EksklusifPelajaran Persahabatan dari si Elang [🌙 BulanSudahTertidur] #GanjingCampus #小書包

TAS KECIL Siao Shu Bao Indonesia
203 pengikut
Khan dan elang setianya akan memberikan pelajaran berharga ke adik-adik! Pelajaran apa ya yang didapat raja setelah ia salah paham dengan sobat terbaiknya itu? Yuk kita simak!
Siau Shu Bao: Cerita kami bukan sekadar cerita, tetapi mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar, menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli.
Yuk, ajak anak bertumbuh melalui cerita!
#taskecil #ceritapengantartidur #ganjingcampus #ganjingkids #indonesiaku #elang #balasbudi #salahpaham
Halo adik-adik, bertemu lagi kita di Tas Kecil.
Tapi janji ya, setelah selesai cerita ini, kalian bobo ya.
Pada zaman dahulu kala, ada seorang kan yang anggung.
Ia mendirikan kekaisaran Mongolia yang kuat di padang rumput.
Wilayah kekaisaran sangatlah luas, bagaikan lautan.
Seberapa luasnya kah?
Yuk kita bayangkan ya adik-adik.
Coba adik-adik berkuda dengan kuda yang tercepat sekalipun.
Menyusuri dari ujung timur ke ujung barat.
Satu tahun baru sampai ke ujung wilayah.
Kan si pemberani ini sangat gemar berburu.
Pernah di saat berburu, ia menyelamatkan seekor anak elang.
Lalu dia urus sendiri anak elangnya.
Setelah elang kecil tumbuh dewasa, selalu menyertaikan saat pergi berburu.
Tubuh elang ini kuat dan tegap.
Sorotan matanya sangat tajam.
Saat elang berdiri dilengankan, sungguh nampak elegan juga tenang.
Begitu raja mengeluarkan perintah,
dengan cepat ia mengepakan sayapnya yang kuat.
Berteriak sambil terbang ke udara.
Begitu bertemu mangsa,
ia menukik bagikan anak panah yang lepas
dan menangkap mangsanya secepat kilat.
Tidak hanya demikian.
Ketika ikut tentara berperang,
ia di paling depan terbang tinggi di langit lepas
menunjukkan arah musuh kepada raja dan pasukannya.
Ia adalah teman seperjuangan raja yang terbaik.
Oleh karenanya ia menjadi kesayangan raja.
Pada suatu hari, raja keluar istana ingin berburu.
Selain pengawal, raja membawa serta elang kesayangannya.
Sepanjang pagi hari,
tidak ada yang luput dari mata tajam seekor elang.
Ia menuntun raja dan hasil tangkapannya sangat banyak.
Hari itu raja merasa sangat puas.
Ia menyuruh pengawal pulang membawa hasil tangkapan
dan ia lanjut berburu bersama elang kesayangan.
Hingga siang hari,
matahari semakin tinggi,
panas semakin menyengat.
Di langit biru tidak nampak angan gelap.
Cuaca siang itu sangat panas,
peluh membasahi sekujur tubuh raja.
Ia membuka kantong yang berisi air minum.
Karena haus, raja langsung menenggak isinya.
Dan glak, air dalam kantong tinggal sedikit
dan raja masih haus.
Wah, cepat sekali air dalam kantong sudah habis.
Raja yang kehausan berkata dalam hati.
Hmm, saya harus mencari air minum lagi.
Namun musim kemarau berlangsung sudah beberapa bulan.
Membuat air di sungai-sungai kering,
raja tidak menemui air.
Lalu raja berpikir sesaat.
Dia pergi ke samping tebing gunung mencari air.
Akhirnya ditemukan ada air.
Tapi setetes-setetes air menetes dari bebatuan.
Dalam hatinya raja kontan merasa sangat girang.
Ah, bagus sekali.
Akhirnya kutemukan juga air.
Dengan cepat raja mengambil kantong airnya
dan mulai mengisi.
Tetapi air menetes sangat lambat.
Raja sabar menanti meski haus.
Di tengah teriknya matahari, raja menanti dengan sabar.
Beberapa saat kemudian,
akhirnya air sudah terkumpul sedikit.
Raja mengambil kantong kulit tak sabar langsung diminum.
Tepat ketika kantong air menempel di bibir,
plak, kantong air raja dijatuhkan si elang.
Kontan air dalam kantong tumpah habis.
Oh, ada apa ini?
Kenapa begini?
Raja tertegun tidak mengerti hal yang baru saja terjadi.
Lalu ia melihat ke atas.
Ya, elang telah menjatuhkan kantong yang sedang ia pegang.
Sejenak elang dan raja saling bertatapan.
Lalu ia terbang berputar-putar di atas tebing beberapa kali.
Baru berhenti di batu besar di atas gunung samping mata air.
Rasa kesal dan bingung dalam hatikan.
Ada apa gerangan dengan elang ini?
Rasa haus membuat raja tidak berpikir lebih jauh.
Ia memungut kantong airnya, menampung kembali air tetesan.
Kali ini dia hanya menampung sedikit saja.
Cepat-cepat mau diminum.
Tapi elang kembali menyerang raja.
Kali ini raja sudah siap siaga.
Ia menjulurkan lengan, mengisyaratkan elang
agar patuh berdiri di atas lengannya.
Namun kali ini sikap elang tidak seperti biasanya.
Ia tidak mau menuruti perintah raja.
Tidak seperti biasanya, terbang ke atas mundak raja,
berdiri dengan elegan dan tenang.
Elang malah menabrak kantong raja dan menumpahkan semua isi.
Lagi-lagi ia berputar beberapa kali di sekitar tebing
dan berhenti lagi di atas batu besar samping mata air.
Kali ini raja benar-benar marah.
Dengan kesal ia memungut kantong air
sambil berteriak marah kepada elang.
Baiklah kau sungguh keterlaluan hari ini.
Sekali lagi berani menghalangi ku minum,
aku pasti memberimu sedikit pelajaran.
Kan memungut kantong airnya sambil menangkup air,
sambil matanya tak lepas menatap elang di atas tebing.
Ketika air berhasil tertampung sedikit dan ingin diminum,
benar saja secepat kilat elang menyerang raja lagi.
Raja mengayunkan pedang di tangannya.
Tepat di saat itu elang menabrak jatuh kantong air sekali lagi.
Bersamaan pedang raja pun mendarat di tubuh elang.
Dan ruk, elang roboh ke tanah.
Kan berteriak penuh emosi, berkata dengan kesal sekali.
Ini semua salahmu sendiri.
Raja yang murka itu menemukan kantong kulitnya
sudah jatuh ke sela-sela bebatuan.
Tidak dapat ditemukan, apa boleh buat?
Meski kesal raja memutuskan mendaki ke atas gunung mencari sumber air.
Setelah mendaki cukup lama, kan berhasil mencapai puncak gunung.
Sambil terengah-engah dan raja menemukan sesuatu
yang membuatnya terkejut bukan kepalang.
Di tengah-tengah sumber air di puncak gunung,
terlihatlah bangkai seekor ular berbisa raksasa yang telah lama mati.
Hingga cairan racun ular yang kental
sudah masuk dan bercampur dengan air yang jernih.
Kan langsung mengerti.
Elang berjuang keras ingin menyelamatkannya
agar tidak meminum air yang sudah tercampur dengan racun
hingga tasegan menabrak kantong air berkali-kali.
Ya Tuhan, apa yang telah saya perbuat?
Dengan penuh penyesalan, raja turun gunung.
Ia menemukan elang penolongnya terbareng lemah.
Oh maafkanlah saya, tidak seharusnya saya begitu marah
hingga telah melukai-Mu dalam kemarahanku.
Oh Tuhan, saya mohon lindungilah elangku.
Raja mengangkat tubuh elang yang terluka
memacu kuda secepat mungkin kembali ke istana.
Beruntung elang berangsur-angsur sembuh
karena sudah dirawat oleh raja dengan sangat cermat.
Raja tidak melupakan pelajaran dari pengalaman ini.
Kan tidak lagi mudah marah.
Terlebih-lebih tidak mengambil keputusan dengan mudah di saat marah.
Oleh karenanya, raja dapat membuat keputusan yang bijaksana.
Kekaisarannya semakin kokoh dan kuat.
Nah adik-adik, ceritakan dan elangnya sudah selesai ya.
Burung elang di istana kini sudah tidur dengan nyenyak.
Raja juga sudah tidur dengan tenang.
Dan Mulan sudah tidur juga.
Selamat tidur adik-adik.
