EksklusifPusaka yang Mulia, Sesungguhnya Tak Terlihat 😲 #kebudayaantradisional #小書包 #taskecil #ceritaanak #pusakasunshuao

TAS KECIL Siao Shu Bao Indonesia
203 pengikut
Seorang bocah bertemu seekor ular berkepala dua—makhluk yang konon membawa kematian bagi yang melihatnya. Meski ketakutan, ia mengambil keputusan yang berani... Kelak dewasa, ia menjadi Perdana Menteri negara Chu! Mari simak kisah Sun Shu’ao, seorang negarawan terkemuka dari Masa Musim Semi dan Gugur!
🎒 Subscribe TAS KECIL, bantu anak bertumbuh dari cerita
#ganjingkids #kids #pusakaShunShu-Ao #ganjingcampussummercamp #kebudayaantradisional
Zaman dahulu kala, di negara Chu, hidup seorang anak laki-laki bernama Shun Shu Ao.
Hari itu, dia bermain sendirian di luar.
Tiba-tiba, terdengar bunyi kresek-kresek dari rerumputan, ia mendekat.
Wah, ular! Ular berkepala dua!
Shun Shu Ao tertepun.
Di zaman itu, beredar sebuah mitos.
Siapapun yang bertemu ular berkepala dua akan sial besar, bahkan mungkin bisa meninggal.
Shun berdiri melongo dengan tatapan kosong, jantungnya berdegup kencang.
Dia ingin berbalik badan lantas lari, tapi terlintas pikiran lain di benaknya.
Jika ku pergi, bukankah masih ada orang lain yang melihat ular berkepala dua ini?
Bukankah orang ini juga akan sial besar?
Maka Shun Shu Ao mengumpulkan keberanian.
Dia mengambil sebuah batu.
Sambil menahan takut yang besar, ia berhasil membunuh ular tersebut.
Lalu ia menggali lubang, mengubur ular dalam-dalam.
Saat pulang ke rumah, begitu melihat ibunya, air mata Shun Shu Ao langsung jatuh.
Ibu ngemeluk erat dan bertanya dengan lembut.
Ada apa nak?
Saya tadi, tadi saya bertemu ular kepala dua.
Mungkin, mungkin saya sudah mau meninggal.
Ibu tidak panik dan bertanya.
Ularnya di mana?
Saya, saya takut orang lain melihatnya lagi.
Saya, saya sudah bunuh dan kubur bu.
Mendengar itu, ibu membelai kepala Shun berkata dengan lembut.
Jangan cemas nak, honon.
Tuhan membalaskan berkah bagi pelaku kebajikan rahasia.
Niatmu baik, kau selalu memikirkan orang lain.
Tuhan pasti akan melindungi dan merawatmu nak.
Hari demi hari berlalu, benar saja Shun Shu Ao tidak meninggal.
Sepertinya Shu mendapat perlindungan khusus dari Tuhan.
Hari demi hari, ia tumbuh dewasa.
Hari demi hari, ia menjadi semakin unggul.
Hingga suatu hari, Raja Chu mengangkat Shun Shu Ao sebagai Lingyin,
yaitu Perdana Menteri Negara Chu.
Wah, ini tangkat yang sangat tinggi.
Banyak sekali tamu yang khusus datang mengucapkan selamat depan ibu rumah Shun Shu Ao.
Satu demi satu, kereta kuda berdatangan.
Satu persatu, tamu berpusana cerah dipersilakan masuk.
Ada yang datang membawa bingkisan, ada yang mengucapkan selamat dengan membungkuk hormat.
Suara tawa di sisi ini belum memudar.
Ucapan selamat lainnya datang menyusul.
Tepat di saat ini, depan pintu kedatangan seseorang yang sangat berbeda.
Ia seorang kakek, warna pakaiannya suram bahan kain kasar yang dikenakan di atas kepala kakek.
Sebuah topi berwarna putih, namun bukan topi untuk menghadiri perayaan.
Tapi ketika ada yang meninggal, mengenakan topi putih saat melayat berbela sungkawa.
Semua yang hadir terdiam saat melihat kakek.
Ada yang berbisik-bisik, ini jelas hari yang penuh sukacita.
Bagaimana bisa datang dengan pakaian seperti itu?
Seolah-olah datang membawa sial dan merusak suasana.
Shun Shu Ao mendapat laporan, ia bukan saja tidak marah.
Sebaliknya, ia merapikan pakaian keluar menyambut tamu istimewa.
Shun Shu Ao membungkuk, memberikan hormat kepada kakek.
Raja Chu tidak memahami saya ini, tak semestinya mempercayakan jabatan sepenting ini kepada saya.
Hari ini semua datang memberi selamat, namun Anda menyatakan dukacita.
Adakah yang ingin disampaikan sebagai pengingat untuk saya?
Kakek mengangkat kepala, menatap Shun Shu Ao sejenak.
Tatapan kakek tenang, tak ada gembira atau marah.
Nada dan tempo bicara pun biasa saja.
Seseorang jika telah mencapai posisi terhormat,
jika bersikap angkuh, maka perlahan-lahan akan ditinggal orang-orang.
Jika mencapai kedudukan tinggi, namun bertindak mengandalkan kekuasaan.
Sang penguasa pun mulai tidak menyukainya.
Penghasilannya sudah sangat banyak, tapi masih merasa tidak puas.
Bencana akan cepat menyusul.
Wah, kakek memang datang untuk menasehati Shun Shu Ao.
Maka sekali lagi, Shun Shu Ao mengbungkuk menghormati.
Ekspresi dan nadanya serius.
Terima kasih Anda telah mengingatkan.
Jangan bosan membimbing saya.
Kakek mengganggu, lalu berkata
Ingat tiga hal ini.
Posisi semakin tinggi, hati justru semakin rendah.
Jabatan semakin besar, wajib mawas diri.
Jika yang diperoleh sudah mencukupi, wajib menahan diri.
Berhentilah, jangan meminta lagi.
Asalkan menjaga ketiga prinsip ini,
miscaya negara Chu bisa dikelola dengan baik.
Selesai mendengar Shun Shu Ao membungkuk,
kedua tangan tertangkuk tanda hormat.
Sungguh tercerakan.
Akan saya resapi dan selalu ingat bimbingan Anda.
Kakek tidak berkata-kata lagi.
Dia berbalik badan dan pergi.
Shun Shu Ao berdiri di pintu,
mengamati kakek semakin menjauh.
Hingga topi putih kakek lenyap di balik tikungan jalan.
Setelah menjabat Perdana Menteri,
Shun Shu Ao menjadikan seluruh rakyat Chu
menikmati kehidupan yang damai dan mahmur.
Raja Chu menjadi salah satu
dari lima penguasa periode musim semi dan kubur.
Bertahun-tahun kemudian, Shun Shu Ao sudah sepuluh.
Ia memanggil putranya dan memberikan pesan.
Anakku, jika kelak Raja Chu ingin mengaduk rakan tanah,
maka kau harus memilih Chin Chu.
Mendengar itu, sang putra bertanya keheranan.
Ayah, Chin Chu tempatnya terpencil dan tandus.
Selain rumput liar, tak ada lainnya lagi.
Mengapa memilih tempat ini?
Shun Shu Ao memejamkan matanya yang arif bijaksana.
Ia tersenyum tipis, berkata,
justru karena dia tidak ideal,
maka semua orang tidak menginginkannya.
Tak ada yang berebut.
Barulah aman untuk jangka panjang.
Chin Chu, tanah gersang Shun Shu Ao ini,
terbukti aman diwariskan ke anak cucu
hingga sepuluh generasi.
Di sini channel Tas Kecil,
cerita pusaka Shun Shu Ao sudah selesai.
Menurutmu, apa sih pusaka keluarganya?
Tanah Chin Chu kah?
Atau ada yang lainnya lagi?
Coba adik bagikan pemikiranmu di kancing word.
Cari channel Tas Kecil,
tuliskan di kolom komen ya.
Daaah...
