Di tengah meningkatnya ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan, Presiden Rusia Vladimir Putin mengajukan draf perjanjian kemitraan strategis penuh dengan Korea Utara ke Duma Negara Rusia pada 15 Oktober 2024. Langkah ini menandai upaya Rusia untuk memperkuat aliansi militernya, terutama di saat Rusia semakin terisolasi di panggung internasional. Perjanjian ini mencakup prinsip bahwa jika salah satu negara diserang, negara lainnya harus memberikan bantuan militer, termasuk terlibat langsung di medan perang. Aliansi strategis ini turut memperdalam keterlibatan Rusia dalam dua zona konflik besar: perang Rusia-Ukraina dan krisis Korea. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh bahwa ribuan tentara Korea Utara sudah berada di garis depan perang di Ukraina, memperburuk eskalasi. Berdasarkan laporan seorang pejabat Barat, Korea Utara telah mengirimkan sekitar 10.000 tentara untuk mendukung Rusia, meskipun jumlah ini dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap jalannya perang. Langkah ini menunjukkan tanda keputusasaan dari pihak Moskow, yang terus mengalami kekalahan dalam konflik berkepanjangan di Ukraina.
Salam Pemirsa.
Di tengah meningkatnya ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan,
Presiden Rusia Vladimir Putin
mengajukan draft perjanjian kemitraan strategis penuh dengan Korea Utara
ke Duma Negara Rusia pada 15 Oktober 2024.
Langkah ini menandai upaya Rusia untuk memperkuat aliansi militernya,
terutama di saat Rusia semakin terisolasi di panggung internasional.
Perjanjian ini mencakup prinsip bahwa jika salah satu negara diserang,
negara lainnya harus memberikan bantuan militer,
termasuk terlibat langsung di medan perang.
Aliansi strategis ini turut memperdalam keterlibatan Rusia dalam dua zona konflik besar,
perang Rusia-Ukraine dan krisis Korea.
Presiden Ukraina Vladimir Zelensky
menuduh bahwa ribuan tentara Korea Utara sudah berada di garis depan perang di Ukraina,
memburuk-buruk eskalasi.
Berdasarkan laporan seorang pejabat barat,
Korea Utara telah mengirimkan sekitar 10.000 tentara untuk mendukung Rusia,
meskipun jumlah ini dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap jalannya perang.
Langkah ini menunjukkan tanda keputus asaan dari pihak Moskow
yang terus mengalami kekalahan dalam konflik perkepanjangan di Ukraina.
Selain ketegangan militer,
upaya diplomatik Rusia juga menghadapi tantangan serius.
Putin berencana menggelar KTT BRICS pada 22 Oktober 2024 di Kazan,
yang awalnya dimaksudkan untuk memamerkan kekuatan diplomatik Rusia.
Namun acara tersebut berakhir dengan penghinaan setelah Putra Mahkota Arab Saudi menolak undangan Putin,
dan negara-negara penting dalam BRICS seperti India dan Afrika Selatan tidak mengirimkan perwakilan tingkat tinggi.
Bahkan 6 negara BRICS lainnya secara terang-terangan menolak hadir.
Rusia merencanakan sejumlah inisiatif ekonomi dalam KTT BRICS,
termasuk sistem pembayaran alternatif yang memotong ketergantungan pada Dolar AS dan PON Inggris,
serta pusat clearing antarabang sentral BRICS.
Namun inisiatif ini gagal menarik perhatian negara-negara BRICS
mempertegas isolasi diplomatik yang dihadapi Rusia.
Dari 38 negara yang diundang,
hanya 24 yang mengirim perwakilan tingkat pemimpin,
mayoritas berasal dari negara-negara miskin.
Rusia juga terlibat dalam krisis di Timur Tengah.
Pada 15 Oktober 2024,
Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu,
mengunjungi fasilitas intelijen militer di Tel Aviv untuk membahas strategi serangan balasan terhadap Iran.
Meskipun Israel tidak berencana menyerang fasilitas nuklir atau minyak Iran,
ancaman eskalasi tetap ada,
terutama karena pengaruh Iran di wilayah tersebut melalui kelompok militan seperti Hezbollah.
Sementara itu,
laporan dari CNN menunjukkan bahwa sistem pertahanan Israel yang dirancang untuk menghadapi rudal
tidak cukup efektif melawan serangan drone Hezbollah.
Merespon hal ini,
Amerika Serikat mulai mengerahkan sistem pertahanan rudal THAAD di Israel
dengan gelombang pertama personel militer AS telah tiba di negara tersebut.
Hal ini mendandai peningkatan keterlibatan militer AS
dalam menjaga keamanan Israel dari ancaman rudal Iran.
Sementara ketegangan meningkat di Timur Tengah,
situasi di Amerika Serikat juga menghangat menyusul laporan ancaman terhadap mantan Presiden Donald Trump.
Pemerintahan Biden telah memperingatkan Iran agar tidak mengancam nyawa Trump
setelah dugaan upaya pembalasan Iran atas pembunuhan General Qasem Soleimani pada 2020.
Ancaman ini dianggap sebagai deklarasi perang oleh AS.
Menurut pejabat yang tidak disebutkan namanya,
setiap ancaman terhadap Trump akan memicu respon militer dari Amerika Serikat.
Dalam beberapa kesempatan,
Trump sendiri menyebutkan bahwa upaya pembunuhan terhadap dirinya telah dilakukan oleh Iran beberapa kali
namun gagal.
Peringatan Biden terhadap Iran ini mempertegas komitmen AS untuk melindungi mantan Presidennya
dan meningkatkan anggaran perlindungan bagi Trump melalui dinas rahasia AS, Secret Service.
Rusia kini menghadapi tantangan besar di berbagai arena konflik
baik di Ukraina, Timur Tengah maupun dalam diplomasi internasionalnya.
Aliansi strategis dengan Korea Utara mungkin memberikan beberapa keuntungan militer bagi Rusia.
Tetapi langkah ini juga memperparah isolasi internasional yang dialami negara tersebut.
Di sisi lain, AS terus memperkuat posisinya di Timur Tengah
baik dalam mendukung Israel maupun melindungi mantan Presidennya Donald Trump dari ancaman Iran.
KTT-BRICS yang gagal juga menunjukkan
bahwa pengaruh Rusia di dunia internasional semakin menurun
sementara negara-negara kunci dalam BRICS menjaga jarak dari keterlibatan dengan Rusia.
Cukup sekian dulu. Terima kasih atas perhatiannya.