Ilusi Patriotisme

Ilusi Patriotisme

epoch weekly
epoch weekly
75 Vues de vidéo·17 juil. 2026

Ilusi di Balik Selembar Izin: Retorika Patriotik dan Pintu yang Tertutup
Oleh: Redaksi Deep News
Di balik gemerlap layar gawai dan derasnya arus informasi di media sosial Tiongkok, sebuah tindakan kecil yang dianggap sebagai "aksi patriotik" oleh pelakunya justru berujung pada penyesalan panjang. Seorang mahasiswa asal Guangdong kini harus menelan pil pahit setelah mimpinya untuk menginjakkan kaki di Taiwan pupus selamanya. Kasus ini bukan sekadar insiden administratif, melainkan jendela untuk melihat fenomena psikologi sosial yang lebih dalam: perpecahan antara retorika mulut yang patuh pada propaganda dan tubuh yang merindukan realitas dunia luar.
"Upacara Penaklukan" Kecil yang Berujung Boomerang
Peristiwa ini bermula ketika mahasiswa tersebut mendapatkan izin masuk (entry permit) resmi dari otoritas Taiwan yang dijadwalkan untuk keberangkatan 12 Juli lalu
. Alih-alih menyimpannya sebagai dokumen perjalanan, ia justru menggunakan perangkat lunak untuk menutupi nama politik "Republik Tiongkok" pada dokumen tersebut dengan gambar bendera bintang lima (bendera Tiongkok) dan membubuhkan tulisan "Taiwan, Tiongkok"
.
Foto tersebut kemudian ia unggah ke platform media sosial Xiaohongshu sebagai bentuk pamer nasionalisme. Namun, aksi ini segera memicu laporan dari warganet kepada pihak berwenang di Taiwan. Departemen Imigrasi Taiwan melalui Satgas Kota Taoyuan segera bertindak tegas dengan mencabut izin tersebut dan memberikan sanksi larangan masuk secara permanen bagi pria tersebut
.
Menanggapi fenomena ini, pengamat politik dalam kanal YouTube Jiang Feng Shishi mencatat adanya ironi yang mendalam. Mahasiswa tersebut ingin pergi ke Taiwan karena merasa tempat itu layak dikunjungi, namun di saat yang sama ia merasa perlu mempermalukan otoritas yang memberinya izin demi membuktikan kesetiaan politiknya
.
"Inti dari kebodohan ini adalah dia memegang dokumen yang dikeluarkan sah oleh Taiwan, namun menyatakan bahwa Taiwan tidak memiliki hak untuk mengeluarkan dokumen tersebut. Dia mendambakan tempat itu, namun harus mempermalukan tujuannya sebelum berangkat demi membuktikan kebenaran politiknya," ujar narator dalam kanal tersebut
.