Kisah diadaptasi dari Biografi Fu Rong yang terdapat dalam bagian Catatan Negara-Negara Bawahan (Zaiji) di dalam Kitab Jin. Sosok Fu Rong yang ditampilkan dalam cerita ini bukanlah karakter fiksi, melainkan tokoh sejarah yang hidup lebih dari 1.600 tahun yang lalu.
Ia hidup pada masa dinasti yang dikenal sebagai "Qin Awal" dan merupakan adik kandung dari kaisar yang berkuasa saat itu. Dalam catatan sejarah, Fu Rong sejak kecil memiliki kecerdasan luar biasa, beranjak dewasa ia menonjol karena piawai dalam seni sastra maupun seni bela diri, terlebih memiliki kejeniusan dalam mengadili perkara hukum.
Pada wilayah dibawah yurisdiksinya, nyaris tak ditemukan tindak pencurian; bahkan, misalnya ada sebuah benda yang terjatuh di tanah, tak seorang pun berani memungut lalu mengklaim sebagai miliknya. Sebab, semua orang tahu hakim Fu Rong memiliki ketajaman penglihatan yang luar biasa—tak ada satu hal pun yang luput dari pengamatannya.
Menyelesaikan kasus penjambretan melalui sebuah lomba lari—sesuatu yang telah dia lakukan lebih dari sekali. Logika di baliknya sebenarnya tidak sulit dipahami. Namun, mampu tenang di tengah kekacauan hingga ke tingkat ini, membutuhkan kebiasaan pengamatan yang tajam dalam kehidupan sehari-hari, disertai hati yang tidak mau menuduh siapa pun secara tidak adil.
🎒 subscribe channel TAS KECIL, bantu anak bertumbuh dari cerita
Selesai dengar cerita ini, kalian tidur ya adik-adik.
Zaman dulu, dulu sekali, seorang nenek berjalan perlahan dengan tongkat menyusuri jalan.
Kala itu, matahari sudah hampir terbenam.
Saat itu, tepat senjakala, tiba-tiba sesosok bayangan hitam melesat mendekat.
Aduh, bungkusan di tangan nenek ditarik dengan kasar.
Bungkusan nenek dijambret.
Aduh, nenek jatuh terduduk di lantai.
Uang nenek yang ditabung sekian lama semua ada di buntelan itu.
Nenek berteriak sekeras-kerasnya,
Maling! Ada maling! Maling!
Tangkap malingnya!
Pemuda di tepi jalan mendengar teriakan nenek minta tolong
tanpa berpikir ia langsung melesat ke arah penjambret.
Dengan susah payah, nenek bangkit berdiri mengikuti perlahan dari belakang.
Tak lama pemuda berhasil mengejar si penjambret.
Ia menangkap si pencuri, tapi si pencuri melawan balik.
Mereka berdua saling tarik-tarikan dan bergumul.
Ada yang berantem! Tolong! Ada yang berantem!
Tak lama, orang-orang di jalan berkumpul jadi keramaian.
Salah satu yang sedang berantem melihat kerumunan mendekat terus berhenti.
Ia menunjuk lawannya dan berkata,
Dia penjambretnya!
Emang kosong! Kau penjambretnya!
Si pemuda meninggikan volume suara berkata,
Bapak ibu, saya mengejar pencuri cuma niat baik menolong nenek.
Orang ini malah berbalik fitnah saya!
Pemuda satunya lagi dengan wajah memerah membantah,
Kau yang menjambret! Makanya aku menangkapmu!
Begitulah keduanya bolak-balik sekata-sekata menyebut pihak lain penjambret.
Siapa penjambretnya ya?
Penonton semua saling berpandangan, semua juga tak tahu yang mana.
Untungnya, tak lama nenek datang dengan terhuyung-huyung.
Seorang penonton segera minta nenek mengenali siapa sebenarnya yang telah menjambret bungkusannya.
Di saat itu, matahari sudah hampir terbenam.
Di jalan hanya terang dari secercah sisa cahaya siang.
Nenek menyimpitkan matanya mengamati seksama kedua anak muda itu.
Aduh, dua orang ini tingginya hampir sama, usia juga mirip.
Coba kau tunjuk yang mana yang menjambret bungkusanmu tadi, Nek.
Nenek melihat ke kiri, melihat juga ke kanan.
Yang ini? Hmm, sepertinya bukan.
Apakah yang itu?
Ah, saya juga tidak yakin betul.
Tangan nenek terus-menerus bertumpu di dadanya.
Bingung dan ragu tak tahu menunjuk yang mana.
Aduh, nenek pun tak bisa memberi penjelasan yang mana.
Akhirnya, mereka semua mencari bantuan hakim di pengadilan lokal.
Hakim yang menangani adalah Furong yang sangat hebat memutuskan perkara.
Furong duduk di aula utama menyaksikan ketiga orang tersebut masuk.
Seorang nenek dan dua anak muda.
Salah satu anak muda berseru begitu masuk.
Yang mulia, dia penjambretnya.
Anak muda yang lainnya membantah, dialah penjambretnya.
Dengan sabar, Furong mendengarkan seluruh urayan peristiwa yang terjadi.
Ia juga melihat ke arah nenek.
Nenek menggelengkan kepala.
Yang mulia, kejadiannya amat cepat.
Waktu itu langit sudah gelap.
Saya benar-benar tidak melihat jelas wajah penjambretnya yang mulia.
Nenek yang terlibat pun tak dapat mengenali.
Bagaimana aku memutuskan perkara ini?
Furong merenung secenak.
Lalu ia menurunkan sebuah perintah yang aneh.
Petugas pengadilan membawa kedua pemuda keluar.
Semua penonton lantas mengikuti di belakang.
Tak seorang pun paham apa yang ada di dalam pikiran Hakim Furong.
Mengapa menyuruh mereka berlari?
Petugas membawa kedua pemuda menuju jalanan.
Mereka diberitahu pemenangnya akan diberi hadiah.
Selesai berkata, lalu memberi aba-aba.
Siap, lari!
Selesai aba-aba, kedua pemuda langsung melesat lari.
Mereka mengerahkan segenap tenaga berlari.
Tangan mereka bergerak ke depan dan ke belakang.
Sesaat belum ketahuan siapa yang akan berlari paling depan.
Tiba-tiba salah satu pemuda terpeleset jatuh.
Dia tertinggal, tapi langsung bangun dan lari lagi.
Ia tidak menyerah, terus mengejar ketinggalan.
Saat sudah dekat ke gerbang kota,
wuss dia berhasil menyalip mendahului orang di depannya.
Petugas pengadilan yang berjaga di gerbang kota
menghampiri pemuda yang menang lomba lari.
Ia menyerahkan sebuah hadiah, berkata sambil tersenyum.
Sudah beres, sekarang kau boleh pergi.
Ternyata Hakim Furong sudah berikan instruksi
lepaskan anak muda yang larinya lebih cepat,
yang kalah diringkus dan dibawa petugas kembali ke pengadilan.
Hakim Furong duduk di aula utama penuh keyakinan.
Ia mengebrak balok kayu Hakim dan berkata,
kau yang merampas bungkusan nenek lalu kabur.
Ia terlambat beberapa saat namun tetap berhasil mengejarmu.
Pandangan mata Furong tajam melihat ke arah pemuda yang kalah.
Kata demi kata dengan jelas berkata,
yang berlari lebih lambat itu penjamret.
Kau masih mau memfitnah orang lain?
Pemuda yang kalah setelah mendengar analisa Hakim,
ia tidak berani menatap mata Hakim Furong.
Kepalanya tertunduk dalam dan berlutut.
Yang mulia saya mengaku bersalah.
Gemuruh suara tepuk tangan di luar ruang sidang.
Semua penonton berkata,
yang mulia Furong langsung dapat melihat inti permasalahan,
terpikir dengan cara ini.
Wah, yang mulia kita sungguh-sungguh hebat.
Malam harinya nenek sudah tidur pulas dengan tenang.
Para penjaga menutup pintu pengadilan juga sudah tertidur.
Bulan pun sudah tertidur.