Mata Phena Bangsa di Tepi Jurang #indonesia #duniabersih #indonesiaku

Mata Phena Bangsa di Tepi Jurang #indonesia #duniabersih #indonesiaku

M
Mata Phena
283 Tayangan video·27 Nov 2023

Puisi Gus Mus kembali viral di tengah bencana etik atau bencana nurani yang sedang mendera negeri zamrud katulistwa ini. “Apalagi yang bisa kita lakukan? Bila pernyataan lepas dari kenyataan. Janji lepas dari bukti. Hukum lepas dari keadilan. Kebijakan lepas dari kebijaksanaan. Kekuasaan lepas dari koreksi. Apa lagi yang bisa kita lakukan? Bila kata kehilangan makna. Kehidupan kehilangan sukma. Manusia kehilangan kemanusiaannya. Agama kehilangan Tuhannya”.
Kebanyakan orang Indonesia mungkin terkejut-kejut dengan drama perebutan kekuasaan yang semakin hari semakin absurd. Bermula dari (1) keinginan kuat untuk perpanjang jabatan dan nambah periode, (2) serial perundungan, penjegalan, dan sabotase pada sosok pengusung perubahan terjadi secara intensif dan masif yang akhirnya buyar, (3) upaya untuk mencari suksesor untuk perlindungan pasca tidak berkuasa yang gagal dibajak di tengah jalan, (4) mengedit konstitusi untuk memberikan karpet merah untuk putra mahkota, (5) penghidupan kembali opera Malin Kundang yang ceritanya direvisi di mana kutukan Sang Ibunda yang dikhianati, didurhakai tak bertaji, dan tak ada lagi mengenal balas budi dan kualat dan (6) hilangnya urat malu dimana sudah melanggar etika malah dengan petentang-petenteng bahwa ia difitnah dan diperkusi. (film games of thrones)
Mungkin orang bertanya-tanya apakah bangsa ini sedang di tepi jurang kehancuran? Sudah menuju fase terakhir menuju kehancuran ? Atau ini bagian dari skenario Tuhan untuk membuka wajah asli dari penguasa yang hampir satu dekade ini selalu mempersolek diri seolah tanpa cela dan rakyat 90% puas atas pemerintahannya. Dan berikutnya kita menemukan pemimpin sejati (true leader) bukan boneka sejati (true dealer). Semoga begitu.
Tapi pertanyaan selanjutnya apakah sebagian besar rakyat yang merupakan pemilik kedaulatan menyadari bahwa negara dan bangsa dalam bahaya sehingga mereka bisa menggunakan pisau Gulatinen-nya untuk memenggal kegilaan penguasa saat ini di bilik suara saat pemilu? Atau mereka sudah sama-sama dibuat gila, tuna nurani dan etika, tergiur dengan politik transaksional yang nikmat sesaat, tapi sengsara di hari kemudian.
Gus Mus, sebagai tokoh moderat, agamawan dan begawan yang diakui publik mempunyai pandangan yang jernih terhadap negeri ini, beberapa waktu yang lalu didatangi oleh beberapa tokoh bangsa yang mengadu akan apa yang sedang terjadi di negeri ini. Mereka madul (berkeluh kesah, minta nasihat) akan kondisi negeri di mana penguasa tertinggi secara vulgar menerabas akal sehat, etika dan moralitas dalam memandang kekuasaan. Mau berkuasa, tapi tak mau legawa mandeg pandito. Berjuang setengah mati untuk membangun dinasti, yang akhirnya dinista oleh kebanyakan orang di negeri ini yang masih bernalar sehat, dan bernurani. Nguno yo ngono, tapi ojo ngono (Begitu ya begitu, tapi jangan begitu).