Cerita ini berlatar belakang sekitar 2,300 tahun yang lalu, saat Tiongkok masih terdiri dari negara-negara kecil yang saling berperang (disebut "Zaman Negara Berperang"). Salah satu negara terkuat bernama Zhao, memiliki dua tokoh penting-- Lin Xiang Ru (yang berjasa mengembalikan giok He Shi Bi, bisa ditonton di episode sebelumnya) dan seorang jenderal besar bernama Lian Po.
Berkat jasanya, Lin Xiang Ru diangkat menjadi perdana menteri, sebuah jabatan yang sangat tinggi. Jenderal besar Lian Po merasa iri hati dan tidak terima. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya pun hebat--ia mencari cara untuk mempermalukan Lin Xiang Ru. Lin Xiang Ru yang mendengar hal ini, berusaha berkali-kali untuk menghindari Lian Po. Bukan karena takut, namun ia tidak ingin kekuatan negara menjadi lemah hanya karena konflik pribadinya dengan Lian Po. Ketika Lian Po mendengar dan menyadari ketulusan dan kebesaran hati Lin Xiang Ru, ia pun merasa malu. Tanpa ragu, ia membuka bajunya, melilitkan rotan berduri ke bahunya untuk menghukum dirinya sendiri, lalu mendatangi rumah Lin Xiang Ru untuk meminta maaf.
Kisah ini melahirkan peribahasa 負荊請罪 (fù jīng qǐng zuì) yang artinya "Memikul Rotan Duri Memohon Hukuman" — menggambarkan seseorang yang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus. Keberanian untuk mengakui kesalahan seperti ini dianggap sebagai keberanian sejati dalam budaya Tionghoa.
**********
🎒 subscribe TAS KECIL - SIAO SHU BAO INDONESIAN. Tumbuhkan Ketrampilan Anak Melalui Cerita.
Cerita kami bukan sekadar cerita, tetapi mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar, menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli. Yuk, ajak anak bertumbuh melalui cerita!
Buka tas kecil.
Masih ingat ya cerita Lin Xiangru mengembalikan giok utuh kepada Cao.
Pahlawan yang mengandalkan kecerdasan dan keberanian,
mengembalikan He Shi Bi dengan utuh kepada Raja Cao.
Pahlawan ini punya satu kejadian besar lagi.
Tapi kali ini, masalahnya bukan datang dari negara Qin,
tetapi dari negara Cao sendiri.
Sudah siap mendengar ceritanya?
Setelah berhasil mengembalikan giok utuh kepada Cao,
Ada satu peristiwa lagi yang disebut pertemuan Mian Ce.
Raja Qin lagi-lagi ingin mempermalukan Raja
Cao namun digagalkan oleh Lin Xiangru.
Sepulangnya dari pertemuan Mian Ce, Raja Cao luar biasa gembira.
Lin Xiangru langsung dinaikkan pangkatnya menjadi Shang Qing.
Ini bukan jabatan biasa tetapi pangkat tertinggi di negara Cao.
Hanya orang yang paling hebat dan berjasa
besar bagi bangsa yang mendapatkannya.
Semua memberikan selamat kepada Lin Xiangru dan ikut gembira.
Eh, tapi ada seseorang yang tidak senang rupanya.
Orang ini adalah Lian Po, jenderal besar negara Cao.
Jadi, siapa Lian Po ini?
Kenapa dia tidak senang?
Lian Po ini juga bukan sembarang jenderal.
Ia lahir dari keluarga bangsawan,
pernah memimpin pasukan mengalahkan negara Qi yang kuat.
Ini membuat dia jadi terkenal.
Saat itu, bukan hanya Raja Cao, bahkan raja negara lain pun
semua mengacungkan jempol ketika mendengar nama Lian Po.
Jendral ini memang hebat keberanian dan kemampuannya.
Berusia hampir 50 tahun, menang di pertempuran besar dan
berkali-kali menyelamatkan negara dari serangan musuh.
Ia adalah pahlawan besar pembela negara Cao
Jadi saat Lian Po tahu Lin Xiangru diangkat jadi perdana menteri
Wajahnya langsung berubah muram
Saya berjasa besar membela bangsa dan negara
Lin Xiangru hanya pandai bicara saja
Pangkatnya malah lebih tinggi daripada pangkat saya
Saya ini bangsawan pula
Ia lantas berdiri tegak
Baju perang Lian Po bergemerincing
ting-ting, dan ting logam saling beradu.
Wibawa Lian Po terpancar kuat membuat musuh ketakutan.
Ia lalu berkata,
Suatu hari, andai aku bertemu Lin Xiangru,
aku akan mempermalukannya di depan umum,
agar semua orang paham siapa pilar bangsa yang sebenarnya.
Menurutmu, apakah Lian Po akan berhasil?
Kita lanjut ceritanya.
Tak lama, kata-kata Lian Po ini segera sampai ke telinga Lin Xiang Ru.
Mendengar ini Lin Xiangru berkata kepada
Raja Cao bahwa ia tidak enak badan
Minta izin tidak hadir di sidang istana yang
membahas berbagai masalah bersama menteri lainnya
Dengan begitu ia tidak perlu berpapasan dengan Lian Po
Suatu hari Lin Xiangru baru saja
keluar rumah dengan kereta kuda
Dari kejauhan terlihat ada kereta kuda lain mendatangi
Coba lihat siapa itu
Iya benar Jenderal Lian Po
Langsung Lin Xiangru berteriak ke Pak Kusir
Cepat belok ke jalan samping
Pak Kusir langsung tarik kuda
Berbelok ke sebuah gang sempit dan bersembunyi
Ya ampun, kenapa harus sembunyi melihat Jenderal Lian Po?
Mulai ramai suara bisik-bisik berkomentar
Eh, Lin Xiangru takut pada Lian Po
Iya nih, jika tidak, kenapa tiap kali dia menghindar?
Sampai-sampai anak buah Lin Xiangru semua tidak tahan
Seorang anak buah keluar bicara
Kami tinggalkan kampung halaman dan mengikutimu karena kagum denganmu.
Tapi sekarang berpapasan dengan Lian Po pun kamu tidak berani.
Bagaimana mau membuat orang respek?
Saya mau berhenti, mau pulang saja.
Mendengar itu Lin Xiangru tidak cemas.
Ia bertanya,
Coba kalian katakan, lebih hebat jenderal Lian Po atau Raja Qin?
Anak buah menjawab serempak,
Raja Qin, Raja Qin.
Lin Xiangru mengangguk.
Di hadapan sosok yang sehebat Raja Qin pun,
saya teguh mempertahankan pendirian dengan akal sehat.
Bagaimana mungkin takut pada Jenderal Lian Po?
Nah, jika tidak takut, kenapa selalu menghindari Lian Po?
Nada bicara Lin Xiangru berubah serius.
Saya bukan takut, namun mengalah.
Saya adalah Perdana Menteri, Jenderal Lian Po adalah Panglima Agung.
Semua adalah kaki tangan bangsa.
Jika kami berkonflik dan musuh berniat menyerang kita,
bukankah negara Cao dalam bahaya?
Oh, ternyata Lin Xiangru bukan penakut.
Tapi dia mengalah demi kepentingan bangsa.
Semua anak buahnya sudah paham sekarang.
Tidak ada lagi yang ingin berhenti.
Dengan cepat berita ini sampai ke telinga Jenderal Lian Po.
Mendengar cerita ini, Jenderal Lian Po terdiam lama.
Keesokan harinya, Lian Po melakukan hal di luar dugaan semua orang.
Ia melepas semua baju atasnya dan mengikatkan
beberapa rotan berduri di punggungnya.
Ia berjalan ke depan pintu rumah Lin Xiang Ru.
Mohon sampaikan, saya Lian Po datang memohon hukuman Tuan Lin.
Lin Xiang Ru terkejut bukan main, langsung keluar menyambut.
Ketika melihat Lin Xiangru, bruk,
Lian Po langsung berlutut dan berkata keras.
Saya benar-benar orang yang picik.
Tidak menyadari kelapangan dada dan wawasan Anda yang begitu luas.
Saya berjuang mati-matian di medan perang demi negara Cao.
Kesabaran Anda terhadap saya juga demi negara Cao.
Oh, saya, saya.
Jendral Lian Po tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Lin Xiangru memapah Jendral Lian Po berdiri.
Matanya berkaca-kaca, berkata,
Jendral, jangan begini. Kita sama-sama demi negara Cao.
Mulai hari ini, kita satukan hati, bergandengan tangan. Bagaimana?
Dalam hati, Lin Xiangru benar-benar sangat mengagumi jendral ini.
Ia tahu, menghadapi musuh di medan perang butuh keberanian.
Tetapi mampu merendah, mengakui kesalahan diri sendiri,
butuh keberanian lebih besar lagi.
Terlebih, ia adalah jenderal senior yang agung berwibawa
Sejak itu mereka saling mengagumi
sebagai sesama pahlawan
Orang-orang hebat saling menghargai satu sama lain
Bersahabat hingga saling rela berkorban
Di sini channel Tas Kecil
Cerita ini sudah selesai
Menurutmu, mengapa bisa ada konflik antar manusia?
Lalu, bagaimana cara mencairkannya?
Apakah kamu memperoleh sesuatu dari cerita hari ini?
Ayo cari channel Tas Kecil di Kancing World dan tuliskan komentarmu.
Sampai jumpa lagi!