Langkah Catur di Persimpangan Jalan: Membedah Aliansi Semu Xi Jinping dan Bayang-Bayang Runtuhnya PKT

Langkah Catur di Persimpangan Jalan: Membedah Aliansi Semu Xi Jinping dan Bayang-Bayang Runtuhnya PKT

epoch weekly
epoch weekly
20 Agu 2026

Langkah Catur di Persimpangan Jalan: Membedah Aliansi Semu Xi Jinping dan Bayang-Bayang Runtuhnya PKT
Di koridor-koridor kekuasaan Zhongnanhai yang tertutup, sebuah anomali politik baru saja terjadi. Xi Jinping, pemimpin tertinggi yang selama lebih dari satu dekade membangun citra sebagai pembasmi faksi lawan, tiba-tiba menggelar upacara peringatan dengan spesifikasi luar biasa tinggi untuk menghormati mendiang Jiang Zemin
. Manuver ini bukan sekadar penghormatan seremonial biasa, melainkan sebuah sinyal adanya gejolak besar di balik layar menjelang Kongres Nasional ke-21
.
Tiga Absurditas dalam Sanjungan Xi Jinping
Analis politik Tang Hao dari program "World’s Crossroads" mengidentifikasi adanya tiga poin kejanggalan atau "absurditas" dalam langkah Xi Jinping memuji Jiang Zemin secara berlebihan
. Pertama, Xi dan Jiang secara historis adalah musuh bebuyutan dalam perebutan kekuasaan
. Selama 14 tahun terakhir, kampanye anti-korupsi Xi secara sistematis menargetkan loyalis Jiang, yang dikenal sebagai "Geng Shanghai." Namun kini, Xi justru menyanjung Jiang dengan narasi yang bertolak belakang dengan tindakan politiknya selama ini
.
Kejanggalan kedua terletak pada kontradiksi narasi anti-korupsi itu sendiri. Meskipun Xi mengklaim telah membersihkan partai, ia secara mencolok tidak pernah menyentuh keluarga inti Jiang Zemin atau tokoh kunci seperti Zeng Qinghong
. Zeng Qinghong, yang sering dijuluki sebagai "Raja Korupsi Super," tetap berada di luar jangkauan hukum, yang memperkuat dugaan adanya transaksi politik atau kesepakatan rahasia demi memastikan stabilitas kekuasaan Xi hingga masa jabatan berikutnya
.
Ketiga, sanjungan ini muncul di saat PKT sedang menghadapi percepatan menuju apa yang disebut sebagai "kehancuran partai" (亡黨)
. Dengan memuji sosok yang dulunya merupakan simbol korupsi sistemik di mata publik, Xi justru dianggap sedang mempercepat erosi legitimasi moral partai di hadapan rakyatnya sendiri
.
Pudarnya Era Reformasi dan Munculnya Wang Qishan
Panggung politik di Beijing juga memperlihatkan drama mengenai siapa yang hadir dan siapa yang hilang. Mantan pemimpin Hu Jintao, yang secara dramatis "dikawal" keluar dari ruang Kongres ke-20 tahun lalu, kembali absen dalam acara peringatan Jiang Zemin
. Ketidakhadiran Hu mengonfirmasi isolasi politik total terhadap faksi teknokrat yang dulunya dominan. Sebaliknya, kemunculan kembali Wang Qishan, mantan tangan kanan Xi dalam gerakan anti-korupsi yang sempat meredup, memberikan indikasi bahwa Xi sedang mengumpulkan kembali sekutu-sekutu lamanya untuk menghadapi tekanan internal yang meningkat
.
Di sisi lain, kematian mantan Perdana Menteri Zhu Rongji baru-baru ini menandai berakhirnya secara resmi era "Reformasi dan Keterbukaan"
. Zhu, sosok yang dikenal sebagai arsitek ekonomi Tiongkok modern, dikabarkan menjalani masa tua dalam pengawasan ketat aparat keamanan, di mana setiap gerak-geriknya dipantau secara rahasia
. Upacara kremasinya yang dilakukan dengan skala terbatas dan minimalis mencerminkan betapa sedikitnya ruang yang tersisa bagi pemikiran moderat di bawah kepemimpinan Xi saat ini
.
Cengkeraman Paranoia dan Pengawasan Total
Ketidakstabilan internal PKT juga tercermin dari kebijakan yang semakin represif terhadap anggotanya sendiri. Muncul instruksi mendadak bagi seluruh pensiunan pegawai negeri untuk melaporkan kepemilikan paspor mereka secara detail, termasuk riwayat perjalanan luar negeri sejak tahun 2019
. Mereka diperintahkan untuk melaporkan jenis paspor, tanggal penerbitan, hingga masa berlaku, dengan ancaman verifikasi silang oleh departemen terkait jika ada informasi yang disembunyikan
. Hal ini menunjukkan tingkat paranoia yang tinggi dari otoritas pusat terhadap potensi eksodus pejabat dan modal ke luar negeri.
Krisis Ekonomi dan Genderang Perang di Taiwan
Narasi mengenai kekuatan Tiongkok kini dibayangi oleh realitas ekonomi yang suram. Runtuhnya sektor real estat Tiongkok tidak hanya menghancurkan perusahaan besar, tetapi juga mengancam mata pencaharian puluhan juta orang di seluruh rantai industri
. Di tengah kegagalan ekonomi domestik ini, Xi Jinping tampaknya semakin mengalihkan perhatian pada isu kedaulatan.
Para ahli dari Amerika Serikat memperingatkan bahwa kemungkinan Xi Jinping melakukan invasi militer terhadap Taiwan pada Agustus tahun depan kini berada pada level yang sangat tinggi
. Berdasarkan 13 indikator peringatan konflik, 11 di antaranya kini telah menyala "merah," yang menandakan persiapan militer dan retorika politik telah mencapai titik kritis
. Prediksi lain menyebutkan bahwa tahun 2028 bisa menjadi tahun di mana PKT akan mencoba memaksakan penyatuan Taiwan melalui kekuatan militer
.
Kesimpulan: Percepatan Menuju Titik Nadir
Sanjungan Xi Jinping terhadap mendiang Jiang Zemin pada akhirnya dilihat bukan sebagai tanda perdamaian, melainkan sebagai manuver politik yang dingin untuk menutupi keretakan internal yang dalam
. Dengan ekonomi yang melambat, pengawasan terhadap elit yang semakin ketat, dan ancaman konfl