Perubahan iklim, konflik dunia, dan gangguan perdagangan dapat memengaruhi ketersediaan makanan bagi masyarakat. Pemerintah menjadikan food estate sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan produksi dan mengurangi ketergantungan pada impor pangan.
Namun, ketahanan pangan tidak cukup dibangun dengan membuka lahan seluas-luasnya. Tanah bukanlah kertas kosong. Di atasnya terdapat hutan, sungai, rawa, gambut, petani lokal, masyarakat adat, dan kebiasaan pangan yang telah tumbuh selama beberapa generasi.
Episode 11 dari serial Menata Negara — Stop Sosialisme membahas pertanyaan penting: Apakah food estate benar-benar memperkuat petani dan ketahanan pangan, atau justru menjadi proyek raksasa yang dirancang jauh dari kehidupan masyarakat lokal? BPK pernah menemukan bahwa perencanaan food estate yang diperiksa belum didasarkan pada data dan informasi yang valid. Pelaksanaan sejumlah kegiatan di Kapuas dan Pulang Pisau juga belum sesuai dengan ketentuan.
Pemantauan Pantau Gambut yang diberitakan Mongabay Indonesia juga menemukan lahan terbengkalai serta kawasan food estate yang berubah menjadi perkebunan sawit di Kabupaten Kapuas.
Temuan tersebut bukan berarti seluruh pertanian berskala besar pasti gagal.
Teknologi, mekanisasi, investasi, jalan, gudang, dan irigasi tetap dibutuhkan. Namun, petani lokal harus menjadi pelaku utama. Mereka tidak boleh hanya menjadi tenaga kerja atau penonton di atas tanahnya sendiri. Ketahanan pangan sejati harus menghasilkan: • Tanah yang produktif. • Petani yang sejahtera. • Lingkungan yang terjaga. • Pangan lokal yang semakin kuat. • Masyarakat yang tetap menguasai sumber pangannya.
Tuliskan pendapat Sahabat Patriot: Apakah ketahanan pangan lebih baik dibangun melalui proyek lahan raksasa atau dengan memperkuat jutaan petani yang sudah ada? Jangan lupa like, komentar, bagikan, dan subscribe agar tidak tertinggal Episode 12: Rumah Rakyat — Rumah Layak atau Sekadar Mengejar Target?
Serial ini dibagi menjadi beberapa fase
Fase 1 — Cara Pandang yang Rusak
Episode 1: Kembali Menata Negara Episode 2: Manusia Bukan Sekadar Perut Episode 3: Sama Rata Sama Rasa: Keadilan Palsu Episode 4: Negara Menggantikan Tuhan
Fase 2 — Program yang Menciptakan Ketergantungan
Episode 5: Bantuan atau Belenggu Episode 6: Subsidi BBM Episode 7: Bansos Episode 8: MBG Episode 9: BPJS dan KIP Episode 10: Koperasi Merah Putih, Food Estate, Rumah Rakyat
Fase 3 — Jalan Pulang
Episode 11: Keluarga sebagai Benteng Episode 12: Tradisi yang Hilang Episode 13: Hukum Tabur-Tuai Episode 14: Belas Kasih yang Membebaskan Episode 15: Negara Terbatas, Rakyat Bermartabat
Simak dan pahami setiap episodenya secara urut dan jangan lupa tuliskan komentar anda!
The video critiques the \"food estate\" project in Indonesia, arguing that true food security should be built by empowering local farmers rather than implementing top-down, large-scale state projects. It highlights the failures of previous initiatives due to poor planning and environmental neglect, urging a shift toward supporting local wisdom and diverse food sources.
Negara seharusnya memperkuat kemampuan rakyat dalam menghasilkan pangan.
Bukan menggantikan rakyat dengan proyek negara.
Salam Patreon, salam sahabat.
Sahabat Patreon, di edisi yang ke-11 ini kita angkat food state.
Ketahanan pangan atau proyek raksasa negara.
Sahabat Patreon, mari kita bayangkan seorang petani yang sudah puluhan tahun hidup dari tanahnya.
Ia tahu kapan hujan biasanya datang.
Ia tahu bagian tanah yang mudah tergenang.
Ia tahu tanaman apa yang cocok.
Kapan hama muncul.
Dan bagaimana keluarganya bertahan ketika planet gagal.
Lalu suatu hari, datang sebuah rancangan besar dari pusat.
Di atas peta, ribuan hektare tanah diberi warna.
Alat berat diturunkan, saluran dibangun, bibit dibagikan, target produksi diumumkan.
Semuanya terlihat meyakinkan.
Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan.
Apakah orang yang membuat rancangan itu benar-benar memahami tanah dan masyarakat yang akan menjalannya?
Inilah pertanyaan kita ketika membahas food estate.
Indonesia memang membutuhkan ketahanan pangan.
Jumlah penduduk kita besar, perubahan iklim, konflik dunia, dan gangguan perdagangan dapat mempengaruhi pasokan makanan.
Pemerintah terus melanjutkan pengembangan food estate.
Termasuk di Merauke, sebagian dari strategi ketahanan pangan nasional.
Pemerintah juga menilai proyek tersebut dapat membuka akses infrastruktur serta lapangan kerja di kawasan timur Indonesia.
Tujuannya baik.
Tetapi sahabat patriot, tujuan yang baik tetap harus diuji melalui cara dan hasilnya.
Ketahanan pangan tidak cukup dibangun dengan membuka lahan seluas-luasnya.
Tanah bukanlah kertas kosong.
Di sana ada hutan, rawa, gambut, sungai, masyarakat adat, petani lokal,
serta kebiasaan pangan yang telah hidup selama puluhan, bahkan ratusan tahun.
Ketika semua itu diabaikan, proyek pangan dapat berubah menjadi sekedar proyek pembukaan lahan.
Kita sudah mendapatkan peringatan dari pengalaman Kalimantan Tengah.
Badan pemeriksa keuangan menemukan bahwa perencanaan food estate periode 2020 sampai triwulan ketiga 2021
belum didasarkan pada data dan informasi yang valid.
Pelaksanaan survei, desain, ekstensifikasi dan intensifikasi di Kabupaten Kapuas
serta Pulau Pisau juga ditemukan belum sesuai dengan ketentuan.
Artinya, persoalannya bukan hanya cuaca atau petani yang tidak siap.
Masalahnya sudah muncul sejak tahap perencanaan.
Media Indonesia kemudian memperlihatkan keadaan di lapangan.
Laporan Monggobay Indonesia yang mengutip pemantauan Pantau Gambut
menemukan dari 18 titik lahan yang telah dibuka di Kalimantan Tengah,
15 titik terbengkalai dan 3 titik berubah menjadi perkebunan sawit.
Sekitar 274 hektare kawasan food estate di sejumlah desa di Kabupaten Kapuas
juga ditemukan telah ditanami sawit.
Lahan yang sebelumnya dibuka untuk pangan, akhirnya menjadi semak belukar atau beralih fungsi.
Ini bukan sekedar kegagalan mencapai target.
Ada biaya lingkungan, ada anggaran negara, ada harapan petani,
dan ada tanah yang tidak mudah dipulihkan.
Sahabat Patriot, sebelum kita lanjut, tekan tombol like apabila pembahasan ini penting
dan tulis pendapat Anda di kolom komentar.
Apakah ketahanan pangan lebih baik dibangun melalui proyek lahan raksasa
atau dengan memperkuat jutaan petani yang sudah ada?
Yuk bagikan video ini agar semakin banyak orang berani memikirkan kembali
cara kita membangun pangan nasional.
Masalah food estate bukan berarti semua pertanian berskala besar pasti salah.
Teknologi, mekanisasi, gudang, irigasi, dan investasi tetap dibutuhkan.
Namun proyek besar menjadi berbahaya ketika petani lokal hanya dipandang sebagai tenaga kerja.
Sementara keputusan tentang tanah, tanaman, modal, dan pasar
diambil oleh pemerintah atau perusahaan yang dapat jatah.
Petani tidak boleh menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.
Ketahanan pangan sejati tidak hanya berbicara tentang berapa ton beras yang dihasilkan.
Ketahanan pangan juga berarti petani memiliki penghasilan yang layak.
Tanah tetap produktif, lingkungan tidak rusak,
dan masyarakat mampu mempertahankan sumber pangannya sendiri.
Indonesia juga tidak hidup hanya dari beras.
Kita mempunyai sagu, jagung, singkong, ubi, sorgum, ikan, dan berbagai pangan lokal
yang sesuai dengan alam serta budaya setiap daerah.
Kalau seluruh Indonesia dipaksa mengikuti satu pola,
kita justru mempersempit kekuatan pangan kita sendiri.
Lalu apa jalan keluarnya?
Mulailah dari petani yang sudah ada.
Perbaiki irigasi, sediakan benih yang sesuai dengan tanah setempat.
Bangun jalan gudang, pengering, dan tempat penyimpanan hasil pertanian.
Pastikan pupuk tersedia.
Berikan kepastian hukum atas lahan.
Buka akses pasar dan lindungi petani dari permainan harga yang tidak adil.
Gunakan ilmu pengetahuan, tetapi dengarkan juga pengalaman masyarakat lokal.
Negara seharusnya memperkuat kemampuan rakyat dalam menghasilkan pangan.
Bukan menggantikan rakyat dengan proyek negara.
Disinilah kita perlu berhati-hati terhadap cara berpikir sosialistik.
Tidak setiap program pemerintah adalah sosialisme.
Namun arahnya menjadi berbahaya ketika negara merasa paling tahu
mengambil alis sederhana keputusan,
menguasai lahan dan produksi,
sementara rakyat hanya mengikuti perintah.
Negara boleh membangun bendungan dan jalan.
Negara boleh mendanai penelitian serta membantu petani menghadapi bencana.
Namun kehidupan pertanian harus tetap berakar pada manusia
yang mengolah tanah tersebut.
Sahabat patriot,
ketahanan pangan tidak lahir dari luas lahan yang diumumkan.
Ketahanan pangan lahir dari tanah yang benar-benar produktif.
Petani yang sejahtera,
lingkungan yang terjaga,
dan masyarakat yang tidak kehilangan kendali atas sumber makanannya.
Food estate boleh menjadi bagian dari solusi.
Tetapi jangan menjadikannya satu-satunya jawaban.
Karena pangan bukan hanya soal produksi.
Pangan adalah kehidupan.
Pangan adalah budaya.
Pangan adalah tanah.
Dan pangan adalah bagian dari kemerdekaan rakyat.
Sahabat patriot,
negara harus membantu rakyat menjaga pangannya.
Tetapi bukan mengambil alih tanah dan masa depan rakyat.
Suruh patriot untuk Indonesia berdaulat.