Harry Potter Dan Kamar Rahasia | BAB 5 - DEDALU PERKASA | (Audiobook Indonesia)

Generasi Z
10 pengikut
2 Mei 2026
Harry Potter dan Kamar Rahasia
Bub 5
Dedalu Perkasa
Akhir liburan musim panas datang terlalu cepat bagi Harry.
Dia memang senang kembali ke Hogwarts,
tetapi sebulan bersama keluarga Weasley merupakan saat paling menyenangkan dalam hidupnya.
Susah untuk tidak iri kepada Ron kalau dia teringat keluarga Dursley
dan macam sambutan yang bisa diharapkannya kalau dia muncul kembali di private drive kali berikutnya.
Pada malam terakhir mereka,
nyonya Weasley menyihir makan malam mewah yang mencakup semua makanan favorit Harry
ditutup dengan puding karamel yang menimbulkan air liur.
Fred dan George mengakhiri malam itu dengan memasang kembang api filibuster.
Kembang api itu memenuhi dapur dengan bintang-bintang merah dan biru
yang memantul dari langit-langit ke dinding selama sedikitnya setengah jam.
Kemudian tiba saatnya minum secangkir coklat panas sebelum tidur.
Perlu waktu lama untuk siap berangkat ke esokan harinya.
Mereka sudah bangun bersamaan dengan koko ayam pagi-pagi sekali
tetapi rasanya banyak sekali yang harus dilakukan.
Nyonya Weasley berkelebat ke sana kemari sambil ngomel mencari kaos kaki dan pena cadangan.
Orang-orang tak hentinya bertabrakan di tangga berpakaian setengah lengkap dengan sepotong roti di tangan
dan Tuan Weasley nyaris patah leher karena terantuk ayam
tersesat ketika dia menyeberangi halaman dengan membawa koper gini ke mobil.
Harry tidak mengerti bagaimana nanti delapan orang, enam koper besar,
dua burung hantu dan seekor tikus bisa muat dalam Fort Anglia kecil.
Dia tidak memperhitungkan tentu saja keistimewaan khusus yang telah ditambahkan Tuan Weasley.
Jangan bilang apa-apa kepada Molly.
Bisiknya kepada Harry ketika dia membuka bagasi dan menunjukkan
Ketika akhirnya mereka semua sudah masuk mobil,
Nyonya Weasley melirik ke tempat duduk belakang
di mana Harry, Ron, Fred, George dan Percy duduk nyaman bersebelahan dan berkata
Mugel benar-benar mampu melakukan lebih banyak daripada yang kita kira.
Kita suka meremehkan mereka.
Dia dan Gini masuk dan duduk di tempat duduk depan
yang sudah dipanjangkan sehingga mirip bangku taman.
Maksudku, dari luar kita tidak menyangka selega ini kan?
Tuan Weasley menyalakan mesin dan mobil meluncur meninggalkan halaman.
Harry menoleh untuk memandang rumah terakhir kali.
Belum sempat dia bertanya kapan dia akan bisa melihatnya kembali,
mereka sudah berputar balik.
Kembang api filibuster George ketinggalan.
Lima menit sesudah itu, mereka menyentak berhenti di halaman
supaya Fred bisa berlari mengambil sapunya.
Mereka sudah hampir tiba di jalan tol ketika Gini memekik buku hariannya ketinggalan.
Saat dia naik kembali ke mobil, mereka sudah sangat terlambat
dan semua orang sudah jengkel dan maunya marah.
Tuan Weasley melirik Arloginya dan kemudian istrinya.
Tidak Arthur, tak akan ada yang lihat.
Tombol kecil ini, buster tidak tampak, pendorong yang akan membuat mobil tidak kelihatan
yang sekaligus akan membuatnya terangkat ke atas.
Kemudian kita akan terbang di atas awan.
Kita akan tiba di sana dalam waktu 10 menit dan tak akan ada orang yang tahu.
Kubilang tidak Arthur, tidak di siang bolong.
Mereka tiba di Kings Cross pukul 11 kurang seperempat.
Tuan Weasley melesat menyebrang jalan, mengambil troli untuk koper-koper mereka
dan mereka semua bergegas masuk stasiun.
Harry sudah pernah naik Hogwarts Express tahun sebelumnya.
Bagian yang sulit adalah menuju ke peron 9 3 per 4 yang tidak tampak bagi mata magel.
Yang harus kau lakukan hanyalah berjalan menembus palang rintangan yang memisahkan peron 9 dan 10.
Tidak sakit, tetapi harus dilakukan hati-hati supaya tak ada magel yang melihat kau tiba-tiba menghilang.
Persi duluan, kata Nyonya Weasley.
Gugup memandang jam di atas yang menunjukkan mereka tinggal punya waktu 5 menit
untuk menghilang dengan santai melewati palang.
Persi melangkah cepat dan menghilang.
Tuan Weasley berikutnya disusul Fred dan George.
Aku akan membawa Ginny dan kalian berdua langsung menyusul kami.
Nyonya Weasley berkata kepada Harry dan Ron, menggandeng tangan Ginny dan berangkat.
Dalam sekejap mereka sudah menghilang.
Ayo masuk bareng, kita cuma punya waktu semenit, kata Ron kepada Harry.
Setelah memastikan sangkar Hedwig sudah terpasang aman di atas kopernya,
Harry mendorong trolinya untuk menembus palang.
Dia merasa sangat percaya diri.
Ini lebih nyaman dibanding menggunakan bubuk flu.
Mereka berdua membungkuk rendah di atas pegangan dan berjalan mantap ke arah palang.
Makin lama, makin cepat.
Kira-kira semeter dari palang mereka berlari dan...
kubrak!
Kedua troli menabrak palang rintangan dan memantul balik.
Koperon jatuh dengan suara keras.
Harry terjatuh dan sangkar Hedwig terguling ke lantai yang licin lalu menggelinding.
Hedwig menjerit-jerit marah.
Orang-orang menonton dan seorang penjaga di dekat palang berteriak marah.
Kalian ini ngapain?
Kehilangan kendali troli, kata Harry tersengal
sambil memegang tulang rusuknya sambil berdiri.
Ron berlari untuk mengambil Hedwig yang ribut sekali.
Membuat banyak orang dalam kerumunan bergumam tentang kekejaman terhadap binatang.
Kenapa kita tidak bisa tembus desis Harry kepada Ron?
Tidak tahu.
Ron memandang sekeliling dengan cemas.
Kira-kira selusin orang masih memandang mereka dengan ingin tahu.
Kita akan ketinggalan kereta, bisik Ron.
Aku tidak mengerti kenapa gerbang masuk ini terkunci.
Harry memandang jam raksasa dengan hati mencelos.
Sepuluh detik.
Sembilan detik.
Dia mendorong trolinya ke depan dengan hati-hati
sampai menempel ke palang dan mendorong sekuat tenaga.
Logam palang tetap kokoh.
Tiga detik.
Dua detik.
Satu detik.
Keretanya berangkat, kata Ron panik.
Keretanya sudah berangkat.
Bagaimana kalau Mom dan Dad tidak bisa menembus gerbang kembali ke kita?
Kau punya uang mugel.
Harry tertawa hambar.
Sudah kira-kira enam tahun ini keluarga Dursley tidak memberi keuang saku.
Ron menempelkan telinganya ke palang yang dingin.
Tidak kedengaran apa-apa, katanya Tedang.
Apa yang akan kita lakukan?
Aku tak tahu berapa lama lagi Mom dan Dad bisa kembali ke kita.
Mereka memandang berkeliling.
Orang-orang masih mengawasi mereka,
terutama gara-gara teriakan-teriakan Hedwig yang tak kunjung berhenti.
Ku rasa lebih baik kita menunggu di mobil, kata Harry.
Kita menarik terlalu banyak perhatian.
Harry, seru Ron, matanya berbinar.
Mobil?
Kenapa mobilnya?
Kita bisa menerbangkannya ke Hogwarts.
Tapi bukankah kita ketinggalan kereta betul
dan kita harus kesekolahkan
dan bahkan penyihir di bawah umur diizinkan menggunakan sihir
kalau keadaan benar-benar darurat
pasal sembilan belas atau entah berapa dalam pembatasan hal-hal.
Kepanikan Harry mendadak berubah menjadi kegairahan.
Kau bisa menerbangkannya.
Tidak masalah, kata Ron, memutar trolinya menghadap pintu keluar.
Ayo cepat.
Kalau bergegas, kita masih akan bisa mengikuti Hogwarts Express.
Mereka melewati kerumunan mugel-mugel yang ingin tahu.
Keluar dari stasiun dan kembali ke tepi jalan tempat Fort Anglia tua diparkir.
Ron membuka bagasinya yang luas dengan sederet ketukan tongkatnya.
Dengan sesah payah, mereka memasukkan kembali koper-koper mereka,
meletakkan Hedwig di tempat duduk belakang
dan duduk di tempat duduk depan.
Periksa apakah ada yang melihat, kata Ron.
Menghidupkan mesin dengan ketukan tongkatnya juga.
Harry menjulurkan kepala keluar jendela.
Jalan raya di depan cukup ramai, tetapi jalan tempat mereka berada kosong.
Oke, katanya.
Ron menekan tombol perak kecil di dasbor.
Mobil-mobil di sekitar mereka lenyap begitu saja.
Begitu juga mereka.
Harry bisa merasakan tempat duduknya bergetar,
mendengar deru mesinnya,
merasakan tangannya dilututnya dan kacamata yang bertenggar di hidungnya.
Tetapi rasanya dia sudah berubah menjadi sepasang bola mata saja,
melayang kira-kira semeter di atas tanah di jalan kumu
yang dipenuhi mobil-mobil yang parkir.
Kita berangkat, terdengar suara Ron dari sebelah kanannya.
Tanah dan bangunan-bangunan kotor di kanan-kiri mereka terjatuh
dan hilang dari pandangan ketika mobil mengangkasa.
Dalam beberapa detik saja,
seluruh London terhampar berkabut dan berkilau di bawah mereka.
Kemudian terdengar bunyi pop dan mobil.
Harry dan Ron kelihatan lagi.
Uh-oh, kata Ron, menekan-nekan bus tertidak tampak.
Rusak rupanya, keduanya memukul-mukul tombol itu.
Mobil kembali menghilang, kemudian muncul lagi.
Pegangan, teriak Ron, dan dia menekankan kakinya ke pijakan gas.
Mereka langsung melesat ke dalam awan-awan rendah seperti wall
dan segalanya berubah menjadi suram dan berkabut.
Sekarang bagaimana, tanya Harry,
menatap dinding awan tebal yang menekan mereka dari segala penjuru.
Ron, kita perlu melihat kereta apinya
agar bisa melihat ke arah mana kita harus pergi, kata Ron.
Turun lagi cepat.
Mereka turun lagi ke bawah awan-awan
dan menyipitkan mata memandang ke bawah.
Aku bisa melihatnya, Harry berteriak.
Itu dia, itu, di sana.
Hogwarts Express meluncur di bawah mereka seperti ular merah.
Ke utara, kata Ron, mengecek kompas di dasbor.
Oke, kita tinggal mengeceknya setengah jam sekali.
Pegangan, dan mereka melesat menembus awan.
Semenit kemudian, mereka muncul dalam cahaya terang matahari.
Sungguh dunia yang berbeda.
Roda-roda mobil meluncur di atas lautan awan-awan putih lembut.
Langit terhampar biru di bawah sinar matahari yang menyilaukan.
Yang tinggal kita cemaskan hanyalah pesawat, kata Ron.
Mereka saling pandang dan mulai tertawa.
Lama sekali tak bisa berhenti.
Rasanya mereka dijatuhkan ke dalam mimpi yang luar biasa indah.
Ini, pikir Harry, jelas satu-satunya cara bepergian.
Melewati pusaran dan gundukan awan-awan seperti salju
di dalam mobil yang disiram cahaya matahari.
Dengan bungkusan besar permen di dalam kompartemen.
Dan harapan melihat wajah Eerie, Fred, dan George
ketika mereka mendarat dengan mulus dan spektakuler
di lapangan rumput di depan kastil Hogwarts.
Secara teratur, mereka mengecek reta api
sementara mereka terbang makin lama makin jauh ke utara.
Setiap kali menuki ke bawah awan,
pemandangan yang mereka lihat berbeda.
London segera saja sudah jauh tertinggal di belakang.
Digantikan ladang-ladang hijau yang kemudian disusul tanah-tanah luas keungguan.
Desa-desa dengan rumah dan gereja yang tampak kecil-kecil seperti mainan.
Dan sebuah kota besar yang hidup dengan mobil-mobil berseliwaran
seperti semut-semut multiwarna.
Meskipun demikian, setelah beberapa jam tanpa kejadian apa-apa,
Harry harus mengakui bahwa sebagian keasikannya sudah pudar.
Permainnya telah membuat mereka sangat haus
dan mereka tak punya apa-apa untuk diminum.
Dia dan Ron sudah melepas rompi mereka.
Tetapi T-shirt Harry sudah menempel di tempat duduknya
dan kacamatanya bolak-balik merosot dari hidungnya yang berkeringat.
Dia sudah berhenti mengamati bentuk-bentuk awan yang fantastis sekarang
dan memikirkan kereta api yang berkilo-kilometer di bawah mereka.
Di dalam kereta, mereka bisa membeli jus labu kuning dingin
dari troli yang didorong penyihir wanita gemuk.
Kenapa mereka tidak bisa menembus palang menuju peron 9 3 per 4?
Pasti tidak jauh lagi kan?
Kata Ron, serak.
Berjam-jam kemudian, ketika matahari sudah mula terbenam dalam landasan awannya,
membuatnya merah jingga.
Siap mengecek kereta api lagi?
Kereta apinya masih di bawah mereka,
berkelok mengitari gunung yang puncaknya berselimut salju.
Di bawah kanopi awan, keadaan jauh lebih gelap.
Ron menginjak gas dan membawa mobil naik lagi.
Tetapi mendadak mesinnya mulai menderu aneh.
Harry dan Ron bertukar pandangan gugup.
Mungkin cuma lelah.
Soalnya belum pernah pergi sejauh ini.
Dan mereka berdua berpura-pura tidak memperhatikan deru aneh
yang semakin lama semakin keras.
Sementara langit secara pasti semakin gelap.
Bintang-bintang bermunculan dalam kegelapan.
Harry kembali memakai rompinya,
berusaha mengabaikan kipas kaca mobil yang sekarang bergerak-gerak lemah
seakan memprotes.
Tidak jauh lagi, kata Ron.
Lebih kepada mobilnya daripada kepada Harry.
Tidak jauh lagi sekarang.
Dan dia membelai dashboard dengan gugup.
Ketika mereka terbang kembali di bawah awan-awan tak lama kemudian,
mereka harus menyipitkan mata menembus kegelapan
untuk mencari tanda-tanda yang mereka kenal.
Itu dia!
Teriak Harry.
Membuat Ron dan Hedwig terlonjak kaget.
Di depan!
Seperti siluet di kaki langit yang gelap,
tinggi di atas karang di seberang danau,
tampaklah menara-menara Castile Hogwarts.
Tetapi mobil sudah mulai bergetar dan kecepatannya sudah berkurang.
Ayolah!
Kata Ron membujuk, menggoyang sedikit roda kemudi.
Sudah hampir sampai.
Ayolah!
Mesin mengeluh.
Semburan-semburan asap bermunculan dari bawah kap mobil.
Harry memegangi tepi tempat duduknya erat-erat ketika mereka terbang menuju danau.
Mobil berguncang keras.
Mengerling keluar lewat jendela,
Harry melihat permukaan air yang licin gelap berkilauan,
satu setengah kilometer di bawah mereka.
Buku-buku jari Ron memutih di atas roda kemudi.
Mobil berguncang lagi.
Ayolah!
Ron bergumam.
Mereka berada di atas danau.
Castile persis di depan mereka.
Ron menginjak pedal gas.
Terdengar bunyi debam keras, bunyi merepet, kemudian mesin mati total.
Uh-oh!
Kata Ron dalam kesunyian.
Hidung mobil merendah.
Mereka terjatuh.
Makin lama makin cepat menuju tembok Castile yang kokoh.
Tidak!
Jerit Ron.
Membanting setir 180 derajat.
Mereka lolos dari tembok hanya beberapa senti saja ketika mobil berbelok dalam lengkungan besar,
melesat di atas rumah-rumah kaca yang gelap.
Melewati kebun sayuran dan keluar ke halaman yang gelap.
Makin lama makin rendah.
Ron melepas roda kemudi sepenuhnya dan menarik tongkatnya dari saku belakang.
Stop!
Dia memekik.
Memukul-mukul dasbor dan kaca depan.
Tetapi mereka terus menukik.
Daratan serasa terbang menyongsong mereka.
Awas tembok itu!
Teriak Harry menyambat roda kemudi.
Tetapi terlambat.
Gubrak!
Bunyi metal menabrak kayu memekakkan telinga.
Ketika mobil menghantam batang pohon yang besar.
Asap mengepul dari atapnya yang penyot.
Hedwig menjerit-jerit ketakutan.
Benjolan sebesar bola golf berdenyut-denyut di kepala Harry yang tadi membentur kaca depan.
Dan di sebelah kanannya, Ron mengerah putus asa.
Kau tak apa-apa?
Tanya Harry cemas.
Tongkatku!
Kata Ron dengan suara bergemetar.
Lihat tongkatku!
Tongkatnya patah, hampir menjadi dua.
Ujungnya menderung lunglai hanya menempel pada seserpih kayu.
Harry membuka mulut untuk mengatakan dia yakin mereka akan bisa membetulkannya di sekolah.
Tetapi dia tak sempat bicara apa-apa.
Tepat pada saat itu, sesuatu menghantam mobil di sisi tempat Harry duduk.
Dengan kekuatan banting gila, Harry terlempar ke arah Ron.
Pada saat bersamaan, pukulan yang sama besarnya menghantam atap mobil.
Apa yang terjadi?
Ron ternganga kaget, terbelalak memandang lewat kaca depan.
Dan Harry berbalik tepat ketika dahan sebesar ular piton menghantam kaca itu.
Pohon yang mereka tabrak menyerang mereka.
Batangnya terbungkuk nyaris terlipat dua.
Dan dahan-dahannya yang berbonggol-bonggol memukul-mukul segala bagian mobil yang bisa dicapainya.
Ah!
Jeritron ketika dahan bengkok lain menghantam pintu mobilnya sampai melesak.
Kaca depan sekarang bergetar di bawah hujan pukulan ranting-ranting yang bentuknya seperti buku-buku tangan.
Dan dahan setebal alu memukul-mukul atap mobil yang kelihatannya sudah siap ambruk.
Lari!
Ron berteriak, melemparkan tubuhnya ke pintu.
Tetapi detik berikutnya, dia sudah dihantam mundur ke pangkuan Harry oleh dahan lagi.
Habis kita!
Rangnya ketika atap mobil melesak.
Tetapi mendadak lantai mobil bergetar.
Mesinnya hidup lagi.
Mundur!
Teriak Harry.
Dan mobil meluncur ke belakang.
Pohon itu masih mencoba memukuli mereka.
Mereka bisa mendengar akar-akarnya berkriut ketika si pohon nyaris mencabut dirinya sendiri dalam usahanya memukul mereka yang meluncur menjauh dari jangkauan.
Nyaris!
Sengalron.
Sajah!
Bagus sekali, Bill!
Tetapi si mobil telah kehabisan kesabaran.
Dengan dua bunyi berkelontang, pintu-pintu terbuka dan Harry merasa tempat duduknya terangkat miring,
lalu tahu-tahu dia sudah telentang di tanah basah.
Bunyi buk-buk haras memberitahu bahwa mobil sedang mengeluarkan koper-koper mereka dari bagasi.
Sangkar Hedwig melayang di udara dan jatuh terbuka.
Burung hantu betina itu terbang keluar dengan jeritan marah dan terbang menuju kastil tanpa menoleh ke belakang.
Kemudian mobil yang sudah melesak, penyok, tergores-gores, dan berasap ini meluncur ke dalam kegelapan.
Lampu belakangnya menyorot penuh kemarahan.
Kembali!
Teriak Ron, mengancungkan tongkatnya.
Dad akan membunuhku!
Tetapi mobil itu menghilang dari pandangan seiring dengan dengusan terakhir kenalpotnya.
Bisakah kau percayai nasib kita?
Rata prawn menasih, membungkuk untuk membungut skeber sitikus.
Dari begitu banyak pohan yang bisa kita tabrak, kita ternyata menabrak yang itu.
Dia mengerling lewat bahunya ke pohon tua itu yang masih melambai-lambaikan dahan-dahannya dengan penuh ancaman.
Ayo, kata Harry lelah, lebih baik kita ke sekolah.
Kedatangan mereka bukanlah kedatangan penuh kejayaan yang mereka bayangkan.
Dengan badan kaku, memar, dan kedinginan, mereka merayu ujung koper mereka dan mulai menyeretnya tersiok-siok
mendaki bukit berumput menuju pintu besar dari kayu ok.
Kurasa pestanya sudah mulai, kata Ron.
Menjatuhkan kopernya di kaki undakan dan diam-diam menyeberang untuk mengintip dari jendela yang terang-benderang.
Hey, Harry! Lihat! Sedang acara seleksi!
Harry bergegas mendekat dan berdua mereka mengintip ke dalam aula besar.
Lilin-lilin tak terbitur berterbangan di atas empat meja panjang,
membuat piring-piring dan piala emas di atasnya berkilauan.
Di atasnya, langit sihiran tampak persis dengan langit di luar,
dengan taburan bintang berkelap-kelip.
Menembus hutan topi kerucut hitam Hogwarts,
Harry melihat daretan panjang anak-anak kelas satu yang ketakutan memasuki aula.
Ginny berada di antara mereka, mudah ditemukan karena rambut Weasley-nya yang merah mencolok.
Sementara itu, Profesor McGonagall, penyihir wanita berkacamata dengan rambut digelung ketat,
meletakkan topi seleksi Hogwarts yang terkenal di atas bangku di depan para murid baru.
Setiap tahun, topi tua ini yang sudah bertambal, berjumbai dan kotor,
menyeleksi murid-murid baru ke dalam empat asrama Hogwarts,
Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw dan Slytherin.
Harry ingat betul bagaimana perasaannya ketika dia memakai topi itu,
tepat setahun yang lalu, dan dengan ketakutan menunggu keputusan si topi,
sementara topi itu bergumam keras ke dalam telinganya.
Selama beberapa detik mengerikan, dia takut topi itu akan memasukannya ke Slytherin,
asrama yang telah menghasilkan lebih banyak penyihir hitam dibanding ketiga asrama lainnya.
Tetapi ternyata dia terpilih masuk Gryffindor bersama Ron, Hermione dan anak-anak keluarga Weasley yang lain.
Semester yang lalu, Harry dan Ron telah membantu Gryffindor memenangkan piala asrama,
mengalahkan Slytherin untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir.
Seorang anak laki-laki kecil berambut kelabu seperti tikus dipanggil ke depan untuk meletakkan topi itu di kepalanya.
Mata Harry memandang melewati anak ini ke tempat Profesor Dumbledore, kepala sekolah,
yang duduk menonton seleksi ini dari meja guru, jenggot panjangnya yang keperakan
dan kacamata bulan separuhnya berkilauan tertimpa cahaya lilin.
Beberapa kursi dari Dumbledore, Harry melihat Gilderoy Lockhart memakai jubah berwarna hijau Tosca,
dan di ujung meja duduk Hagrid, besar dan berbulu, asyik minum dari pialanya.
Eh, Harry bergumam kepada Ron.
Ada kursi kosong di meja guru? Di mana Snape?
Profesor Snape adalah guru yang paling tidak disukai Harry.
Harry kebetulan juga murid yang paling tidak disukai Snape.
Snape yang kejam, sinis, dan tidak disukai oleh semua anak,
kecuali anak-anak dari asramanya sendiri, Slytherin, mengajar ramuan.
Mungkin dia sakit, kata Ron, penuh harap.
Mungkin dia keluar, kata Harry, karena tidak terpilih mengajar pertahanan terhadap ilmu hitam lagi.
Atau siapa tahu dia dikeluarkan, kata Ron penuh semangat.
Maksudnya, semua anak benci padanya.
Atau mungkin, kata suara sangat dingin tepat di belakang mereka,
dia sedang menunggu alasan kenapa kalian berdua tidak datang naik kereta api sekolah.
Harry berputar.
Di depannya, dengan jubah hitam beriak di tiup angin sepoi-sepoi, berdiri Severus Snape.
Snape bertubuh kurus, dengan kulit pucat, hidung bengkok, dan rabut berminyak sebahu.
Dan pada saat ini, dia sedang tersenyum sedemikian rupa, sehingga Harry tahu dia dan Ron dalam kesulitan besar.
Ikut saya, kata Snape.
Bahkan saling pandang pun mereka tak berani.
Harry dan Ron mengikuti Snape menaiki undakan memasuki aula depan yang bergema, yang dikelingi obor.
Aroma lezat masakan menguap dari aula besar.
Tetapi Snape membawa mereka menjauh dari kehangatan dan cahaya,
menuruni tangga batu sempit yang menuju ke bawah tanah.
Mereka melewati lorong yang gelap dan bingin.
Setelah setengah jalan menyusurinya, terdapat sebuah pintu.
Masuk, perintah Snape seraya menunjuk.
Mereka masuk ke kantor Snape, gemetar.
Dindingnya yang remang-remang dikelilingi rak penuh staples kaca besar.
Di dalam staples-staples itu mengapung berjenis-jenis benda menjijikan yang namanya tak ingin diketahui Harry saat ini.
Perapiannya gelap dan kosong.
Snape menutup pintu dan berbalik memandang mereka.
Jadi katanya pelan.
Kereta api tidak cukup baik untuk Harry Potter yang terkenal dan sahabat setianya Weasley.
Ingin datang dengan sambutan meriah begitu ya?
Tidak, Sir.
Penyebabnya palang rintangan di King's Cross.
Palang itu diam.
Bentak Snape dingin.
Kau apakan mobilnya?
Ron menelan udah.
Ini bukan pertama kalinya Snape memberi kesan bahwa dia bisa membaca pikiran.
Tetapi sesaat kemudian ketika Snape membuka Evening Prophet,
koran sihir sore terbitan hari itu,
dia pun mengerti.
Ada yang melihat kalian.
Dia mendesis, menunjukkan kepala beritanya.
Fort Anglia terbang membuat takjub Muggle.
Dia mulai membacanya keras-keras.
Dua Muggle di London yakin mereka melihat sebuah mobil tua terbang di atas menara kantor pos.
Pada siang hari di Norfolk,
nyonya Hattie Bayliss ketika sedang menjemur cucian.
Tuan Angus Fleet di Peebles melapor kepada polisi.
6 atau 7 Muggle totalnya.
Bukankah ayahmu bekerja di kantor penyalahgunaan barang-barang Muggle?
Katanya.
Menatap Ron dan tersenyum semakin menyebalkan.
Astaga, astaga.
Anaknya sendiri.
Harry merasa seakan perutnya baru saja dihantam salah satu dahan besar pohon gila itu.
Jika sampai ketahuan Tuan Weasley telah menyihir mobil itu,
dia tidak memikirkan ini sebelumnya.
Kuperhatikan sewaktu aku mencari di halaman
bahwa kerusakan cukup besar telah menimpa pohon dedalu perkasa yang sangat berharga.
Pohon itu merusak kami lebih banyak daripada kami.
Ron menyelah.
Diam.
Bentak snip lagi.
Sayang sekali kalian tidak di asram aku
dan keputusan untuk mengeluarkan kalian tidak ada padaku.
Aku akan memanggil orang-orang yang punya kekuasaan menyenangkan itu.
Kalian tunggu di sini.
Harry dan Ron saling berpandangan.
Wajah mereka pucat.
Harry tidak merasa lapar lagi.
Dia malah merasa sangat mual.
Dia berusaha tidak melihat sesuatu yang besar berlendir dalam cairan hijau dirak di belakang meja snip.
Kalau snip memanggil Profesor McGonagall,
Kepala Asrama Gryffindor,
nasib mereka tak akan lebih baik.
Dia mungkin lebih adil daripada snip,
tetapi disiplinnya ketat sekali.
Sepuluh menit kemudian, snip muncul kembali.
Dan benar saja, Profesor McGonagall lah yang menemaninya.
Harry sudah pernah melihat Profesor McGonagall marah dalam beberapa kesempatan.
Tetapi entah apakah dia sudah lupa betapa tipisnya bibir Profesor McGonagall kalau sedang marah,
atau Harry belum pernah melihatnya semarah ini.
Profesor McGonagall mengangkat tongkatnya begitu dia memasuki ruangan.
Harry dan Ron berjengit.
Tetapi dia cuma menunjukkan keperapian kosong,
yang apinya langsung menyala berkobar.
Duduk, katanya.
Dan mereka berdua mundur untuk duduk di kursi di dekat perapian.
Jelaskan, katanya.
Kacamatanya berkilat-kilat menyeramkan.
Ron langsung bercerita.
Mulai dengan palang rintangan di stasiun yang menolak mereka lewati.
Jadi, kami tak punya pilihan, Profesor.
Kami tidak bisa naik kereta api.
Kenapa kalian tidak mengirim surat lewat burung hantu?
Bukankah kau punya burung hantu?
Profesor McGonagall berkata dingin kepada Harry.
Harry mengangah.
Setelah Profesor McGonagall mengatakannya,
baru terfikir itulah yang seharusnya mereka lakukan.
Saya... saya tidak berfikir.
Jelas sekali kau memang tidak berfikir,
kata Profesor McGonagall.
Terdengar ketukan di pintu kantor dan Snape,
yang sekarang kelihatan lebih senang dari sebelumnya,
membukanya.
Di depan pintu berdiri kepala sekolah,
Profesor Dumbledore.
Seluruh tubuh Harry langsung kaku.
Dumbledore kelihatan muram, tidak seperti biasanya.
Dia menunduk memandang mereka lewat hidung bengkoknya,
dan Harry mendadak ingin sekali dirinya
dan Ron masih dipukuli oleh si dedalu perkasa.
Sunyi lama sekali.
Kemudian Dumbledore berkata,
tolong jelaskan kenapa kalian melakukan ini.
Akan lebih baik jika dia berteriak.
Harry membenci kekecewaan dalam suaranya.
Entah karena apa dia tidak sanggup menatap mata Dumbledore,
maka dia bicara kepada lututnya.
Dia menceritakan segalanya kepada Dumbledore,
kecuali bahwa Tuan Weasley lah pemilik mobil tersihir itu.
Dia menceritakannya sedemikian rupa,
sehingga seakan-akan dia dan Ron
kebetulan menemukan mobil terbang di parkir di luar stasiun.
Dia tahu Dumbledore akan segera tahu hal yang sebenarnya.
Tetapi Dumbledore tidak bertanya apa-apa soal mobil ini.
Ketika Harry sudah selesai bercerita,
Dumbledore hanya terus memandang mereka lewat kacamatanya.
Kami akan mengambil barang-barang kami,
kata Ron dengan suara putus asa.
Kau bicara apa, Weasley?
Bentak Profesor McGonagall.
Bukankah kami dikeluarkan?
Kata Ron.
Harry cepat-cepat memandang Dumbledore.
Tidak hari ini, Tuan Weasley, kata Dumbledore.
Tetapi aku harus menekankan kepada kalian berdua
betapa seriusnya tindakan kalian.
Aku akan menulis kepada keluarga kalian berdua malam ini.
Aku juga harus memperingatkan kalian
bahwa jika kalian melakukan hal seperti ini lagi,
aku tak akan punya pilihan selain mengeluarkan kalian.
Snape tampak kecewa sekali.
Dia berdeham dan berkata,
Profesor Dumbledore,
kedua anak ini telah melanggar dekret pembatasan masuk akal
bagi penyihir di bawah umur,
menyebabkan kerusakan serius pada pohon tua yang sangat berharga.
Tentunya kesalahan seperti ini,
Profesor McGonagalllah yang berhak menentukan hukuman
untuk anak-anak ini, Severus,
kata Dumbledore tenang.
Mereka anak asramanya,
dan karena itu menjadi tanggung jawabnya.
Dia berpaling kepada Profesor McGonagall.
Aku harus kembali ke Pesta Minerva.
Aku harus menyampaikan beberapa pengumuman.
Ayo, Severus, ada puding lezat yang ingin kucicipi.
Snape melempar pandangan sengit kepada Harry dan Ron
sebelum dia keluar dari kantornya,
meninggalkan mereka sendirian dengan Profesor McGonagall,
yang masih mengawasi mereka seperti elang murka.
Kau sebaiknya segera ke rumah sakit, Weasley.
Kau berdarah.
Tidak banyak, Prof,
kata Ron buru-buru menyekal luka di atas matanya dengan lengannya.
Profesor, saya ingin melihat adik saya diseleksi.
Juga.
Upacara seleksi sudah selesai,
kata Profesor McGonagall.
Adikmu masuk Gryffindor.
Oh, bagus, kata Ron.
Dan ngomong-ngomong soal Gryffindor,
Profesor McGonagall berkata tajam.
Tetapi Harry menyelah.
Profesor, sewaktu kami naik mobil itu sekolah belum dimulai.
Jadi, jadi Gryffindor belum punya angka yang bisa dikurangi.
Kan?
Katanya Seraya memandang Profesor McGonagall dengan cemas.
Profesor McGonagall memandangnya tajam,
tetapi Harry yakin dia nyaris tersenyum.
Paling tidak bibirnya kelihatan tidak setipis tadi.
Aku tidak akan mengurangi angka Gryffindor, katanya.
Dan hati Harry langsung jauh lebih rengan.
Tetapi kalian berdua akan mendapat detensi.
Itu lebih baik daripada yang diduga Harry.
Sedangkan soal Dumbledore yang akan menulis kepada keluarga Dursley,
itu bukan apa-apa.
Harry tahu betul,
mereka malah akan kecewa Dedalu Perkasa tidak mengajarnya sampai mati.
Profesor McGonagall mengangkat tongkatnya lagi
dan mengarahkannya ke meja Snape.
Sepiring besar sandwich,
dua piala perak dan seteko jus labu kuning dingin muncul seiring bunyi plup.
Kalian makan di sini dan kemudian langsung ke kamar, katanya.
Aku juga harus kembali ke pesta.
Setelah pintu tertutup di belakangnya,
Ron mengeluarkan siutan panjang namun pelan.
Kukira tadi tamatlah riwayat kita, katanya Siream Rice Sandwich.
Kukira juga begitu, kata Harry.
Juga mengambil sandwich.
Nasib kita sungguh tidak bisa dipercaya ya,
kata Ron dengan mulut penuh roti dan daging.
Fred dan George sudah menerbangkan mobil itu paling tidak lima atau enam kali
dan tak ada Muggle yang pernah melihat mereka.
Dia menelan dan menggigit sepotong besar sandwich lagi.
Kenapa kita tidak bisa melewati palang rintangan?
Harry mengangkat bahu.
Yang jelas, mulai sekarang kita harus hati-hati, katanya,
meneguk jus labunya dengan rasa syukur.
Sayang sekali kita tidak bisa ikut pesta.
Profesor McDonagall tak ingin kita pamer, kata Ron bijaksana.
Tak mau orang-orang berpikir ini ide bagus.
Datang dengan mobil terbang.
Setelah makan sandwich sebanyak mereka sanggup,
piringnya terus-terusan terisi kembali,
mereka bangkit dan meninggalkan kantor itu.
Berjalan melewati lorong yang sudah mereka kenal menuju ke Menara Gryffindor.
Kastil sudah sepi.
Rupanya pesta sudah usai.
Mereka melewati lukisan-lukisan yang berbisik-bisik
dan baju-baju zirah yang berkelontangan.
Mereka menaiki beberapa tangga sempit,
sampai akhirnya mereka tiba di lorong tempat pintu rahasia
untuk masuk ke Menara Gryffindor tersembunyi.
Di belakang lukisan cat minyak seorang nyonya amat gemuk
yang memakai gaun sutra merah pimpu.
Kata kunci, kata si nyonya gemuk ketika mereka mendekat.
Eh, kata Harry.
Mereka tidak tahu kata kunci di awal tahun ajaran baru ini
karena belum bertemu prefek Gryffindor.
Tapi bantuan muncul tak terduga.
Mereka mendengar langkah-langkah bergegas mendekati di belakang mereka
dan ketika menoleh, mereka melihat Hermione berlari mendatangi.
Di sini rupanya.
Di mana kalian?
Ada desas-desus sangat tidak masuk akal.
Adani bilang kalian berdua dikeluarkan karena menabrakan mobil terbang.
Kita tidak dikeluarkan, Harry menyakinkan.
Kau tidak bermaksud bilang kau benar-benar terbang ke sini,
kata Hermione, kedengaran segalak Profesor McGonagall.
Tidak perlu ceramah, kata rontak sabar,
dan beritahu kami kata kunci barunya.
Gelambir kalkun gelambir, kata Hermione tak sabar.
Tapi bukan itu pokok masalahnya.
Kata-katanya terputus,
karena lukisan sinyonya gemuk mengayun terbuka
dan mendadak terdengar gemuruh tepukan.
Rupanya seluruh penghuni asrama Gryffindor belum tidur.
Mereka berdesakan di ruang bundar rekreasi,
berdiri di atas meja miring dan kursi-kursi tangan empuk,
menunggu Harry dan Ron datang.
Lengan-lengan terjulur melalui lubang lukisan menarik Harry dan Ron masuk,
membiarkan Hermione memanjat sendiri sesudah mereka.
Brillian, seruli Jordan.
Ide kemilang, kedatangan yang luar biasa.
Naik mobil terbang menabrakan dedalu perkasa.
Orang-orang akan terus membicarakannya bertahun-tahun.
Hebat, kata seorang anak kelas lima yang belum pernah bicara dengan Harry.
Ada yang menepuk-nepuk punggungnya seakan dia baru saja memenangkan maraton.
Fred dan George berdesakan sampai ke depan kerumunan dan berkata bersamaan,
Kenapa kalian tidak memanggil kami kembali, eh?
Wajah Ron merah padam.
Dia nyinggir malu-malu,
tapi Harry bisa melihat satu orang yang sama sekali tidak kelihatan senang.
Persih tampak di atas kepala anak-anak kelas satu yang bergairah
dan dia kelihatannya mencoba maju cukup dekat untuk menyuruh mereka menyingkir.
Harry menyikut rusuk Ron dan mengangguk ke arah persih.
Ron langsung paham.
Harus naik? Sudah lelah, katanya.
Dan keduanya menyelip-nyelip ke arah pintu di seberang ruangan
yang menuju ke tangga spiral dan kamar-kamar tidur.
Malam Hermione?
Kata Harry kepada Hermione yang wajahnya sama cemberutnya seperti persih.
Mereka berhasil sampai di seberang ruangan.
Punggung mereka masih ditepuk-tepuk dan baru aman setelah tiba di tangga yang sepi.
Mereka bergegas naik dan akhirnya tiba di pintu kamar mereka yang lama
yang sekarang dipasangi tulisan berbunyi, kelas dua.
Mereka memasuki ruangan bundar yang sudah mereka kenal
dengan lima tempat tidur besar berkelambu-beludur merah
dan jendela-jendela yang tinggi dan sempit.
Koper-koper mereka sudah dibawa naik dan diletakkan di kaki tempat tidur masing-masing.
Ron tersenyum pada Harry dengan perasaan bersalah.
Aku tahu seharusnya tidak boleh menikmati sambutan atau apapun itu namanya,
tapi...
Pintu kamar mendadak terbuka dan masuklah ketiga anak laki-laki
kelas dua Gryffindor lainnya,
Semus Finnegan, Dean Thomas, dan Neville Longbottom.
Tak bisa dipercaya, Semus nyengir.
Cool, kata Dean.
Menakjubkan, kata Neville terpesona.
Harry tak tahan, dia ikut nyengir.
