
Krisi Fiskan Indonesia ?
Lampu Kuning di Meja Makan
Saya baru saja menyimak diskusi seru. Isinya agak pahit, tapi perlu. Tentang negeri kita yang katanya sedang menuju kebangkrutan. Istilahnya seram: krisis fiskal.
Ibarat sebuah rumah tangga, kantong kita ini makin tipis, tapi gaya hidup makin selangit. Bayangkan, penerimaan pajak kita sekarang sudah di bawah 10 persen, bahkan kurang dari 9 persen
. Padahal, untuk membayar bunga utang saja, kita harus menyisihkan lebih dari 20 persen isi dompet APBN
. Ini seperti orang yang gajinya habis hanya untuk membayar cicilan kartu kredit, sementara untuk makan sehari-hari harus menggesek kartu baru lagi.
Ekonom Anthony Budiawan tidak basa-basi. Beliau menyebut mantan Presiden Jokowi sebagai "master" yang merusak tatanan
. Kebijakan seperti UU Cipta Kerja dan proyek IKN dianggap sebagai proyek mercusuar yang memakan biaya raksasa, tapi manfaat ekonominya masih gelap
. IKN itu ibarat membangun istana di tengah hutan saat atap rumah kita yang lama sedang bocor di mana-mana.
Ada juga cerita soal "titipan" masa depan. Anthony mencurigai ada desain matang di balik regulasi yang seolah dipaksakan, termasuk soal usia dan posisi Gibran
. Negara ini seperti sedang dikelola dengan prinsip "negara adalah saya", mirip perilaku penjajah yang membeli dukungan elit politik demi melanggengkan kekuasaan
.
Lalu, bagaimana dengan Pak Prabowo? Beliau membawa menu baru: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih
. Kedengarannya mulia. Tapi di mata Anthony, ini bukan resep untuk membesarkan "kue" ekonomi kita
.
MBG itu dianggap hanya redistribusi konsumsi, bukan produksi
. Ibarat kita memindahkan nasi dari piring si kakak ke piring si adik. Perut memang kenyang sebentar, tapi dapur tidak bertambah produktif. Jika fiskal tidak naik, maka tidak ada tambahan nyata bagi ekonomi kita
. Kita hanya berputar-putar di tempat.
Sobat Mata Pena, coba lirik tetangga kita, Vietnam. Sepuluh tahun lalu, ekspor mereka masih jauh di bawah kita
. Sekarang? Mereka sudah melesat 167 persen di atas kita
. Mereka sibuk membangun pabrik chip dan manufaktur, sementara kita sibuk mengeruk perut bumi
. Kita terkena "kutukan sumber daya alam"—terlalu enak menjual batu bara dan nikel sampai lupa membangun industri yang punya nilai tambah
.
Akibatnya fatal: deindustrialisasi dini
. Anak muda kita tidak terserap di pabrik, tapi lari ke sektor informal yang tidak pasti
. Rupiah kita pun terus megap-megap, menyentuh angka psikologis yang mencemaskan karena fundamental ekonomi yang rapuh
.
Negara itu tidak runtuh karena kekurangan uang. Negara runtuh ketika kekuasaan kehilangan rasa malu, kebijakan kehilangan keadilan, dan rakyat kehilangan harapan
. Kritik itu bukan racun. Kritik itu adalah rem agar kendaraan kita tidak terjun bebas ke jurang
.
Kita tidak boleh menunggu sampai benar-benar bangkrut baru mau berbenah. Lampu kuning sudah menyala di dasbor ekonomi kita. Pertanyaannya: apakah sang sopir mau menginjak rem, atau malah makin tancap gas menuju dinding beton?
Catatan: Tulisan ini disusun berdasarkan analisis kritis yang disampaikan dalam sumber video tersebut. Informasi mengenai kondisi ekonomi dan pandangan politik sepenuhnya merujuk pada argumen Anthony Budiawan dalam diskusi tersebut.

