Tatanén di Balé Atikan adalah sebuah gerakan pendidikan karakter yang bertujuan menumbuhkan kesadaran hidup ekologis dalam merawat dan belajar dari alam. Program ini mengintegrasikan pembelajaran berbasis Pancaniti dan pengelolaan pertanian berprinsip permakultur, sehingga peserta didik dapat berkembang sesuai kodrat diri, alam, dan zamannya.
Secara etimologis, "Tatanén di Balé Atikan" berasal dari bahasa Sunda: "tatanén" berarti bertani atau bercocok tanam, "balé" berarti aula atau tempat yang luas, dan "atikan" berarti pendidikan. Dengan demikian, program ini memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai tempat belajar yang mengedepankan praktik bertani dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. SDN 1 Sindang Kasih Purwakarta
Implementasi program ini melibatkan seluruh warga sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan di Kabupaten Purwakarta, dengan menekankan empat aspek utama: olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Melalui pendekatan ini, diharapkan kesadaran untuk menjaga, memelihara, dan memperbaiki kelestarian serta keasrian lingkungan hidup dapat ditingkatkan.
Sampah,
polusi,
suhu udara yang semakin meningkat.
Tanda bumi kita yang sedang sakit.
Fakta ini tentu mengancam kualitas kehidupan manusia.
Peradaban manusia saat ini dihadapkan pada krisis nilai yang tergambar pada jurang kesenjangan ekologi,
kesenjangan sosial,
dan kesenjangan spiritual.
Hal ini merupakan indikasi bahwa pendidikan belum membentuk fondasi yang kuat untuk menciptakan manusia berkualitas.
Tujuan keempat dari Sustainable Development Goals atau Perjanjian Pembangunan Berkelanjutan,
yaitu mewujudkan pendidikan berkualitas.
Di berbagai negara, upaya untuk melakukan proses transformasi pendidikan dilakukan dengan berbagai macam cara.
Pendidikan bukan lagi hanya sekedar pembelajaran di dalam kelas,
melainkan menjadi ruang untuk menghubungkan kembali manusia dengan alam, lingkungan sosial, dan Tuhan.
Pendidikan harus menumbuhkan pemahaman literasi global,
pembelajaran sepanjang hayat,
dan pemahaman tentang isu sosial serta lingkungan.
Ada ansaman besar yang dialami oleh umat manusia di manapun berada,
baik itu di Purwakarta, di Jawa Barat, di Indonesia, atau di belahan bumi manapun.
Krisis lingkungan ini terjadi baik pada tanah yang kita diami selama ini,
air yang kita konsumsi, udara yang kita hirup,
ataupun lingkungan alam tempat kita hidup selama ini.
Di tengah isu lingkungan yang semakin tak pasti,
pendidikan yang berkualitas memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kesadaran lingkungan,
sosial, dan spiritual melalui sistem kurikulum yang diterapkan.
Potensi permasalahan lingkungan dalam skala yang lebih kecil kita bisa saksikan di dalam lingkungan hidup kita,
di sekitar kita, di rumah kita, mungkin di halaman rumah kita sendiri.
Permasalahan yang terjadi berkaitan dengan permasalahan sampah,
permasalahan yang berkaitan dengan semakin tidak terkelolahnya lahan-lahan produktif di sekitar kita,
dan juga praktek-praktek pertanian yang hari ini justru menimbulkan berbagai macam kerusakan ekologi tanah
dan mendegradasi kualitas tanah di hampir seluruh lahan-lahan produktif pertanian yang ada di sekitar kita saat ini.
Kurikulum Merdeka menjadi ruang transformasi pendidikan di Kabupaten Purwokarta.
Melalui kurikulum ini, pembelajaran diorientasikan pada pengembangan pengetahuan,
sikap dan keterampilan peserta didik yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Sekolah-sekolah di Kabupaten Purwokarta terus didorong menjadi ekosistem
yang memberikan ruang tumbuh kembang peserta didik sesuai dengan kodrat diri, kodrat alam, dan kodrat zamannya.
Melalui pengembangan sistem berpikir pancan ini, pembelajaran dalam kurikulum Merdeka di Purwokarta
diharapkan melahirkan peserta didik yang mampu berpikir kritis, kreatif,
mampu berkomunikasi dengan baik, bisa berkolaborasi, serta mampu melakukan pemecahan masalah.
Kurikulum Merdeka menjadi langkah strategis di Kabupaten Purwokarta
dalam menguatkan karakter peserta didik yang memahami konsep diri,
mempunyai kepedulian lingkungan, serta tanggung jawab sosial.
Melalui kurikulum ini, peserta didik belajar untuk menghargai alam,
memahami dampak tindakan manusia terhadap lingkungan,
dan mengambil tindakan positif untuk melindungi planet ini.
Kita bertekad melakukan transformasi pendidikan agar anak-anak kita bisa memahami siapa dirinya,
memahami di mana ia tinggal dengan siapa, dan memahami lingkungan yang mereka tempatin.
Isu lingkungan telah menjadi perhatian serius dinas pendidikan Kabupaten Purwokarta sejak lama,
sebelum kurikulum Merdeka diterapkan.
Program Tetanen di Balai Atikan hadir sebagai respon dari kemelut masalah lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.
Program ini mempunyai falsafah dan misi yang sama tentang peserta didik dan pembelajaran dengan kurikulum Merdeka.
Kita menerjemahkan semua upaya kita itu melalui kurikulum muatan lokal Tetanen di Balai Atikan.
Kita tumbuhkan kesadaran lingkungan mereka dengan mereka mengenali lingkungan yang mereka diami,
mengenali teman-teman mereka melalui sebuah desain pembelajaran dengan pengembangan sistem berpikir
yang kita sebut dengan sistem berpikir pansaniti, yakni nitih harti, nitih surti, nitih bukti, nitih bakti, dan nitih sajati.
Sistem berpikir ini kita kembangkan dalam transformasi pendidikan di Kabupaten Purwokarta,
sehingga anak-anak di Kabupaten Purwokarta nanti akan menjadi anak-anak yang mempunyai karakter yang kuat,
sesuai dengan apa yang kita sebut profil pelajar pansasila.
Sekolah-sekolah melalui gerakan Tetanen di Balai Atikan bertransformasi menjadi sekolah yang lebih ramah lingkungan,
menjadi sekolah yang lebih hijau, lahan-lahan marginal, lahan-lahan tepian, lahan-lahan yang selama ini tidak produktif,
lahan-lahan yang selama ini tidak dikembangkan menjadi sebuah kawasan yang asli dan hijau berumah, menjadi kawasan-kawasan yang lebih produktif.
Program Tetanen di Balai Atikan merupakan program yang diharmonisasi dengan implementasi kurikulum Merdeka
yang menjadikan lingkungan sekitar sebagai media dan bahan ajar.
Kesadaran ekologi dalam Tetanen di Balai Atikan merupakan komitmen bersama seluruh insan pendidikan di Kabupaten Purwokarta
dalam menjaga dan merawat bumi kita.
Bagian dari transformasi pendidikan di Kabupaten Purwokarta yang berpegang teguh pada Falsafah Kihajar Dewantara
sebagai upaya menumbuhkan kesadaran ekologi, kesadaran sosial, dan kesadaran spiritual
yang diimplementasikan pada kegiatan intrakurikuler, proyek penguatan profil pelajar Pancasila, dan kegiatan ekstrakurikuler.
Representasi profil pelajar Pancasila melalui gerakan Tetanen di Balai Atikan adalah hadirnya peserta didik
yang memuliakan keberadaan semua makhluk hidup di muka bumi untuk harmoni kehidupan, harmoni seisi bumi.