Kemitraan Strategis RI India

Kemitraan Strategis RI India

epoch weekly
epoch weekly
47 Video Views·Jul 14, 2026

DARI PRAMBANAN HINGGA BRAHMOS: POROS BARU DI GERBANG MALAKA
Di bawah kawalan jet tempur, Perdana Menteri Narendra Modi mendarat di Jakarta dengan misi besar: mempererat sabuk pertahanan di mulut Selat Malaka dan membangkitkan memori peradaban di Candi Prambanan. Dari kesepakatan rudal BrahMos senilai Rp11 triliun hingga ambisi mengakhiri monopoli nikel Tiongkok, Indonesia dan India kini tengah menulis ulang peta geopolitik Indo-Pasifik.
Selasa pagi, 7 Juli 2026, langit Jakarta tidak hanya dihiasi awan kelabu tipis, tetapi juga deru mesin jet tempur TNI Angkatan Udara yang mengawal pesawat kepresidenan India
. Di darat, Presiden Prabowo Subianto telah menunggu dengan karpet merah dan upacara kenegaraan yang megah di Istana Merdeka
. Kunjungan resmi ini merupakan yang pertama bagi Modi ke Indonesia dalam delapan tahun terakhir, sekaligus menjadi penanda penting peningkatan status hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif
.
Kunjungan yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 8 Juli 2026 ini bukan sekadar seremoni rutin
. Di balik jabat tangan hangat di Ruang Kredensial, tersimpan agenda strategis yang mencakup pertahanan maritim, keamanan siber, perdagangan, hingga konektivitas digital
. Puncaknya, Presiden Prabowo menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Adipurna—penghargaan sipil tertinggi di tanah air—kepada Modi sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinannya dalam mempererat hubungan kedua negara
. "Penghargaan ini dipersembahkan bagi jutaan rakyat India, mencerminkan semangat persahabatan rakyat Indonesia," ujar Modi dengan nada emosional
.
Sabuk Mesiu di Mulut Malaka
Sektor pertahanan menjadi "bintang utama" dalam pertemuan ini. Indonesia resmi menandatangani kontrak pengadaan sistem rudal jelajah supersonik BrahMos antara BrahMos Aerospace dan Kementerian Pertahanan RI
. Nilai kesepakatannya fantastis, diperkirakan mencapai US$630 juta atau setara dengan Rp11 triliun
. BrahMos, yang merupakan hasil pengembangan bersama India dan Rusia, dikenal sebagai salah satu rudal jelajah tercepat di dunia yang mampu diluncurkan dari platform darat, laut, maupun udara
.
Tak hanya BrahMos, Indonesia juga memesan rudal udara-ke-udara Astra yang memiliki kemampuan beyond visual range (BVR)
. Rudal ini nantinya akan diintegrasikan dengan armada jet tempur Sukhoi yang dioperasikan oleh TNI AU
. Duta Besar India untuk Indonesia, Sep Chakraarti, mengisyaratkan bahwa kerja sama ini melampaui sekadar jual-beli senjata. "Ini akan menjadi BrahMos plus... Anda akan menemukan banyak kejutan selama kunjungan Perdana Menteri," ujarnya
.
Langkah militer ini dipandang oleh banyak analis internasional sebagai sinyal kuat bagi Tiongkok
. Dengan mempersenjatai Indonesia setelah sebelumnya melakukan hal serupa terhadap Filipina dan Vietnam, India secara efektif memperkuat pertahanan negara-negara di sekitar Laut Tiongkok Selatan yang tengah bersengketa dengan klaim sembilan garis putus-putus (nine-dash line) Beijing
.
Menyumbat "Dilema Malaka" di Sabang
Di luar urusan rudal, pengembangan Pelabuhan Sabang di Pulau Weh menjadi fokus geopolitik yang kritis
. Terletak di pintu masuk utara Selat Malaka, Sabang hanya berjarak kurang dari 100 mil laut dari proyek transhshipment hub Great Nicobar milik India
. Secara geografis, jarak antara pantai Aceh dan Kepulauan Nicobar memang hanya terpaut sekitar 160 kilometer
.
Selat Malaka adalah urat nadi perdagangan dunia, di mana sekitar 80% impor minyak mentah Tiongkok melintasi jalur sempit ini
. Para ahli menyebut ketergantungan ini sebagai "Dilema Malaka" bagi Beijing
. Dengan pengembangan Sabang, India dan Indonesia secara strategis "memarkir diri" di depan gerbang masuk selat tersebut, memperkuat kehadiran militer dan komersial di salah satu titik mati navigasi global
.
Dalam pidatonya di depan parlemen Indonesia, PM Modi menegaskan filosofi negaranya: "India adalah bangsa yang mengikuti jalan pembangunan, bukan ekspansionisme"
. Pernyataan ini dianggap sebagai sindiran langsung terhadap kebijakan agresif Tiongkok di kawasan
.
Prambanan: Diplomasi di Atas Relief Batu
Namun, hubungan kedua raksasa Asia ini tidak melulu soal mesiu. Pada hari kedua, Prabowo mengajak Modi terbang ke Yogyakarta untuk meninjau Candi Prambanan
. Kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 ini merupakan bukti nyata jejak peradaban India yang mengalir melalui perdagangan dan iman, bukan penaklukan militer
.
Kedua negara menyepakati Surat Pernyataan Niat (Letter of Intent) untuk restorasi dan konservasi Prambanan
. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa revitalisasi ini mencakup pemugaran candi-candi pewara atau candi pelengkap bangunan utama
. Saat menyusuri koridor candi yang dipenuhi relief Ramayana, Modi tampak terpukau
. Ia bahkan berjanji kepada Prabowo akan kembali sebelum tahun 2029 untuk merayakan selesainya renovasi tersebut
.
Prambanan menjadi simbol "koneksi peradaban" yang coba dihidupkan kembali oleh kedua pemimpin
. "Candi ini bukan sekadar masa lalu Hindu Indonesi