
Rintangan Sensus 2026
**Potret Buram di Balik "Ritual" Sepuluh Tahunan**
Ada sebuah adegan yang membuat hati saya perih. Bukan di medan perang, tapi di sebuah pasar. Seorang pedagang kecil mengusir petugas sensus dengan **lemparan bak plastik**,. Bayangkan, dua gadis petugas lapangan harus lari ketakutan hanya karena menjalankan tugas negara.
Bagi saya, insiden bak plastik itu adalah sebuah **cermin yang retak**. Di situ kita melihat potret kepercayaan masyarakat kita yang sedang sakit. Rakyat merasa sudah jenuh dengan segala macam pendataan. Mereka curiga, jangan-jangan data ini ujung-ujungnya hanya untuk **"mengejar" pajak** mereka yang tak seberapa itu,,. Meski pemerintah menjamin kerahasiaan, bagi rakyat kecil, janji itu sering kali terasa **setipis tisu**,.
Padahal, Sensus Ekonomi (SE) 2026 ini adalah agenda vital. Gubernur Khofifah Indar Parawansa benar: data adalah fondasi. Tanpa data yang jujur, kebijakan ekonomi kita akan **kehilangan kompas**,. Membangun ekonomi tanpa data akurat itu seperti seorang dokter yang memberikan obat tanpa diagnosis yang benar. Hasilnya? Pasti **mismatch** atau salah sasaran,.
Namun, nalar saya terganggu melihat persiapannya. BPS sedang pusing tujuh keliling. Mereka butuh dana triliunan, tapi yang disetujui baru **"recehan"** Rp300 miliar dari usulan Rp1,3 triliun. Bagaimana mungkin kita ingin memotret wajah ekonomi digital yang berubah secepat kilat dengan kamera yang baterainya lowbat karena kurang anggaran?,.
Belum lagi soal manajemen internal. Di Buol dan Lampung Barat, ada peserta yang sudah dinyatakan "Lolos" tiba-tiba dicoret tanpa kejelasan,. Ini namanya **"main ganti" di menit terakhir**. Kalau cara merekrut "pendata"-nya saja sudah tidak profesional, bagaimana kita bisa percaya pada "data" yang mereka bawa nanti?.
Jangan sampai SE 2026 hanya menjadi **"ritual" kering di atas kertas**. Kita tidak butuh data pesanan agar negara terlihat "baik-baik saja". Kita tidak butuh **"kosmetik data"** demi pencitraan,. Ingat strategi dalam *Three Kingdoms*: Zhuge Liang bisa menang bukan hanya karena otot, tapi karena nalar dan peta yang akurat,.
Pemimpin yang hebat harus berani melihat **wajah asli rakyatnya**, meski wajah itu penuh peluh dan kecurigaan. Tugas BPS sekarang bukan hanya mengumpul angka, tapi **menjahit kembali kepercayaan** masyarakat yang robek.
Dunia memang tidak pernah benar-benar tentram. Tapi kapal besar bernama Indonesia ini tidak boleh karam hanya karena nakhodanya memegang **peta palsu**. Mari kita kawal sensus ini dengan nalar sehat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban undang-undang,,.
