Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81 pada 17 Agustus, praktisi Falun Dafa dari berbagai daerah berkumpul di Yogyakarta untuk mengikuti serangkaian kegiatan selama akhir pekan. Mereka memperkenalkan manfaat latihan ini, menyoroti penganiayaan yang masih berlangsung di Tiongkok, serta merayakan kebebasan.
Praktisi Falun Tafa di Yogyakarta merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81 melalui serangkaian kegiatan publik. Acara ini bertujuan memperkenalkan manfaat latihan, mempromosikan prinsip kebenaran, kebaikan, dan kesabaran, serta meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penganiayaan praktisi Falun Gong yang masih berlangsung di Tiongkok.
Halo pendengar sekalian. Selamat datang di Berita Falun Gong.
Berita dilaporkan langsung dari Tiongkok dan seluruh dunia dari situs web Minghui.
Berita Minggu ini.
Yogyakarta, Indonesia.
Praktisi Falun Tafa berpartisipasi dalam perayaan Hari Kemerdekaan.
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81 pada 17 Agustus,
praktisi Falun Tafa dari berbagai daerah berkumpul di Yogyakarta
untuk mengikuti serangkaian kegiatan selama akhir pekan.
Mereka memperkenalkan manfaat latihan ini,
menyoroti penganian yang masih berlangsung di Tiongkok,
serta merayakan kebebasan.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pembentukan lambang Falun
dan parade di Candi Prambanan pada 15 Agustus,
yang dilanjutkan dengan parade di Jalan Malioboro pada keesokan harinya.
Kegiatan mereka mendapat apresiasi dari warga setempat maupun para pengunjung.
Pada 15 Agustus 2026,
366 praktisi Falun Tafa berpakaian kuning, merah, biru, hitam dan putih,
membentuk lambang Falun berwarna-warni di Candi Prambanan,
sebuah candi bersejarah yang terletak sekitar 16 km dari Yogyakarta.
Minyoman Partini, seorang praktisi Falun Tafa berusia 24 tahun dari Bali,
berpartisipasi dalam acara di Yogyakarta.
Dia mulai berlatih Falun Tafa bersama orang tuanya sejak kecil.
Dia menyadari bahwa apa yang diajarkan Falun Tafa
untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dia percaya prinsip Falun Tafa Jensandren,
sejati, baik, sabar, sangat penting bagi anak muda.
Puan San, seorang praktisi berusia 57 tahun dari Batam,
sangat berterima kasih kepada Falun Tafa.
Dia berkata, setelah mulai melakukan latihan,
saya merasa bahagia dan damai.
Seiring terus berlatih,
saya menyadari bahwa beberapa masalah kesehatan saya
seperti sakit kepala migren dan iritasi kulit telah hilang.
Partini maupun Wan mengatakan
berpartisipasi dalam pembentukan lambang Falun
membantu mereka melatih sabaran dan kerja sama tim.
Dipimpin oleh Tien Kuo Marching Band,
praktisi Falun Tafa berparade mengelilingi Candi Prambanan,
menempuh rute sepanjang 2 km.
Penonton memberikan tepuk tangan atas penampilan praktisi
serta mengabadikan momen tersebut
dengan mengambil foto dan video menggunakan ponsel mereka.
Nani, manajer pemasaran Candi Prambanan,
menyambut baik partisipasi praktisi
dalam perayaan Hari Kemerdekaan.
Dia berterima kasih atas partisipasi mereka
dan mengatakan dia tertarik mempelajari Falun Tafa lebih lanjut.
Ekko dan istrinya Anita juga terkesan dengan penampilan praktisi.
Ekko berkata, paradenya bagus dan menarik.
Sungguh luar biasa anggota marching band
bisa bermain dengan harmoni walaupun mereka dari berbagai usia.
Sebuah keluarga dari Provinsi Jawa Timur
juga menikmati parade tersebut.
Dewi, sang istri, berkata,
saya benar-benar terkesan dengan praktisi Falun Tafa.
Barisan parade mereka sangat rapi dan terorganisir dengan baik.
Sungguh luar biasa.
Purwaning Si, seorang pengunjung dari Kulon Progo,
mengaku sangat tertarik dengan prinsip Jen Sandren
sejati baik sabar.
Dia berkata, saya menyukai nilai-nilai ini
dan ingin mendorong anak saya untuk melakukan hal yang sama.
Dengan cara ini, dia bisa lebih mengelola emosinya
dan menjadi lebih sabar saat menghadapi kesulitan hidup.
Robert, seorang turis, berkata,
ketika dia menyaksikan parade,
jika semua orang di Indonesia bisa berlatih Jen Sandren
sejati baik sabar,
saya yakin tidak akan ada konflik antaragama
atau antarkelompok etnis dan budaya yang berbeda.
Itulah harapan saya,
agar semua orang bisa hidup damai
dan negara kita bisa terus berkembang.
Martina dan dua temannya dari Italia
mengatakan mereka terpesona
dengan parade praktisi Valentava di Candi Prambanan.
Martina meneteskan air mata dan berkata
bahwa dia terkejut ketika mendengar
bagaimana Partai Komunis Tiongkok PKT
menganiaya praktisi,
termasuk mengambil paksa organ mereka.
Pada 16 Agustus,
praktisi kembali mengadakan parade Hari Kemerdekaan
di Jalan Malioboro,
dimulai dari Gedung DPRD.
Parade menempuh jarak sekitar 1,5 km.
Banyak orang berjajar di jalan,
bertepuk tangan dan mengambil foto serta video.
Kartoyo, seorang pengunjung
yang menyaksikan parade berseru.
Paradenya sangat bagus.
Siti Sukaisi,
yang sedang mengunjungi Yogyakarta
dari Provinsi Jawa Barat,
sedang menikmati kota
sambil berdiri di Jalan Malioboro
ketika parade Valentava lewat.
Ini adalah pertama kalinya
dia melihat parade Valentava
dan menurutnya itu spektakuler dan indah.
Dia menambahkan,
Cen Sandren sejati baik sabar,
sungguh luar biasa.
Shirley dan Anissa dari Sumatra
sedang berlibur di Yogyakarta
dan kebetulan melihat parade tersebut.
Shirley berkata,
Ini pertama kalinya kami melihat
parade Valentava.
Sangat indah dan menawan,
sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dua petugas keamanan
juga memberikan pujian.
Salah satu dari mereka berkata,
Saya pikir banyak orang yang
menonton parade merasa terharu.
Prinsip Cen Sandren sejati baik sabar
sangat penting.
Saya yakin penonton akan mendapatkan
banyak manfaat dengan menonton parade.
Petugas lainnya menambahkan,
Saya suka musik yang dibawakan oleh
Tien Kuo Marching Band.
Melodinya sangat indah
dan anggota band terlihat segar dan ramah.
Mereka berdua berharap
penganyaian segera berakhir.
Siti, seorang pengunjung,
percaya bahwa Cen Sandren sejati baik sabar
sangat dibutuhkan di masyarakat saat ini.
Nilai-nilai ini sangat bermanfaat
bagi kehidupan masyarakat.
Latihan ini tidak pantas
dianyai di Tiongkok.