Mata Phena _Puasa Kuasa

Mata Phena _Puasa Kuasa

M
Mata Phena
625 Tayangan video·7 Apr 2023

Mata Pena
Menguak Esensi Peristiwa
Puasa Kuasa
Wan Jaya
“Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely,” kata John Dalberg-Acton. Kekuasaan itu mencandukan. Maka dari itu hasrat untuk berkuasa perlu dikendalikan baik oleh sang pemegang kuasa itu sendiri atau sistem yang mengatur kekuasaan.
George Washington ketika ditawari untuk menjabat ketiga kalinya mengatakan “cukup adalah cukup” menandakan ia adalah seorang bapak bangsa yang sadar akan mencandukannya sebuah kekuasaan. Dia ingin meninggalkan warisan nilai sekaligus keteladanan bahwa kekuasaan itu tentang tanggung jawab bukan tentang privellege ataupun aji mumpung.

Dan pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang bisa mencetak suksesornya dan meninggalkan nilai yang baik bagi generasi mendatang. Bukan mencetak suksesornya hanya untuk memastikan dosa dan kejahatannya tidak ditelanjangi habis-habisan oleh rezim sesudahnya.

Nilai “cukup adalah cukup” dari George Washington ini akhirnya dilembagakan dalam konstitusi sebagai batasan lamanya berkuasa seorang presiden Amerika Serikat. Namun sayangnya kita tidak dikarunia sosok seperti Washington yang bisa menahan diri atau menempuh laku puasa kuasa. Soekarno dan Soeharto malah memberikan pelajaran terbalik dan hasilnya terobsesi menjadi penguasa seumur hidup berakhir tragis. Yang ini harus dibuat pelajaran bagi generasi selanjutnya agar tidak jatuh dalam lubang yang sama.

Namun kesalahan yang sama yaitu tak mampu puasa kuasa atau lengser keprabon tepat waktu mencoba diulangi lagi. Alibinya, dua periode tak cukup untuk mewujudkan visi misi dan meninggalkan legasi. Tapi kita melihat belum usai dua periode, the last Sakera, Prof Mahfud MD pernah mengatakan bahawa di mana kita menoleh di situ ada korupsi, mulai dari tambang, kehutanan, penerbangan, asuransi, koperasi, dan lain-lain.
Apa jadinya kalau diperpanjang atau menambah periode. Tak bisa dibayangkan. Untunglah tidak ada mega korupsi di temukan, tapi malahan yang ada tera korupsi. Sebelum ini korupsi 6,6 trilin di Kasus Century sudah bisa membikin heboh seluruh negeri. Kali ini angka itu menjadi hal yang biasa. Kembali heboh lagi setelah PPATK menemukan aliran dana 345 yang diduga pencucian uang. Publik kembali sadar bahwa prilaku korupsi tak pernah berhenti, malah semakin menjadi. Yang ada beritanya saja yang tenggelam. Dulu di era Orde Baru para koruptor hanya dilingkaran keluarga petinggi negeri dan kroni. Kini Meluas, melebar, vertikal dan horisontal. Di level tertinggi sampai terendah.

Tapi memang benar tak ada berkahnya uang panas dan uang haram. Kekayaan hasil jarahan yang tak habis tujuh turunan, tak bisa dinikmati dengan tenang. Tak bisa membeli kebahagian. Malah berakhir kutukan.

Maka dari itu bagi siapa saja yang kali ini yang dipercaya memegang kuasa, perlu menempuh laku puasa kuasa agar tidak terjebak dengan ilusi-ilusi bahwa uang dan kuasa bisa membeli kebahagian atau apa pun di dunia ini. Laku puasa kuasa bisa menyadarkan bahwa kekuasaan adalah tanggung jawab. Semakin besar kuasa semakin besar pulalah tanggung jawab.With the Great Power Comes The Great Responsibilty.

Puasa kuasa itu intinya sikap ugahari, tahu kapan merasa cukup. Berhenti makan sebelum kenyang. Lengser keprabon sebelum dipaksa lengser. Tak begitu memikirkan apa yg diinginkan; dan menyadari benar apa yg tak dibutuhkan. Tak memaksakan diri meninggalkan “legasi” pribadi dengan menggadaikan masa depan generasi dengan menumpuk sebanyak mungkin hutang.

Sikap ugahari juga berarti menyadari batas mana akumulasi kekayaan dan peluang usaha pantas diraih. Puasa kuasa sejatinya tentang menjaga keseimbangan. Oposisi itu teman diskusi dan berdinamika, tak perlu diberantas sampai memenjarakan pikiran yang berbeda.

Ketika kekuasaan begitu mencengkeram keterlaluan, arus balik perlawanan yang terlalu lama dikekang menimbulkan gelombang tsunami anarki yang akan meluluhlantakkan segala dinding keserakahan. Puasa kuasa itu artinya menahan diri dari kekuasaan absolut dan berupaya menjadi Tuhan.

Keabsolutan kuasa hanya milik Tuhan. Kekuasaan yang ada di tangan hanyalah hal yang dipinjamkan. Tuhan Yang Maha Kuasa punya kehendak dan kuasa bebas untuk mempergilirkan kekuasaan bagi siapa yang dikehendaki.

Nelson Mandela dipenjara puluhan tahun oleh rezim apartheid, namun dengan laku puasa kuasa yang dipaksakan padanya justru menghantarkannya pada puncak kekuasaan. Untunglah Mandela bisa sekaliber George Washington yang tahu kapan naik dan kapan turun.

Puasa kuasa ala Mandela dan George Woshington termasuk dalam kategori puasa ala ulat. Puasa yang bisa benar-benar membuat tranformasi dan perubahan. Dari ulat menjadi kupu-kupu. Dari makhluk yang rakus dedaunan, menjadi kupu-kupu yang mencukupkan diri menyesap nektar bunga yang bermanfaat bagi penyerbukan. Terbang bebas di angkasa nilai, sambil menyemai generasi baru di dedaunan yang hijau.