Analisis RI India 2026

Analisis RI India 2026

M
Mata Phena
9 Tayangan video·8 Jul 2026

**Dua Raksasa Menenun Jembatan Tak Terlihat**

Begitu pesawat *India One* memasuki wilayah udara kita, Senin sore itu, langit Jakarta langsung bergemuruh. Tidak tanggung-tanggung. Tiga jet tempur F-16 dan dua Sukhoi TNI Angkatan Udara langsung mengapitnya. Sebuah kawalan kehormatan yang luar biasa. Di bawah tangga pesawat, Presiden Prabowo Subianto sudah menunggu. Beliau menjemput langsung tamu agungnya: Perdana Menteri India, Narendra Modi.

Ini bukan sekadar formalitas diplomatik biasa. Ini adalah pelukan hangat dua raksasa Asia yang sedang mencari bentuk masa depan. Pelukan yang melambangkan kembalinya "sahabat lama" yang sempat agak menjauh. Dahulu, Bung Karno adalah tamu kehormatan pertama di Hari Republik India tahun 1950. Kini, Prabowo membalasnya dengan penganugerahan Bintang Republik Indonesia Adipurna kepada Modi.

Mengapa India begitu penting? Mengapa kita harus memberi karpet merah setebal itu?

Jawabannya ada pada metafora **"Jembatan Tak Terlihat"**. Selama ini, kita melihat hubungan antarnegara melalui kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka atau pesawat yang mendarat di Halim. Itu jembatan fisik. Tapi Modi dan Prabowo sedang membangun sesuatu yang jauh lebih dahsyat: jembatan digital dan keamanan yang tidak kasatmata, namun mampu menahan beban masa depan abad ke-21.

Lihatlah sektor digital kita. India adalah rajanya *Digital Public Infrastructure* (DPI). Mereka punya *Aadhaar* yang sudah memproses 150 miliar transaksi identitas digital. Mereka punya UPI (*Unified Payments Interface*) yang menguasai hampir separuh transaksi pembayaran *real-time* dunia. Nah, dalam kunjungan ini, kita sepakat menghubungkan QRIS kita dengan UPI India.

Ini jembatan luar biasa. Bayangkan turis India di Bali atau turis Indonesia di Taj Mahal tidak perlu lagi pusing tukar uang. Cukup scan barcode. Tapi ini bukan cuma soal turis. Ini soal kedaulatan digital. Kita sedang membangun *Indonesia Open Network* (ION) yang terinspirasi dari keberhasilan India. Tujuannya? Menurunkan biaya transaksi UMKM kita yang selama ini "dipalak" biaya platform hingga 40 persen, menjadi di bawah 8 persen. Ini adalah upaya mendemokratisasi peluang ekonomi di ribuan pulau kita.

Lalu, ada jembatan keamanan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa tensi di kawasan sedang tinggi. India punya program *Act East* dan *MAHASAGAR*. Kita punya *ASEAN Outlook on Indo-Pacific*. Selama ini, dua visi ini seperti dua garis sejajar yang belum bertemu. Modi datang untuk menyinergikannya.

Simbol paling konkretnya adalah **BrahMos**. Setelah sekian lama dilirik, Indonesia akhirnya meneken kontrak pembelian rudal jelajah supersonik hasil kerja sama India-Rusia ini. Ini bukan sekadar belanja senjata. Ini adalah pesan strategis untuk memperkuat pertahanan di Laut Natuna Utara. Kita ingin damai, tapi kita juga harus punya "taring" yang disegani. Rudal ini adalah pagar tak terlihat untuk menjaga kedaulatan maritim kita.

Namun, diplomasi bukan hanya soal besi panas dan kabel optik. Ada benang-benang peradaban yang sudah ditenun selama dua ribu tahun. Dari aksara Pallawa hingga kisah Ramayana yang terpahat di candi-candi kita. Modi bahkan menyempatkan diri ke Yogyakarta untuk mengunjungi Candi Prambanan.

India tidak hanya datang untuk berdagang, mereka berkomitmen membantu restorasi Prambanan melalui *Archaeological Survey of India* (ASI)—lembaga yang dulu memugar Angkor Wat. Luar biasa. Hubungan ini kembali ke akarnya. Prabowo dan Modi bahkan menetapkan tahun 2026-2027 sebagai **"Tahun Tagore-Dewantara"**. Mengenang seratus tahun pertemuan dua raksasa intelektual, Rabindranath Tagore dan Ki Hajar Dewantara.

Inilah cara cerdas merawat persahabatan: menyentuh hati sebelum menyentuh kantong. Kita membangun jembatan akademik, riset energi bersih, hingga eksplorasi angkasa luar antara BRIN dan ISRO.

Tentu, tidak semua jalan mulus. Ada kerikil tajam di luar pagar Istana. Ada suara-suara kegelisahan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam soal kondisi saudara Muslim di India di bawah ideologi Hindutva. Ini adalah ujian moral bagi diplomasi "Bebas Aktif" kita. Bagaimana menyeimbangkan antara kepentingan pragmatis ekonomi-keamanan dengan arah moral kemanusiaan. Prabowo dituntut lihai meniti jembatan ini; tetap bersahabat karib dengan Modi, namun tetap berani menyampaikan pesan tentang toleransi dan perlindungan hak beragama secara tegas namun elegan melalui *backchannel diplomacy*.

Ada satu proyek yang sangat menarik untuk diperhatikan: **Koridor Sabang-Nikobar**. Dua pulau ini hanya terpisah 150 km di Samudra Hindia. Selama ini mereka seperti dua tetangga yang saling punggung-punggungan. Modi dan Prabowo ingin membalikkan badan mereka agar saling berhadapan dan bekerja sama dalam ekonomi biru dan pelabuhan.

Kesimpulannya, kunjungan Modi kali ini adalah tentang membangun kemitraan yang tidak hanya berada di tingkat elit (*high politics*), tapi merambat ke urusan makan siang bergizi gratis hingga sistem pembayaran pedagang kaki lima.

Indonesia dan

Stempel waktu