
JALAN AMPAS TAHU, JALAN RAYA AMBRUK, KORBAN DIBUNGKAM — APAKAH CHINA MENUJU BENCANA?
Bencana infrastruktur di China semakin meningkat, yang sering dikaitkan dengan "proyek ampas tahu," sebuah istilah yang digunakan untuk konstruksi berkualitas buruk yang berasal dari kritik Perdana Menteri Zhu Rongji terhadap tanggul yang runtuh pada tahun 1998. Meskipun jembatan kuno di China, seperti Jembatan Xiao yang berusia 1.400 tahun, masih kokoh, banyak infrastruktur modern runtuh tak lama setelah selesai dibangun. Krisis ini bukan hanya tentang beton, melainkan juga korupsi, pemotongan anggaran, dan kurangnya akuntabilitas.
Dari Juni hingga Juli 2025, serangkaian lubang besar muncul di seluruh China, menelan kendaraan dan melukai orang. Pihak berwenang sering kali menyalahkan kebocoran pipa bawah tanah sebagai penyebabnya, sebuah penjelasan yang semakin diragukan oleh masyarakat. Salah satu insiden paling parah terjadi pada tahun 2024 ketika bagian dari Jalan Tol Meizhou Dabu di Guangdong ambruk, menewaskan 48 orang dan melukai lebih dari 30 lainnya. Meskipun curah hujan yang deras mungkin menjadi penyebab tidak langsung, para ahli berpendapat bahwa sistem rekayasa seharusnya sudah memperhitungkannya.
Masalah ini diperparah oleh praktik seperti penggunaan bahan di bawah standar, di mana pengembang sering menghemat biaya dengan menggunakan bahan berkualitas rendah. Misalnya, baja yang disyaratkan oleh pemerintah sering kali dikurangi ukurannya secara signifikan saat proyek bergerak dari tingkat pusat ke tingkat kota. Selain itu, korban seringkali dibungkam, karena pemerintah China menerapkan "larangan diam" yang mencegah mereka berbicara kepada publik, membuat publik hanya mendapatkan narasi resmi. Konsekuensi dari konstruksi yang buruk ini sangat parah, menyebabkan hilangnya nyawa dan terkikisnya kepercayaan publik.
#china #tiongkok #tionghoa #tofu
