Mundurnya  Gubernur BI

Mundurnya Gubernur BI

Mata Phena
Mata Phena
21 Tayangan video·27 Jul 2026

Tiada Guruh, Tiada Hujan, Tiba-tiba Pagar Itu Roboh
Begitulah. Dunia perbankan kita kaget bukan main Senin pagi itu
. Perry Warjiyo, nakhoda yang sudah tujuh tahun memegang kemudi di Jalan Thamrin, tiba-tiba memilih turun dari kapal
. Padahal, laut sedang tidak bersahabat. Gelombang rupiah sedang tinggi-tingginya, sampai menembus angka psikologis Rp 18.000 per dolar AS
.
Alasannya klasik: urusan pribadi
. Tapi, siapa yang percaya begitu saja? Di jagat moneter, "alasan pribadi" itu sering kali punya banyak tafsir. Ada yang bilang ini murni ingin istirahat. Namun, banyak pula yang membisikkan bahwa sang nakhoda sedang "dipaksa" merapat ke dermaga sebelum waktunya
.
Dua Penarik Dayung dalam Satu Perahu
Bayangkan Indonesia adalah sebuah perahu besar yang sedang berlayar menuju pulau impian bernama "Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen"
. Di perahu itu, ada dua penarik dayung utama. Yang satu namanya Otoritas Fiskal—pemerintah. Yang satu lagi Otoritas Moneter—Bank Indonesia.
Masalahnya, irama dayung mereka belakangan sering tidak senada
. Pemerintah, dengan semangat membara, ingin tancap gas. Ada proyek mercusuar, ada program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan ada target pertumbuhan tinggi yang haus modal
. Irama dayungnya: kencang, ekspansif, dan kalau bisa suku bunga rendah agar kredit mengalir deras
.
Tapi, Perry Warjiyo punya tugas lain dari undang-undang. Dia adalah penjaga stabilitas
. Ketika perahu bergoyang karena inflasi dan rupiah yang melemah, Perry menarik rem. Dia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75 persen
. Dia ingin menjaga agar cadangan devisa tidak habis dikuras ombak global
.
Di sinilah gesekan itu terjadi. Kebijakan suku bunga tinggi BI memang bagus untuk menjaga nilai tukar, tapi membuat biaya utang pemerintah jadi mahal
. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) ikut naik
. Pemerintah pun mulai merasa gerah. Dayung moneter dianggap menghambat laju dayung fiskal
.
Inilah yang oleh para ekonom disebut sebagai fiscal dominance atau dominasi fiskal
. Sebuah kondisi di mana nakhoda kapal besar ingin mengambil alih kemudi dari penjaga kompas
.
Lampu Menara yang Mulai Meredup
Bank Indonesia selama ini kita anggap sebagai benteng terakhir independensi
. Seharusnya, ia suci dari campur tangan politik. Tapi, mundurnya Perry secara mendadak mengirimkan sinyal yang mengkhawatirkan ke pasar global
. Analis asing mulai bertanya-tanya: apakah kemerdekaan BI kini tinggal kenangan?
Para pengamat melihat ada pola yang berulang. Seperti ritual, ketika ekonomi goyang, ada sosok yang dijadikan tumbal
. Perry dianggap gagal menjaga rupiah
. Padahal, pelemahan rupiah itu bukan cuma salah nakhoda BI. Ada badai global dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik Timur Tengah yang sulit dilawan sendirian
.
Namun, politik seringkali tidak butuh penjelasan rumit. Ia butuh hasil instan. Maka, "surat sakti" pengunduran diri itu pun muncul
. Independensi BI, yang dulu kita perjuangkan mati-matian setelah reformasi 1998, kini terasa seperti fosil hukum
. Patung Garudanya masih gagah, tapi cakarnya seolah telah dipotong oleh kepentingan jangka pendek
.
Destry Damayanti: Sang Pilot Pengganti
Kini, kursi panas itu diisi sementara oleh Destry Damayanti
. Dia bukan orang baru. Dia adalah deputi gubernur senior yang sudah paham betul seluk-beluk moneter
. Pasar sedikit tenang karena ada sosok yang dianggap mampu menjaga kesinambungan kebijakan
.
Destry ibarat co-pilot berpengalaman yang harus mengambil alih kokpit saat pilot utama tiba-tiba terjun payung
. Tugasnya berat: meyakinkan investor asing bahwa BI tetap independen dan tidak akan menjadi sekadar "pelacur fiskal" bagi kepentingan politik
.
Investor dunia tidak terlalu peduli siapa namanya, tapi mereka sangat peduli apakah lembaga ini masih punya "gigi" untuk berkata "tidak" kepada pemerintah jika hitungan teknokratisnya memang menuntut demikian
. Jika BI hanya menjadi kepanjangan tangan Istana, maka kredibilitas moneter kita akan mati
. Dan kalau kredibilitas itu wafat, rupiah bukan lagi sekadar melemah, tapi bisa sekarat
.
Tanya pada Angin Malam
Apa yang terjadi di Thamrin adalah cermin dari demokrasi ekonomi kita yang sedang diuji
. Apakah kita akan membiarkan lembaga penjaga rupiah ini dirubuhkan pagarnya demi syahwat pertumbuhan yang dipaksakan?
Mundurnya Perry Warjiyo mungkin dianggap efisiensi oleh sebagian elite, tapi bagi pasar, ini adalah alarm darurat
. Rupiah yang kini bertengger di angka Rp 18.000 adalah pengingat yang pahit
. Mata uang itu bukan sekadar kertas, ia adalah kedaulatan
. Di atasnya ada gambar pahlawan, yang seharusnya tidak kita khianati dengan cara menguras cadangan devisa demi pundi-pundi politik sesaat
.
Kita harus bangkit dan mempertanyakan: apakah kita ingin perahu besar Indonesia ini selamat sampai tujuan, atau kita hanya ingin menyenangkan pemilik kapal sementara isi lautnya dikuras habis?
Perry sudah mundur. Destry sudah naik
. Tapi, ketidakpastian masih menggantung tebal seperti kabut di Pelabuhan Tanjung Priok
.