Jangan-Jangan Tuhan Adi di Bola

Jangan-Jangan Tuhan Adi di Bola

M
Mata Phena
679 Tayangan video·5 Apr 2023

Jangan-Jangan Tuhan Ada di Bola

Wan Jaya



Marv Levy mengatakan sepak bola tidaklah membangun karakter, tapi sepak bola menguak karakter kita sebenarnya.
Dunia persebakbolaan kembali berduka, setelah tragedi Kanjurahan yang memakan korban 135 jiwa Aremania, kini mimpi menjadi tuan rumah piala dunia U20 lenyap sudah, akibat FIFA membatalkannya dengan alasan ‘situasi terkini’.
Kali ini yang menjadi korban adalah mimpi Indonesia yang digadang sejak lama. Pembatalan ini bak ”vonis mati” bagi para pesepak bola ”Garuda Muda”. Mimpi mereka musnah karena kenaifan dan egoisme sejumlah pihak.
Ini menunjukkan bahwa karakter kita belum cukup dewasa untuk menggelar hajatan dunia bergengsi ini. Masih kekanak-kanakan. Kita selalu belum selesai dengan diri sendiri. Pesaingan politik elektoral terbawa-bawa ke sepak bola. Ya FIFA mengatakan situasi terkini, yang merujuk pada penolakan Timnas Israil yang di dugaan lolos. Momen ini digunakan eleman anti Israil terutama dari kubu kanan untuk melakukan tekanan. Dan lebih mengherankan kubu kiri juga melakukan hal yang sama tapi dengan langgam alasan tuntutan konstitusi bahwa ‘penjajahan di atas dunia harus dihapuskan’. Dua kepala daerah diokhestrasi untuk melakukan penolakan. Niatnya mungkin ingin menarik simpati kalangan kanan untuk menambah elektabilitas partai atau kandidat presiden, tapi ternyata berujung blunder.
Gubernur Bali dan Gubernur Jawa Tengah ‘dirujak’ habis-habisan oleh netizen. Elektabilitas pemimpin berambut putih mlorot signifikan. Padahal dia digadang-gadang sebagai suksesor pemimpin sekarang. Presiden dan ketua PSSI ‘pusing’ tujuh kelilin memikirkan bola. Belum lagi Sang Presiden juga tertekan dengan isu aliran dana Rp 345 triliun terkait pencucian uang yang dramanya juga mengguncang publik tanah air.
Dunia bola memang seksi baik dari sisi bisnis maupun politik. PSSI menghadapi kemelut berkepanjangan salah satunya karena alasan ini. Sepak bola bak sebuah ‘agama baru’ dengan jamaat yang sangat masif yang kerumunannya sarat peluang. Di negara seperti Argentina dan Brazil mengelola sepak bola dengan baik bisa mempunyai benefit secara politik bagi penguasa baik untuk mendulang dukungan politik massa atau anestesi ketika penguasa salah urus negara. Misalnya ketika Tim Argentina berhasil memboyong piala dunia, untuk jangka waktu tertentu bisa membius warga Argentiana yang telah dahaga juara dunia dari situasi ekonomi yang sulit karena krisis global pasca pandemi dan perang Rusia-Ukraina.
Upaya mengkapitalisasi bola untuk mendulang dukungan politik juga terjadi di Indonesia. Posisi puncak PSSI menjadi rebutan, bahkan seorang menteri olah raga rela mundur dari jabatan untuk menduduki wakil ketuanya. Sepak bola diimani sebagai roket peluncur bagi mimpi kuasa yang lebih besar. Berhasil menggelar event bergengsi ini, dipercaya melejitkan elektabilitas.
Namun itu hanya angan-angan saja. Faktanya bola malah menjadi kutukan bagi para pemburu kuasa. Tak lain karena mereka punya agenda yang saling bersaing. Kutukan bola memantul ke semua arah membuyarkan semua agenda. Bagi mereka yang ingin helatan ini berhasil, pembatalan ini adalah pil yang sangat pahit dan beracun. Bagi yang berharap helatan ini gagal demi menjegal lawan politik, ia juga harus dihukum oleh para penggandrung bola yang merasa kecewa. Bagi ‘Garuda Muda’ ini ibarat layu sebelum berkembang. Kerja keras mereka dua tahun ini sia-sia, ketika mereka kehilangan panggung yang langka ini.
Kutukan bola membuat situasi simalakama. Saling menuding dan menyalahkan. Tapi semua pasti ada hikmah dan pelajaran yang harus direnungkan. Barangkali memang benar Tuhan ada di bola. Tuhan menghukum kita sebagai bangsa yang lupa dengan 135 korban tragedii kanjuruhan. Para tersangka divonis ringan dan dua divonis bebas. Mana bisa kita berpesta pora di atas jeri tangis duka mereka.
Sepak bola memang tidak bisa membangun karakter, tapi sepak bola bisa menguak karakter kita sebenarnya. Lionel Messi pernah mengatakan Saya lebih suka menjadi orang yang baik daripada menjadi pemain sepak bola terbaik di dunia.”
Jangan-jangan selama ini kita memang sosok raja tega dan tuna nurani. Memandang remeh nyawa, berambisi menggelar pesta bola demi mendulang simpati dan kuasa. Di mana kamu menghadap di situ ajah wajah Tuhan, termasuk di bola juga. So, Bertobatlah, Tuhan masih barangkali diberikan kesempatan kedua. Dengan bola, tanpa mengorbankan nurani kita.

Stempel waktu