Pada 25 April 1999, puluhan ribu praktisi Falun Gong mendatangi Kantor Pengaduan Negara di dekat Zhongnanhai, Beijing, untuk menyampaikan petisi secara damai. Mereka meminta lingkungan yang legal untuk berlatih serta pembebasan 45 praktisi yang sebelumnya ditahan di Tianjin. Saat itu, Perdana Menteri Zhu Rongji menerima perwakilan praktisi, dan peristiwa tersebut berakhir secara damai.
Aksi tersebut dinilai sebagai salah satu petisi damai terbesar dalam sejarah Tiongkok modern, karena berlangsung tertib dan tanpa kekerasan, serta mendapat perhatian luas baik di dalam maupun luar negeri.
Peringatan peristiwa 25 April tahun ini digelar di berbagai negara di dunia. Di Indonesia, kegiatan serupa juga berlangsung di sejumlah kota, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Kegiatan ini bertujuan mengenang peristiwa bersejarah sekaligus menyerukan perhatian terhadap isu kebebasan berkeyakinan dan hak asasi manusia.
Di Jakarta puluhan praktisi berkumpul melakukan aksi damai di seberang kedubes China di Jln. Mega Kuningan pada Sabtu, 25 April.
Sebelumnya kegiatan serupa juga telah berlangsung di Surabaya pada Jumat, 17 April. Mereka menyampaikan aspirasi dengan aksi damai di depan kedubes China di jl. Mayjend Sungkono.
Pada Minggu, 19 April, latihan berskala besar juga telah dilangsungkan di Lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar Bali.
Selain mengenang aksi damai, kegiatan ini juga menyerukan penghentian penganiayaan, serta menyuarakan dukungan terhadap gerakan mundur dari organisasi Partai Komunis China yang diklaim telah diikuti ratusan juta orang.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik internasional terhadap isu kebebasan berkeyakinan dan hak asasi manusia, sekaligus mengenang pentingnya penyampaian aspirasi secara damai.
Pada tanggal 25 April tahun 1999,
puluhan ribu praktisi Falun Gong mendatangi kantor pengaduan negara
di dekat Chong Nan Hai, Beijing
untuk menyampaikan petisi secara damai.
Mereka meminta lingkungan yang legal untuk berlatih
serta pembebasan 45 praktisi yang sebelumnya ditahan di Tianjin.
Saat itu Perdana Menteri Zhu Rongji menerima perwakilan praktisi
dan peristiwa tersebut berakhir secara damai.
Aksi tersebut dinilai sebagai salah satu petisi damai terbesar
dalam sejarah Tiongkok modern
karena berlangsung tertib dan tanpa kekerasan
serta mendapat perhatian luas baik di dalam maupun luar negeri.
Beringatan peristiwa 25 April tahun ini dikelar di berbagai negara di dunia.
Di Indonesia, kegiatan serupa juga berlangsung di sejumlah kota
termasuk Jakarta, Surabaya, dan Denpasar.
Gegitan ini bertujuan mengenang peristiwa bersejarah
sekaligus menyerukan perhatian terhadap isu kebebasan berkeyakinan
dan hak asasi manusia.
Di Jakarta, puluhan praktisi berkumpul melakukan aksi damai
di seberang Kedubas China di Jalan Megakuningan pada Sabtu 25 April.
Karena yang kami lakukan disini adalah
sama sekali tidak bertentangan dengan hukum, konstitusi, atau apapun itu.
Kejadian itu dipelintir menjadi kejadian yang negatif.
Artinya bahwa pada saat itu dikatakan bahwa kami
mengepung pusat pemerintahan atau Congnan Hai disana
dan itu adalah sama sekali tidak benar.
Sebelumnya kegiatan serupa juga telah berlangsung di Surabaya
pada Jumat 17 April.
Mereka menyampaikan aspirasi dengan aksi damai
di depan Kedubas China di Jalan Mejen Sungkono.
Pada Minggu 19 April, latihan berskala besar juga telah berlangsung
di lapangan Bajresan di Renon dan Pasar Bali.
Praktisi Paluntapa atau Palunkung adalah orang yang berlatih
menjadi sejati, baik, dan sabar.
Dengan berlatih Paluntapa, orang bisa menjadi baik dan menjadi sehat.
Namun Partai Komunis China justru tidak senang dan malah menangkap mereka.
Oleh karena itu, para praktisi melakukan aksi damai ini untuk membebaskan.
Sebelum saya berlatih Paluntapa, sebelumnya saya menghindap
beberapa gangguan secara permukaan, sejenis penyakit.
Pada saat itu saya sulit tidur.
Kalau kita bilang sekarang itu insomnia yang sulit tidur.
Jadi pada saat itu karena pekerjaan saya sebagai konsultan teknik,
jadi saya setiap hari harus lembur dan bergadang
yang menyebabkan saya menghindap penyakit insomnia tersebut.
Nah setelah saya belajar Paluntapa, diperkenalkan Paluntapa ini,
saya berlatih, saya membaca, nah dari situ secara berangsur-angsur
tanpa saya sadari penyakit yang saya hidup itu seketika menghilang begitu saja.
Saya tidak tahu penyakit itu kemana.
Paluntapa ini sesuatu yang sangat luar biasa.
Mengapa saya katakan seperti itu?
Karena setelah berlatih, saya menjadi lebih sehat.
Dulu saya sering banget sakit, terbulan sekali, pasti saya harus dimasuk angin lah gitu.
Dan saya juga pernah berpikir sampai kapan nih saya harus begini terus gitu.
Dan setelah saya berlatih Paluntapa, meskipun saya tidak merasakan manfaatnya segera,
tapi makin hari saya merasa badan saya sembah sehat dan saya sangat enerjik.
Jadi saya merasa saya sangat beruntung gitu ya bisa ketemu Paluntapa.
Latihannya juga simple dan juga bisa berlatih anak kecil, orang tua,
atau seorang seumuran kita tidak ada batas umur, tidak ada batas agama atau ras,
kepercayaan dan saya rasa saya sangat beruntung bisa berada di jalur Paluntapa.
Selain mengenang aksi damai, kegiatan ini juga menyuruhkan penghentian penganiayaan,
serta menyuruhkan dukungan terhadap gerakan mundur dari organisasi Partai Komunis China
yang diklaim telah diikuti ratusan juta orang.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik internasional
terhadap isu kebebasan berpyakinan dan hak asasi manusia,
sekaligus mengenang pentingnya penyampaian aspirasi secara damai.