EksklusifAjaibnya Lukisan Ini, Bisa Selamatkan Pemiliknya? #小書包 #ceritapengantartidur #ganjingcampus

TAS KECIL Siao Shu Bao Indonesia
209 pengikut
Li Tie-guai (Tie-guai Li), ia dituakan oleh Delapan Dewa Taoisme; berciri khas sosok buruk, kaki pincang, memakai tongkat besi. Konon sebenarnya ia pertapa yang tampan dan gagah, karena suatu hal, jiwanya menempati tubuh seorang pengemis pincang.
🎒 subscribe TAS KECIL, membantu anak-anak "Bertumbuh Dari Cerita" !
#ganjingcampus #kids #ganjingcampussummercamp #kebudayaantradisional
Pagi-pagi, aktivitas di Jalan Tacing sudah sangat ramai.
Toko obat Chu Yang Sing sudah padat oleh pembeli.
Ramainya toko seperti pasar.
Pelayan sibuk hingga basah keringat.
Orang yang lewat bertanya keheranan,
mengapa toko obat yang satu ini begitu ramai?
Ada kakek bilang,
Dulu toko obat Chu Yang Sing sepi pembeli.
Chu Yang Sing sebelum sekarang
hanya sebuah kedai obat yang biasa-biasa saja.
Dalam sehari, langgan yang mampir cuma beberapa.
Suatu hari ada pengemis berdiri di luar pintu,
berteriak serak dan berat.
Kasihani saya, tolong saya.
Suara yang menyelukan terdengar oleh pemilik toko.
Bergegas ia keluar.
Ada apa gerangan?
Wah, ia melihat petis pengemis berdara cukup parah.
Bukan hanya cairan darah, juga ada nana.
Dan tercium bau yang sangat menyengat.
Pemilik kedai tidak tega melihatnya.
Dia segera mengambil air dan obat, juga kain perban.
Dengan telaten, dia membersihkan luka di petis pengemis.
Dan darah pada petis sudah berhenti.
Selesai membalut luka, pemilik kedai menanyakan pengemis.
Apakah sudah makan?
Pengemis menggeleng.
Belum, saya sangat lapar.
Pemilik kedai kembali membawa makanan.
Juga uang receh diberikan pada pengemis.
Pengemis bertumpu pada tongkat besinya.
Tung, tung, tung, satu, satu.
Pergi dengan menyeret langkah terpincang-pincang.
Pengemis jadi sering datang ke kedai obat.
Setiap kali datang, pemilik kedai mengganti perbannya.
Tak lama, kaki pengemis sudah bisa menginjak tanah.
Lalu, kaki pengemis tidak pincang lagi.
Suatu hari, pengemis datang ke kedai obat.
Dia masuk ke dalam dan berkata kepada pemilik kedai.
Saya ingin hadiahkan sesuatu sebagai balas budi.
Lalu, dia keluarkan selembar kertas dari bajunya.
Dia gelarkan di atas tanah.
Eh, apa yang ingin dilakukan pengemis?
Terlihat, ia berjalan ke pojokan.
Mengambil sebuah sapu?
Apa, ia mau menyapu lantai?
Bukan, pengemis mencelupkan sapu ke dalam tinta.
Tangannya bergerak melambai.
Ia menggambar sketsa seekor naga.
Sapunya melenting tinggi.
Bungkung naga melengkung ke atas.
Berputar cakar naga mencengkram kuat di tanah.
Kebas lagi.
Ekor naga yang bergerak selesai digambar.
Terakhir, melukis detil jangkut naga.
Nah, gambar seekor naga seakan hidup.
Bertengger di atas kertas.
Dia seperti ingin menghantam keluar.
Wah, karyawan yang menyaksikan sampai meloncat mundur.
Kaget dan ketakutan.
Pengemis berkata kepada pemilik kedai.
Gantung lukisan ini di dinding.
Saat dalam bahaya bisa menyelamatkanmu.
Saat semua orang masih mengagumi lukisan naga hitam.
Tiba-tiba henggusan angin bertiup kencang.
Lalu si pengemis menghilang.
Wah, semua orang terkejut.
Ramai berkomentar.
Pengemis ini bukan sembarang orang.
Atau Tengkat Besili.
Salah satu dari delapan dewa.
Lukisan digantung di tembok dan dihormati.
Pagi dan malam dibakar dupa wangi.
Hingga suatu malam di musim panas.
Cuaca saat itu panas juga sumpok.
Tiba-tiba ada yang berteriak.
Kebakaran! Kebakaran!
Ternyata rumah tetangga yang terbakar.
Kobaran api sudah membobol atap,
genteng rumah pecah berhamburan.
Baluk-baluk atap mengepukkan asap
dan mengeluarkan suara gemerta kayu terbakar.
Sekejap saja kobaran api menyebar luas.
Banyak rumah yang terbakar.
Pemilik kedai obat,
Chu Yangxin yang sedang di dalam rumah ingin menerobos keluar.
Namun mereka terkurung dalam kobaran api.
Tak bisa keluar.
Tepat saat itu, naga dalam lukisan di dinding bergerak.
Tubuh si naga mengulet,
ekornya dikebas.
Biar!
Lalu turun air.
Bukan sedikit air,
tapi semburan air yang dasyat tertuang ke titik api.
Dengan sangat cepat apinya padam.
Saat orang-orang mendobrak masuk ingin memadamkan api,
terlihat pemilik kedai Chu Yangxin di pojok tembok.
Ia duduk di lantai,
masih terguncang siok.
Ah!
Itu!
Naga!
Namun lukisan naga di dinding masih tetap bersih.
Si naga pun sudah tenang diam,
seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sejak hari itu,
perihal lukisan kedai Chu Yangxin menyelamatkan nyawa
begitu cepat menyebar ke setiap rumah-rumah.
Orang-orang berdecak kagum,
mengatakan itu lukisan pemberian dari dewa sakti.
Eh, cerita ini sampai juga ke telinga para pencuri.
Timbul niat jahat di benak mereka.
Di suatu malam yang gelap kulita,
diam-diam mereka menyelinap masuk ke kedai obat.
Itu dia!
Cepat ambil!
Tepat tangan si pencuri akan menyentuh lukisan.
Tiba-tiba, lukisan berubah menjadi dua.
Loh, kenapa bisa begini?
Si pencuri ketakutan hingga mulut menganggah lebar.
Belum juga selesai bicara.
Dua buah lukisan menjadi empat.
Dari empat buah berubah jadi delapan.
Dalam sekejap, lukisan berubah jadi ratusan buah.
Para pencuri dikelilingi oleh lukisan-lukisan tersebut.
Cepat!
Keluar!
Lari!
Cepat lari!
Akhirnya, tiga pencuri lari tunggang langgang keluar gam.
Menengok pun, sudah tidak berani.
Ketika hari sudah teram,
pintu toko obat Chu Yang Sin dibuka.
Pemilik toko seperti biasa,
mengambil obat,
membungkus obat.
Pelayan toko di sampingnya,
merapikan stok les obat.
Lukisan di dinding,
ia tenang-tenang saja tergantung di dinding.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa tadi malam.
Pemilik toko obat,
Chu Yang Sin,
yang terkantuk-kantuk,
sudah tertidur.
Naga,
dalam lukisan pun,
telah memejangkan matanya
dan tertidur.
Bulan,
juga sudah tertidur.
