Presiden Taiwan Lai Ching-te mendesak AS hentikan agresi China di Indo-Pasifik demi perdamaian dan kepentingan AS, ditengah meningkatnya ancaman militer China. ----------------- Operasi rahasia China: Mereka membuat akun palsu dan membayar influencer Filipina untuk menyebarkan propaganda anti-AS dan memecah aliansi strategis AS-Filipina. ----------------- Pada perayaan Hari Nasional China, ratusan drone gagal lepas landas, berubah menjadi bola api yang jatuh dan menghujani penonton. Insiden ini disensor media pemerintah.
00:11 Presiden Taiwan: China Bisa Ubah Tatanan Global Jika Taiwan Jatuh 02:52 Propaganda China di Filipina: Akun dan Influencer Palsu Pecah Aliansi AS-Filipina 05:10 Ratusan Drone Terbakar, Hujani Penonton di Perayaan Hari Nasional China
Presiden Taiwan Lai Ching Teh memiliki pesan untuk Presiden AS.
Hentikan China menginvasi Taiwan dan Anda berhak atas Nobel Perdamaian.
Hal ini disampaikan Lai dalam acara deklai Travis & Buck sextant pada Senin lalu,
mendesak AS untuk terus mendukung Taiwan. Berikut isinya.
Jika China berhasil merebut Taiwan,
China akan berada di posisi yang kuat untuk bersaing dengan AS
dan mengubah tatanan internasional berbasis aturan.
Tentunya ini akan berdampak pada kepentingan AS.
Kami berharap Presiden Trump terus mendukung kami.
Jika beliau bisa meyakinkan Xi Jinping untuk secara permanen
menarik penggunaan kekuatan terhadap Taiwan,
beliau pasti akan memenangkan hadiah Nobel Perdamaian.
Ketika ditanya pesan apa yang ingin disampaikan untuk Presiden Trump
jika diberi kesempatan,
Lai mengawalnya dengan menyoroti soal meningkatnya agresi militer China
yang disebutnya semakin meluas dan intens.
Saya akan menyarankan agar beliau mencatat bahwa
Xi Jinping tidak hanya menggelar latihan militer besar di selat Taiwan,
tapi juga memperluas mobilisasi militer China
di Laut China Selatan dan China Timur,
bahkan kini telah meluas di seluruh kawasan Indo-Pasifik.
Agresi militer China di Indo-Pasifik kian meningkat
baik secara frekuensi, intensitas, dan lingkup geografis.
Pada awal tahun, Lembaga Angkatan Udara AS,
Amerika Air University menerbitkan evaluasi
yang menyebut aktivitas udara dan laut China di sekitar Taiwan
sebagai diluar dugaan.
Selain itu, Lembaga Pemikir AS CSIS menyatakan
bahwa China tengah mempelajari latihan perang dari Rusia
untuk mengejar ketinggalan akibat minimnya pengalaman perang.
China dan Rusia kian memperarat hubungan militer
khususnya melalui latihan gabungan.
Lai juga memperingatkan bahwa kapal Induk China kini telah beroperasi
melewati rantai Pulau Pertama dan Keduanya.
Kapal perang China juga terlihat di sekitar Jepang dan Australia,
membuat kedua negara kawasan Indo-Pasifik itu waspada.
China baru saja meluncurkan kapal Induk ketiganya, Fujian,
nama sebuah provinsi terdekat dengan Taiwan.
Rick Fisher, seorang pakar di Pusat Strategi Uji Internasional,
berkata penamaan itu bukan sekedar intimidasi,
tetapi bagian dari rencana perang China.
Nama itu dipilih secara spesifik untuk mengintimidasi
dan membayangi penuduk Taiwan.
Itu adalah kapal Induk yang akan digunakan jika partai komunis China
memutuskan untuk memulai permusuhan dengan Taiwan,
sekaligus berfungsi untuk menakut-nakuti seluruh dunia.
Isyarat terbaru dari Washington agaknya menggambarkan upaya Taiwan
untuk memperbarui hubungan.
Pemerintahan Trump baru-baru ini memperlakukan tarik 20% atas ekspor Taiwan.
Taiwan juga berjanji memindahkan setengah dari produksi chipnya ke AS,
lain juga menyatakan bersedia membantu AS untuk melakukan reindustrialisasi
dan menjadi pusat global AI.
Laporan terbaru Reuters mengungkapkan partai komunis China
menjalankan akun media sosial palsu yang menyamar sebagai warga Filipina.
Mereka juga membayar pejabat dan influencer
untuk menciptakan perpecahan antara AS dan negara kepulauan tersebut.
Simak selengkapnya.
Jangan percaya semua yang Anda lihat di media sosial.
Partai komunis China memimpin operasi membuat akun Facebook dan eks palsu,
serta membayar influencer media sosial untuk melemahkan aliansi AS-Filipina.
Demikian menurut laporan terbaru Reuters,
yang meninjau dokumen internal dari perusahaan pemasaran China
yang berbasis di Filipina bernama Infinitus.
Pihak berunang Filipina berkata Infinitus dibayar oleh PKC
untuk membuat ratusan akun palsu yang menyamar sebagai penulis Filipina
dan membuat konten anti Amerika.
Masalah ini menjadi sorotan pada bulan April
oleh mantan pejabat tinggi Filipina, Francis Tolantino,
yang menuduh Infinitus dibayar oleh kedubes China
untuk menyebarkan propaganda pro-PKC.
Mereka membuat konten media sosial palsu
yang menentang kebijakan pemerintah Filipina,
berpura-pura termotivasi oleh kekhawatiran
akan perdamaian di kawasan tersebut dan memanipulasi,
serta pada akhirnya menghancurkan kemampuan Filipina untuk melawan China.
Kenyataannya lebih dari itu.
Satu laporan dari November 2024 menemukan bahwa
pasukan troll media sosial ini menyebarkan video
yang mengecam penggerahan rudal AS ke Filipina.
Akun-akun itu juga menyebarkan unggahan pro-PKC
oleh puluhan tokoh media Filipina
yang semuanya menerima penghargaan
dari Asosiasi Pemahaman Filipina-China,
sebuah badannya dibentuk oleh mantan Presiden Filipina Gloria Arroyo,
dan sebuah badan Partai Komunis China.
Filipina adalah lokasi strategis bagi Washington dan Beijing
karena kedekatannya dengan Taiwan.
PKC telah mengancam akan menginvasi Taiwan pada 2027,
yang mana AS telah berjanji untuk membela kepentingannya.
Tetapi para pejabat AS berkata
hal ini dapat menyebabkan depresi ekonomi di seluruh dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir,
China semakin agresif di kawasan ini
dengan kapal-kapal militernya
yang menyeruduk kapal-kapal penjaga panpai Filipina,
menembahkan meriam air
dan bahkan menghalangi mereka untuk melakukan pasokan ulang.
Jack Bradley, NTD News.
Sebuah pemandangan langkah
yang tak akan pernah muncul di siaran pemerintah China.
Ratusan drone berubah menjadi bola api
dan mehujani penonton selama pertunjukan cahaya drone
di hari Nasional China.
Insiden terjadi saat Partai Komunis China
memperingati ulang tahun ke-76 kekuasaannya.
Ini terjadi minggu lalu
di sebuah kota di China Selatan.
Ratusan drone yang rusak mulai bertabrakan
tepat setelah lepas landas.
Percikan api dan bara api
menghujani para penonton seperti hujan meteoroid
memicu kebakaran kecil di tanah.
Penonton berlarian mencari perlindungan
sementara yang lain memegang kursi
untuk melindungi diri dari percikan api yang jatuh.
Pihak berwenang setempat mengatakan
tidak ada yang terluka,
tetapi seorang penonton melaporkan secara daring
terkena percikan api.