panik menyapu aula besar.
Anak-anak memandang Dumbledore tak percaya dengan ngeri.
Dumbledore tampak sangat tenang sementara menunggu mereka diam.
Kementerian Sihir.
Dumbledore melanjutkan,
tidak setuju aku menyampaikan hal ini kepada kalian.
Mungkin juga beberapa dari orang tua kalian
terkejut sekali aku memberitahukan hal ini.
Entah karena mereka tidak percaya bahwa Lord Voldemort telah kembali,
atau karena mereka beranggapan aku seharusnya merahasiakan hal ini,
mengingat kalian masih terlalu muda.
Meskipun demikian, aku percaya bahwa kebenaran lebih baik daripada
kebohongan, dan bahwa segala usaha untuk berpura-pura bahwa
Cedric meninggal karena kecelakaan atau semacam kekeliruan yang
dilakukannya sendiri merupakan penghinaan akan kenangan akan dirinya.
Terpana dan terkejut, semua wajah
di aula besar menghadap Dumbledore sekarang.
Atau hampir semua wajah.
Di meja Slytherin, Harry melihat Draco Malfoy
menggumamkan sesuatu kepada Crabbe dan Goyle.
Harry merasakan gelombang kemarahan yang
membara dan memualkan melanda perutnya.
Dia memaksa diri memandang Dumbledore lagi.
Ada satu orang lagi yang harus disebut
dalam kaitannya dengan kematian Cedric.
Dumbledore melanjutkan,
Yang kubicarakan ini tentu saja adalah Harry Potter.
Seakan ada riak menyapu aula ketika kepala-kepala
menoleh ke Harry sebelum kembali memandang Dumbledore.
Harry Potter berhasil lolos dari Lord Voldemort, kata Dumbledore.
Dia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk
mengembalikan jenazah Cedric ke Hogwarts.
Dia menunjukkan dalam segala hal keberanian yang hanya
diperlihatkan sedikit penyihir dalam menghadapi Lord Voldemort.
Dan untuk ini, aku menghormatinya.
Pak Dumbledore menoleh takzim kepada Harry
dan mengangkat pialanya sekali lagi.
Hampir semua hadirin mengikutinya.
Mereka menggumamkan namanya,
seperti sewaktu menggumamkan nama Cedric, dan minum untuknya.
Tetapi dari celah-celah di antara anak-anak yang berdiri,
Harry melihat Malfoy, Crabbe, Goyle, dan banyak anak-anak
Slytherin lain bertahan menantang di tempat duduk mereka,
piala mereka tak tersentuh.
Dumbledore, yang tidak memiliki mata gaib, tidak melihatnya.
Ketika semua sudah duduk di tempat masing-masing,
Dumbledore melanjutkan, tujuan turnamen Triwizard adalah
membina dan meningkatkan saling pengertian di dunia sihir.
Mengingat apa yang telah terjadi, kembalinya Lord Voldemort,
hubungan semacam ini lebih penting daripada sebelumnya.
Pandangan Dumbledore memandang dari Madame Maxim dan
Hagrid ke Fleur Delacour dan teman-teman Beauxbatons-nya,
ke Viktor Krum dan murid-murid Durmstrang di meja Slytherin.
Krum, Harry melihat, tampak waspada, nyaris takut,
seakan dia mengharap Dumbledore mengatakan sesuatu yang kasar.
Semua tamu dalam aula ini, kata Dumbledore,
dan matanya bertahan memandang murid-murid Durmstrang,
akan disambut dengan senang hati setiap saat jika mereka ingin kembali.
Kukatakan kepada kalian semua,
sekali lagi sehubungan dengan kembalinya Lord Voldemort,
kita hanya bisa kuat kalau bersatu.
Seperti kata pepatah, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Kemampuan Lord Voldemort untuk menyebarkan
perpecahan dan permusuhan sangat besar.
Kita hanya bisa melawannya dengan memperlihatkan ikatan
persahabatan dan saling percaya yang sama kuatnya.
Perbedaan kebiasaan dan bahasa tak ada artinya
jika tujuan kita sama dan hati kita terbuka.
Aku menduga, dan aku sungguh berharap dugaanku ini keliru,
bahwa kita semua menghadapi masa yang gelap dan sulit.
Beberapa di antara kalian di dalam aula ini sudah
mengalami penderitaan langsung di tangan Lord Voldemort.
Banyak keluarga kalian yang telah dicerai berai dan dihancurkannya.
Seminggu yang lalu, seorang rekan diambil dari tengah-tengah kita.
Ingatlah Cedric, ingatlah jika tiba waktunya kalian
harus memilih antara yang benar dan yang salah,
ingatlah apa yang terjadi pada seorang
anak yang hebat dan baik dan pemberani
hanya karena dia berada di jalan yang dilalui Lord Voldemort.
Ingatlah Cedric Diggory.
Koper Harry sudah selesai dipak.
Hedwig sudah kembali berada di dalam sangkarnya di atas koper itu.
Harry, Ron, dan Hermione berada
di aula depan yang tenuh bersama anak-anak kelas empat lainnya.
Menunggu kereta yang akan membawa mereka ke stasiun Hogsmeade.
Hari itu hari yang cerah di musim panas.
Dia menduga Privet Drive pastilah panas dan tumbuhannya rimbun.
Petak-petak bunganya penuh bunga warna-warni
ketika dia tiba di sana malam itu.
Pikiran ini sama sekali tidak membuatnya senang.
Ari!
Harry menoleh.
Fleur Delacour sedang bergegas menaiki undakan batu.
Di belakangnya, jauh di halaman,
Harry bisa melihat Hagrid membantu Madame Maxim
memasang kendali pada dua dari kuda-kuda raksasa.
Kereta Bobbingtons siap berangkat.
Kita akan bertemu lagi, kuharap.
Kata Fleur ketika tiba di dekat Harry,
mengeluarkan tangannya.
Aku berharap bisa bekerja di sini
untuk memperbaiki bahasa Inggrisku.
Sudah bagus sekali, kata Ron dengan suara seperti tersekat.
Fleur tersenyum kepadanya.
Hermione merengut.
Selamat tinggal, Ari, kata Fleur berbalik untuk pergi.
Senang sekali bisa berkenalan denganmu.
Mau tak mau, semangat Harry terangkat sedikit melihat Fleur
bergegas menyeberangi lapangan rumput menuju Madam Maxim.
Rambutnya yang pirang berkilauan tertimpa cahaya matahari.
Bagaimana caranya anak-anak Durmstrang pulang ya, kata Ron.
Menurut kalian, apakah mereka bisa mengemudi kapal itu tanpa Karkaroff?
Karkarov tidak mengemudi, kata suara yang keras.
Dia tinggal dalam kabinnya dan membiarkan kami yang bekerja.
Krum telah datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Hermione.
Boleh aku bicara?
Tanya Kram kepadanya.
Oh, ya, baiklah, kata Hermione, tampak agak bingung
dan mengikuti Kram menyeruak
di antara anak-anak dan menghilang dari pandangan.
Jangan lama-lama. Ron berteriak keras kepada Hermione.
Keretanya sebentar lagi datang. Meskipun demikian,
dia membiarkan Harry yang menunggu kereta dan melewatkan beberapa
menit berikutnya dengan menjulurkan leher di atas kerumunan
anak-anak berusaha melihat apa yang dilakukan Krum dan Hermione.
Mereka kembali tak lama kemudian.
Ron memandang Hermione tajam, tetapi wajah Hermione tenang-tenang saja.
Aku suka Dumbledore, kata Krum tiba-tiba kepada Harry.
Dia selalu sopan kepadaku, selalu, meskipun aku dari Durmstrang.
Dengan Karkaroff, dia menambahkan sambil merengut.
Apakah kalian sudah mendapat kepala sekolah baru? Tanya Harry.
Krum mengangkat bahu, dia mengulurkan tangan seperti Fleur,
menjabat tangan Harry, kemudian Ron.
Ron tampak seakan dia sedang mengalami
pergolakan batin yang menyakitkan.
Kram sudah berjalan pergi ketika Ron tiba-tiba berseru.
Boleh aku minta tanda tanganmu?
Hermione berpaling, tersenyum pada kereta-kereta tanpa kuda
yang sekarang menggelinding menuju mereka di jalan kereta.
Sementara Krum, tampak terkejut tetapi senang,
menanda tangani secarik perkamen untuk Ron.
Cuaca tak mungkin lebih berbeda antara perjalanan pulang mereka ke
King's Cross dengan perjalanan ke Hogwarts bulan September lalu.
Langit sama sekali tak berawan.
Harry, Ron, dan Hermione berhasil mendapatkan
satu kompartemen untuk mereka sendiri.
Pigwidgeon sekali lagi tersembunyi
di bawah jubah pesta Ron untuk menghentikannya beruhu-uhu terus.
Hedwig tertidur, kepalanya diselipkan ke sayapnya,
dan Crookshanks bergulung
di tempat duduk kosong seperti bantal besar berbulu jingga.
Harry, Ron, dan Hermione mengobrol lebih banyak
dan lebih bebas daripada seminggu yang lalu.
Sementara kereta meluncur membawa mereka ke selatan.
Harry merasa seakan pidato Dumbledore
di pesta perpisahan telah membebaskannya.
Sudah berkurang sakitnya membicarakan apa yang terjadi sekarang.
Mereka memutus pembicaraan tentang tindakan
apa yang mungkin diambil Dumbledore saat ini
untuk menghentikan Voldemort hanya ketika trolley makan siang tiba.
Ketika Hermione kembali dari trolley dan
memasukkan uangnya ke dalam tasnya kembali,
dia mengeluarkan Daily Prophet yang dia bawa.
Harry memandang koran itu, tak yakin apakah dia
benar-benar ingin tahu apa yang dikatakan di dalamnya
Tetapi Hermione melihat wajah Harry berkata tenang
Tak ada apa-apa di situ, kau boleh baca sendiri, tapi tak ada apa-apa
Aku sudah mengeceknya setiap hari
Hanya berita kecil sehari setelah pelaksanaan tugas ketiga
Mengatakan kau memenangkan turnamen
Mereka bahkan tidak menyebutkan Cedric
Sama sekali tak ada berita tentang itu
Kalau kalian tanya aku, menurutku Fudge memaksa mereka diam
Dia tak akan bisa menyuruh Rita diam, kata Harry
Tidak untuk cerita seperti ini
Oh, Rita tidak menulis apa-apa sejak tugas ketiga,
kata Hermione dengan nada terpaksa yang ganjil
Malah, dia menambahkan suaranya sekarang agak bergetar
Rita Skeeter tidak akan menulis apa-apa untuk sementara ini
Tidak kecuali jika dia mau aku membuka rahasianya
Apa yang kau bicarakan?
Kata Ron, aku berhasil tahu bagaimana dia
mendengarkan percakapan-percakapan pribadi saat dia
seharusnya tidak boleh masuk ke kompleks sekolah.
Kata Hermione buru-buru.
Harry mendapat kesan bahwa Hermione sudah ingin sekali
menceritakan hal ini kepada mereka selama berhari-hari.
Tetapi dia telah menahan diri, mengingat adanya kejadian lain.
Bagaimana caranya? Tanya Harry.
Bagaimana kau bisa tahu? Tanya Ron memandangnya heran.
Sebenarnya kau yang memberiku ide, Harry.
katanya. Aku, kata Harry bingung. Bagaimana?
Penyadapan, kata Hermione riang. Tetapi katamu alatnya
tak berfungsi. Oh, bukan penyadapan secara elektronis, kata Hermione.
Bukan? Rita Skeeter,
suara Hermione bergetar dengan kemenangan,
adalah Animagus tak terdaftar. Dia bisa berubah. Hermione
mengeluarkan stoples kaca tertutup dari dalam tasnya, menjadi kumbang.
Yang benar, kata Ron.
Kau tidak, dia tidak.
Oh ya, dia bisa berubah, kata Hermione riang,
mengacung-acungkan stoples itu kepada mereka.
Di dalamnya ada beberapa ranting dan daun-daun,
dan seekor kumbang gemuk besar.
Mana mungkin, kau main-main, Ron berbisik,
mengangkat stoples itu ke matanya.
Aku tidak main-main, kata Hermione berseri-seri.
Ku tangkap dia di ambang jendela rumah sakit.
Lihatlah dengan teliti dan kau akan melihat tanda
di sekeliling sungutnya persis seperti kacamata jelek yang dipakainya.
Harry melihat dan ternyata Hermione benar.
Dia juga mengingat sesuatu.
Ada kumbang di patung pada malam kita mendengar
Hagrid memberitahu Madame Maxime tentang ibunya.
Persis, kata Hermione.
Dan Viktor Krum menarik seekor kumbang dari
rambutku setelah kami berbicara di tepi danau.
Dan kecuali aku sangat keliru, Rita hinggap
di ambang jendela kelas ramalan pada hari bekas lukamu sakit.
Dia beterbangan kemana-mana, memburu berita selama setahun ini.
Waktu kita melihat Malfoy di bawah pohon itu, kata Ron perlahan.
Dia sedang berbicara kepada Rita di tangannya, kata Hermione.
Malfoy tahu, tentu saja.
Dengan cara begitulah Rita bisa mendapatkan
wawancara-wawancara menyenangkan dengan anak-anak seliterin.
Mereka tidak akan peduli bahwa Rita
melakukan sesuatu yang melanggar hukum
Asal mereka bisa memberinya bahan tidak
menyenangkan tentang kita dan Hagrid
Hermione mengambil kembali stoples kaca itu
dari Ron dan tersenyum kepada si kumbang
Yang berdengung marah menempel di kaca
Kukatakan padanya, aku akan melepasnya setelah kita tiba di London
Kata Hermione, aku sudah menyihir stoples ini dengan mantra anti pecah
Jadi dia tak bisa bertransformasi
Dan sudah kukatakan kepadanya, dia harus menyimpan pena
bulunya untuk dirinya sendiri selama setahun penuh.
Kita lihat apakah dia bisa menghentikan kebiasaannya
menulis kebohongan mengerikan tentang orang-orang.
Tersenyum cerah, Hermione memasukkan kembali
stoples kumbang itu ke dalam tasnya.
Pintu kompartemen menggeser terbuka.
Pintar sekali Granger, kata Draco Malfoy.
Crabbe dan Goyle berdiri di belakangnya.
Ketiganya tampak lebih berpuas diri,
lebih sombong dan lebih mengancam daripada yang pernah Harry lihat
Jadi, kata Malfoy lambat-lambat,
maju sedikit ke dalam kompartemen dan perlahan memandang mereka bertiga
Seringai menghiasi bibirnya
Kau menangkap reporter yang malang dan
Potter jadi favorit Dumbledore lagi?
Hebat!
Seringainya makin melebar, Crabbe dan Goyle mengerling jahat
Berusaha tidak memikirkannya rupanya,
kata Malfoy pelan memandang mereka bertiga.
Berusaha berpura-pura itu tidak terjadi.
Keluar, kata Harry.
Belum pernah dia berada sedekat ini dengan Malfoy sejak
dia melihat Malfoy berbisik-bisik kepada Crabbe dan
Goyle ketika Dumbledore sedang berpidato tentang Cedric.
Telinganya serasa berdenging.
Tangannya mencengkram tongkat sihirnya di balik jubah.
Kau telah memilih pihak yang kalah, Potter.
Sudah kuperingatkan.
Ku beritahu kau bahwa kau harus lebih hati-hati memilih teman.
Ingat, waktu kita bertemu di kereta api, hari pertama di Hogwarts,
sudah ku bilang jangan bergaul dengan kaum hinadina macam ini.
Dia mengedikkan kepala kepada Ron dan Hermione.
Sudah terlambat sekarang, Potter.
Mereka yang akan pergi lebih dulu sekarang
setelah pangeran kegelapan kembali.
Darah lumpur dan pencinta muggle yang paling dulu.
Ya, nomor dua.
Karena Diggory yang per...
Seakan ada yang meledakkan sekotak petasan di dalam kompartemen,
dibutakan oleh silaunya kilatan mantra
yang meluncur dari segala jurusan,
tuli oleh rentetan ledakan, Harry mengejap dan memandang ke lantai.
Malfoy, Crabbe, dan Goyle bergeletakan pingsan di pintu.
Dia, Ron, dan Hermione berdiri,
ketiganya telah menggunakan mantra berbeda.
Lagi pula, bukan hanya mereka bertiga yang menyerang.
Kami ingin tahu mau apa mereka, kata Fred tanpa berbelit-belit.
Menginjak Goyle dan masuk ke kompartemen.
Tongkat sihirnya di tangan.
Begitu juga George, yang berhati-hati agar
menginjak Malfoy saat masuk mengikuti Fred.
Efek yang menarik, kata George, menunduk memandang Crabbe.
Siapa yang menggunakan mantra Furnunculus?
Aku, kata Harry.
Aneh, kata George ringan.
Aku memakai kaki jelly.
Kelihatannya dua mantra itu tak boleh digabung.
Seluruh wajahnya jadi ditumbuhi tentakel kecil-kecil begitu.
Yuk, kita singkirkan dari sini.
bikin dekor jadi jelek sahaja.
Ron, Harry, dan George menendang,
menggelindingkan, dan mendorong
Malfoy, Crabbe, dan Goyle
yang pingsan, masing-masing tampak
parah akibat campuran mantra sihir yang
mengenai mereka, ke koridor,
kemudian kembali ke kompartemen dan menutup
pintunya. Ada yang mau main kartu?
Tanya Fred, mengeluarkan sekotak kartu.
Mereka sudah separuh jalan memainkan
ronde kelima ketika Harry memutuskan
untuk menanyai mereka.
Kalian mau memberitahu kami? Katanya
kepada George. Siapa yang kalian peras?
Oh, kata George suram, itu tidak,
tidak usah, kata Fred menggeleng tak sabar.
Tidak penting kok, sekarang paling tidak.
Kami sudah menyerah, kata George mengangkat bahu.
Tetapi Harry, Ron dan Hermione terus saja bertanya.
Dan akhirnya Fred berkata, baiklah,
baiklah kalau kalian memang ingin tahu, Ludo Bagman.
Bagman? kata Harry, tajam.
Apakah maksudmu dia terlibat dalam...
Tidak, kata George suram.
Bukan hal macam itu.
Dia tolol.
Otaknya tak cukup cerdas.
Lalu apa?
Tanya Ron.
Fred ragu-ragu kemudian berkata,
Kalian ingat taruhan kami dengannya waktu piala dunia Quidditch?
Bahwa Irlandia akan menang tetapi Krum akan menangkap Snitch.
Ya, kata Harry dan Ron lambat-lambat.
Nah, si tolol itu membayar kami dengan emas leprekon
yang dikumpulkannya dari maskot-maskot Irlandia.
Jadi?
Jadi, kata Fred tak sabar,
emas itu lenyap kan?
Paginya sudah lenyap semua.
Tapi itu pasti tak sengaja, kan? Kata Hermione.
George tertawa sangat getir.
Iya, mulanya kami pikir begitu.
Kami pikir kalau kami menulis kepadanya dan
memberitahukan kekeliruannya, dia akan membayar ulang.
Tetapi ternyata tidak.
Dia tidak mengacuhkan surat kami.
Kami terus berusaha bicara kepadanya soal itu di Hogwarts,
tetapi dia selalu mencari alasan untuk menghindari kami.
Pada akhirnya dia jadi menyebalkan, kata Fred.
Dia bilang kami terlalu muda untuk berjudi
dan dia tak mau memberi apa-apa pada kami.
Maka kami meminta kembali uang kami, kata George.
Dia menolak, kata Hermione, kaget.
Tepat sekali, kata Fred.
Tapi itu seluruh tabungan kalian, kata Ron.
Itulah, kata George.
Tentu saja kami akhirnya tahu apa yang terjadi.
Ayah Lee Jordan juga kesulitan mendapatkan uang dari Bagman.
Rupanya dia dalam kesulitan besar dengan para Goblin.
Meminjam banyak uang emas dari mereka.
Serombongan goblin menyudutkannya di hutan seusai piala dunia
dan mengambil semua uang emas yang dibawanya.
Dan masih saja itu tidak cukup untuk menutup semua utangnya.
Mereka mengikutinya sampai ke Hogwarts untuk mengawasinya.
Dia telah kehilangan semua uangnya karena berjudi.
Sepeser lagi pun dia tak punya.
Dan tahukah kalian bagaimana si idiot itu
mencoba membayar utangnya pada para goblin?
Bagaimana? Tanya Harry.
Bertaruh soal kamu, sobat, kata Fred.
Taruhan besar bahwa kamu akan memenangkan turnamen.
Bertaruh dengan para goblin.
Jadi itulah sebabnya dia berusaha terus
membantuku agar menang, kata Harry.
Nah, aku memang menang, kan?
Jadi dia bisa membayar kembali uang kalian.
Tidak, kata George, menggeleng.
Para goblin bermain sama kotornya dengannya.
Mereka mengatakan kamu seri dengan Diggory.
dan taruhan Backman adalah kamu menang total.
Jadi Backman terpaksa harus kabur.
Dia memang langsung kabur selesai tugas ketiga.
George menghela nafas dalam dan mulai mengocok kartu lagi.
Sisa perjalanan berlangsung cukup menyenangkan.
Malah Harry berharap perjalanan itu
bisa berlangsung sepanjang musim panas
dan dia tak usah tiba di King's Cross.
Tetapi seperti yang telah dipelajarinya dengan cara tak enak tahun itu,
waktu tidak akan melambat jika ada
sesuatu yang tak menyenangkan di depan.
Dan segera saja, Hogwarts Express telah memasuki peron 9-3/4.
Kesemrautan dan kebisingan yang biasa memenuhi
koridor-koridor ketika anak-anak mulai turun.
Ron dan Hermione susah payah melewati Malfoy,
Crabbe, dan Goyle membawa koper mereka.
Tetapi Harry tinggal di belakang.
Fred, George, tunggu sebentar.
Kedua kembar berbalik.
Harry membuka kopernya dan mengeluarkan hadiah.
Triwizardnya.
Ambillah, katanya.
Dan diulurkannya kantung uang itu ke tangan George.
Apa, kata Fred, ternganga keheranan.
Ambillah, Harry mengulang dengan tegas.
Aku tak mau uang ini.
Kau gila, kata George, berusaha mendorongnya kembali ke Harry.
Tidak, aku tidak gila, kata Harry.
Kalian ambillah dan mulailah berinvestasi.
Ini untuk toko lelucon.
Dia gila, kata Fred dengan suara takjub.
Dengar, kata Harry tegas.
Kalau kalian tidak mau mengambilnya, akanku buang.
Aku tidak menginginkannya dan aku tidak membutuhkannya.
Tetapi aku perlu tertawa.
Kita semua perlu tertawa.
Kurasa kita akan memerlukan tertawa lebih
banyak daripada biasanya tak lama lagi.
Harry, kata George lemah, menimbang-nimbang kantong uang di tangannya.
Ada seribu galeon di dalam kantong ini.
Iya, kata Harry, nyengir.
Bayangkan, berapa banyak krim kenari itu, si kembar menatapnya.
Hanya saja jangan beritahu ibu kalian dari mana kalian mendapatkannya.
Meskipun sekarang dia mungkin tak lagi ingin kalian bekerja
di kementerian kalau dipikir-pikir.
Harry, kata Fred baru mulai, Harry sudah mencabut tongkat sihirnya.
Dengar, katanya datar.
Ambil kalau tidak kusihir kau.
Aku sudah menguasai beberapa sihir bagus sekarang.
Aku cuma minta tolong satu hal, oke?
Belikan Ron beberapa jubah pesta dan katakan itu dari kalian.
Harry meninggalkan kompartemen sebelum
mereka bisa mengatakan sepatah katapun lagi.
Melanggahi Malfoy, Crabbe, dan Goyle yang masih tergeletak di lantai.
Tubuh mereka penuh berbagai tanda habis kena sihir.
Paman Vernon sudah menunggu di balik palang rintangan.
Mrs. Weasley berada di dekatnya.
Dia memeluk Harry sangat erat ketika
melihatnya dan berbisik di telinganya.
Kurasa Dumbledore akan mengizinkan kau datang ke
rumah kami menjelang akhir musim panas, Harry.
Tulislah surat, Harry.
Sampai ketemu Harry, kata Ron menepuk punggungnya
Bye Harry, kata Hermione
Dan dia melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan
Mengecup pipi Harry
Harry, terima kasih
George bergumam
Sementara Fred mengangguk bersemangat di sebelahnya
Harry mengedip kepada mereka
Berbalik menghadapi Paman Vernon
Dan mengikutinya tanpa bicara keluar stasiun
Tak ada gunanya cemas sekarang
Katanya pada diri sendiri
Ketika dia masuk ke tempat duduk belakang mobil keluarga Dursley
Seperti kata Hagrid
Apa yang akan terjadi, pasti terjadi, dan dia harus menghadapinya.
Tamat.
Akhirnya, perjalanan Harry Potter
di tahun keempat Hogwarts telah sampai di penghujung cerita.
Dari turnamen Triwizard yang penuh tantangan,
misteri di balik piala api, hingga kembalinya Lord Voldemort,
semuanya menjadi bagian dari petualangan yang tak terlupakan.
Terima kasih kepada kalian yang telah menemani perjalanan
audiobook Harry Potter dan Piala Api dari awal hingga akhir.
Namun, perjalanan Harry masih jauh dari selesai.
Ancaman yang lebih besar telah menanti,
dan dunia sihir tak akan pernah sama lagi.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya, Harry Potter dan Orde Phoenix.
Terima
kasih
telah
menonton
