
Awas Sell Indonesia
Bukan Dukun Rotterdam
Ferry Latuhihin itu unik. Waktu muda, ia ingin jadi filsuf. Suka seni. Suka musik klasik—terutama Debussy dan Chopin
,
. Tapi ibunya menelepon dari Jakarta. Kalimatnya tajam: "Apa kamu pulang mau jadi dukun?"
.
Ferry pun banting setir. Ia ambil ekonometrika di Rotterdam
. Pulang ke Indonesia, ia tidak jadi dukun. Ia jadi ekonom. Pernah di Danareksa, pernah jadi Chief Economist di Bank BII
. Sekarang, ia punya firma konsultan sendiri
.
Tapi, Ferry lagi risau. Sangat risau.
Ia melihat ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja. Sektor manufaktur kita merosot. Dulu, saat Soeharto jatuh, kontribusinya masih 30 persen dari PDB. Sekarang? Tinggal 17 persen
. Orang bilang ini deindustrialisasi prematur. Tapi bagi Ferry, akarnya adalah masalah kelembagaan
.
Institusi kita dianggap tidak stabil oleh investor. Bayangkan, menteri ganti, regulasi ganti
. Ferry punya pengalaman pahit: proyek listriknya mangkrak karena tarif diubah tiba-tiba setelah pergantian menteri
. "Negara ini tidak punya tanggung jawab terhadap investor," katanya pedas
.
Kini muncul istilah yang bikin ngeri: "Sell Indonesia"
. Bank investasi seperti JP Morgan kabarnya sudah memberi sinyal keras. Dana pensiun di Eropa mulai menganggap Indonesia tidak lagi layak investasi
. Alokasi aset mereka dipangkas habis
.
Kenapa mereka takut?
Pertama, birokrasi kita terlalu gemuk. Ada 108 menteri dan wakil menteri
. Bandingkan dengan Amerika yang hanya punya sekitar 15 menteri
.
Kedua, kebijakan fiskal kita dianggap terlalu populis dan "bakar duit"
. Ada program makan bergizi gratis, ada pembangunan tiga juta rumah
. Moody's dan Fitch pun sudah mengubah outlook kita dari stabil menjadi negatif
. Bahkan, kurs rupiah sempat menyentuh angka yang bikin sesak napas karena pasar merasa fundamental kita kedodoran akibat APBN yang "bakar duit" itu
,
.
Ferry melihat ada dikotomi yang salah: seolah-olah harus pilih antara pro-rakyat atau pro-bisnis
. Padahal, yang menciptakan lapangan kerja itu bisnis, bukan rakyat
. Jika bisnis ditekan dengan pajak tinggi dan regulasi yang berubah-ubah, siapa yang mau masuk?
,
.
Lalu, apa solusinya?
Ferry menawarkan jalur "Ricardian": kembali ke keunggulan komparatif
,
. Kita punya alam yang luar biasa. Kita punya mangrove 3,5 juta hektare
. Itu modal besar untuk ekonomi hijau. Potensi penyerapan karbonnya mencapai 3,5 gigaton
.
"Kita enggak ada alasan untuk miskin," tegasnya, asal kita bisa memonetisasi kredit karbon dengan akuntabilitas yang benar
. Daripada membabat hutan untuk food estate yang belum tentu berhasil dan rawan korupsi, lebih baik kita jual "udara bersih" kita ke dunia
,
.
Ferry juga menyinggung soal kualitas manusia. Skor PISA kita rendah
. Kita kekurangan tenaga kerja di bidang STEM
. Jika ingin maju, kita harus memilih: mau brain train seperti Jepang, brain gain seperti Australia, atau brain circulation seperti Tiongkok?
,
.
Masalahnya, kita lebih sering membiarkan talenta kita "main catur" karena institusi yang tidak siap menampung keahlian mereka
,
.
Ferry Latuhihin mungkin tidak jadi dukun. Tapi ramalan ekonominya hari ini terdengar seperti peringatan keras yang harus didengar. Sebelum "Indonesia Emas" hanya menjadi mimpi yang mustahil karena kita terlalu sibuk mencari rente dan melupakan esensi pembangunan yang sesungguhnya
