
BENCANA YANG LEBIH MENGERIKAN AKAN MENERJANG CHINA! EKONOMI CHINA SEDANG RESESI YANG DALAM!
Harga daging babi di Tiongkok, yang merupakan makanan pokok, telah anjlok hingga mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir, menjadi simbol keputusasaan di tengah kemerosotan ekonomi. Pasar kelebihan pasokan daging babi dan produk pertanian lainnya—termasuk daging sapi, telur, dan sayuran—dengan penurunan harga drastis (daging babi turun 40%). Harga yang sangat rendah ini bahkan tidak menutupi biaya beternak bagi para petani, yang menyebabkan penderitaan dan keputusasaan di pedesaan.
Penurunan harga yang terus-menerus ini bukan kabar baik bagi konsumen, melainkan pertanda deflasi yang berbahaya. Deflasi, pembunuh senyap perekonomian, menyebabkan bisnis berhenti berinvestasi, pekerjaan hilang, dan konsumsi melemah, menciptakan lingkaran setan. Ketika harga jatuh, keuntungan lenyap, perusahaan memotong upah dan melakukan PHK, membuat masyarakat takut untuk berbelanja, yang pada gilirannya mendorong harga semakin rendah.
Tiga mesin ekonomi Tiongkok—investasi, ekspor, dan konsumsi—semuanya macet. Konsumsi konsumen telah jatuh melampaui perkiraan, dengan restoran, kafe, dan toko-toko menjadi sepi. Para ekonom memperingatkan bahwa situasi ini sangat mirip dengan yang dialami Jepang pada tahun 1990-an yang menyebabkan stagnasi ekonomi selama puluhan tahun. Model "super murah" Tiongkok dianggap bukan kemakmuran, melainkan tanda bahwa perekonomian sedang runtuh dari dalam. Di balik setiap diskon terdapat petani dan bisnis yang berjuang, menandakan bahwa resesi ekonomi yang dalam baru saja dimulai.
