
Mencius Mandat dari Langit
Pewaris Mandat Langit dari Negeri Lu
Judul Buku: The Works of Mencius (Versi James Legge)
Penulis: Mencius (Mengzi)
Penerjemah/Editor: James Legge (dengan catatan Arthur Waley, 1960)
Penerbit: Hong Kong University Press
Tebal: 514 Halaman (Termasuk Prolegomena)
DI ANTARA hiruk-pikuk Zaman Negara-Negara Berperang di Tiongkok kuno, muncul seorang pemikir yang gagasan-gagasannya melampaui zamannya. Mencius, atau Mengzi, tidak hanya dikenal sebagai "Orang Suci Kedua" setelah Konfusius, tetapi juga sebagai intelektual yang berani meletakkan rakyat di atas takhta kekuasaan
. Buku The Works of Mencius dalam edisi klasik James Legge ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan manifesto tentang kebaikan fitrah manusia dan kedaulatan moral
.
Edisi tahun 1960 ini menjadi istimewa dengan kehadiran catatan kritis dari Arthur Waley. Waley, dengan ketajaman sinolog modern, tak segan menunjukkan lubang-lubang dalam terjemahan Legge yang dianggap terlalu kaku dan terkadang terjebak dalam interpretasi moralistik abad ke-19
. Namun, terlepas dari perdebatan teknis tersebut, pesona Mencius tetap tak luntur.
Narasi buku ini dibuka dengan fragmen kehidupan Mencius yang legendaris—terutama pengaruh ibundanya yang rela pindah rumah tiga kali demi memastikan sang anak tumbuh di lingkungan pendidikan yang tepat
. Kedisiplinan sang ibu menjadi fondasi bagi keyakinan fundamental Mencius: bahwa manusia pada dasarnya adalah baik
.
Mencius menggunakan analogi yang puitis namun logis. Baginya, sifat baik manusia laksana air yang secara alami mengalir ke bawah; jika manusia berbuat jahat, itu hanyalah karena paksaan keadaan, seperti air yang dipukul hingga memercik ke atas
. Ia merumuskan empat benih kebajikan dalam diri setiap orang: kemanusiaan (benevolence), kebenaran (righteousness), kesantunan (propriety), dan kebijaksanaan (knowledge)
.
Namun, bagian yang paling "berbahaya" bagi para penguasa di zamannya adalah pemikiran politik Mencius. Dalam sebuah dialog yang tajam, ia menegaskan bahwa rakyat adalah elemen terpenting dalam suatu negara, disusul oleh roh tanah dan gandum, sementara penguasa adalah yang paling tidak berarti
. Ia bahkan menghalalkan penggulingan seorang raja jika sang raja telah berubah menjadi tirani yang menindas rakyatnya. Baginya, membunuh seorang diktator bukanlah membunuh raja, melainkan menghukum seorang "penjahat"
.
Mencius juga berdiri sebagai benteng intelektual melawan dua kutub ekstrem zamannya: egoisme radikal Yang Chu yang berprinsip "setiap orang untuk dirinya sendiri", dan altruisme tanpa batas Mo Ti yang mengajarkan "cinta universal"
. Mencius mengkritik keduanya sebagai paham yang "meniadakan ayah dan raja", yang ia anggap akan membawa masyarakat ke tingkat binatang
.
Membaca kembali risalah ini dalam balutan anotasi modern memberikan perspektif segar tentang bagaimana etika timur dibangun. Meskipun dikritik memiliki "kekerasan hati" tertentu dalam gaya berdebatnya, Mencius tetaplah sosok profetik yang mengingatkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menjaga "hati anak-anak"—kemurnian nurani yang tidak tergerus oleh ambisi kekuasaan
.
Bagi peminat filsafat, buku ini adalah kompas spiritual. Ia menantang kita untuk percaya kembali pada potensi kebaikan dalam diri sendiri di tengah dunia yang sering kali terasa gelap dan korup
. Mencius bukan sekadar profesor di ruang kelas; ia adalah pembedah jiwa yang percaya bahwa kebahagiaan sejati bermula dari kemauan untuk "menemukan kembali hati yang hilang"
