Tokoh Pro-Demokrasi Joshua Wong Dihukum 10 Tahun Lagi, Gelombang Kecaman Meluas

NTD Indonesia
804 pengikut
Joshua Wong, tokoh pro-demokrasi Hong Kong, divonis 10 tahun penjara tambahan hingga 2036 atas tuduhan UU Keamanan Nasional. Keputusan ini memicu kecaman keras dari AS, Taiwan, dan organisasi HAM internasional.
Baca artikel selengkapnya di: https://ntdindonesia.com/
NTD Indonesia di Ganjing World ☛ https://www.ganjingworld.com/s/NK2eJa2ngq
NTD Indonesia di Facebook ☛ https://facebook.com/ntdindonesia/ NTD Indonesia di Instagram ☛ https://www.instagram.com/ntdindonesian/
NTD Indonesia di Threads ☛ https://www.threads.com/ntdindonesian/
NTD Indonesia di X ☛ https://www.X.com/ntdindonesian/
#joshuawong #prodemokrasi #aktivishongkong #nathanlaw #demokrasihongkong #marcorubio #umbrellamovement #uukeamanannasional #partaikomunischina
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Kemarahan meluas dari Washington hingga Taipei.
Sebuah pengadilan Hong Kong memutuskan menahan
aktivis pro-demokrasi Joshua Wong satu dekade lagi.
AS, Taiwan, dan sejumlah organisasi HAM
terkemuka mengecam keputusan tersebut.
Joshua Wong adalah tokoh utama gerakan pro-demokrasi di Hong Kong.
Seorang hakim Hong Kong menjatuhkan hukuman 10
tahun kepada aktivis berusia 30 tahun tersebut
berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional yang
dipaksakan Beijing pada kota tersebut tahun 2020.
Tuduhan terhadapnya adalah mendesak pemerintah
asing menjatuhkan sanksi pada Beijing dan Hong Kong
terkait berkurangnya kebebasan di Hong Kong.
Wong telah menjalani hukuman atas tuduhan terkait keterlibatannya dalam
demokrasi dan partisipasinya dalam pemilu pendahuluan pro-demokrasi.
Setelah hampir enam tahun di penjara,
Wong seharusnya dibebaskan Januari ini,
namun kini ia diperkirakan tidak akan dibebaskan hingga akhir 2036.
Konsulat AS di Hong Kong menyatakan mereka dengan tegas
mengecam vonis tersebut dan menyerukan pembebasan segera Wong.
Seorang jubir berkata Beijing telah menggunakan segala cara
untuk membungkam mereka yang memperjuangkan kebebasan dasar.
Badan kebijakan China teratas Taiwan menuduh Beijing dan otoritas
Hong Kong menggunakan alat-alat otoriter untuk memalsukan
tuduhan dan melakukan penganiayaan politik tanpa henti.
Human Rights Watch menyebut fonis tersebut kejam dan tidak adil.
Direktur Asia Elaine Pearson berkata,
kaum muda yang mendorong perubahan adalah aset bagi masyarakat manapun,
namun Hong Kong justru memenjarakan mereka.
Amnesty International menyebut kasus ini sebagai
pengingat suram bahwa Undang-Undang Keamanan Nasional
telah menjadi alat untuk menghukum perbedaan pendapat.
Wong pertama kali menonjol sebagai pemimpin
remaja dalam gerakan payung Hong Kong tahun 2014.
Pada November 2016, Wong mengunjungi Washington DC, bertemu dengan
para anggota parlemen termasuk Senator Marco Rubio saat itu.
Rubio menyebut Wong sebagai pemuda yang mengesankan dan bijaksana.
