Membaca Iran Bukan Hanya Lewat Politik, tetapi Lewat Keyakinan tentang Akhir Zaman 2 Maret 2026 dan Jejak Sejarah Sejak 1979 Di tengah bara konflik Timur Tengah yang terus membesar, ada satu pertanyaan yang selama ini jarang dibahas secara jujur dan mendalam: apa sebenarnya bahasa terdalam yang sedang dipakai Iran untuk membaca dunia? Apakah Iran bertindak seperti negara modern pada umumnya—menghitung untung rugi, menimbang kepentingan nasional, menjaga keamanan rezim, dan mengelola pengaruh regional? Ataukah di balik semua langkah politik, program nuklir, dan konfrontasi militer yang selama ini terlihat di permukaan, ada sebuah cara berpikir lain yang jauh lebih gelap, jauh lebih ideologis, dan jauh lebih berbahaya—yakni cara berpikir tentang kiamat? Pertanyaan itu menjadi semakin mengganggu setelah sebuah pernyataan penting muncul dari Washington. Pada 2 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, berdiri di depan Gedung Kongres AS dan menerima pertanyaan para wartawan. Dalam kesempatan itu, ia melontarkan kalimat yang bagi sebagian orang mungkin terdengar seperti komentar politik biasa, tetapi bagi mereka yang benar-benar memperhatikan Iran, kalimat itu terasa seperti membuka pintu menuju inti terdalam persoalan. Rubio mengatakan, kira-kira begini: rezim Iran dipimpin oleh kaum teolog radikal; mereka tidak mengambil keputusan berdasarkan geopolitik, melainkan berdasarkan teologi; dan teologi mereka bersifat apokaliptik, bersifat akhir zaman. Kalimat itu tajam. Sangat tajam. Dan justru karena itulah kalimat itu layak dipikirkan dengan serius.
Salam Sehat Sejahtera, jumpa lagi di channel Mata Ketiga.
Membaca Iran bukan hanya lewat politik,
tetapi lewat keyakinan tentang akhir jaman.
2 Maret 2026 dan jejak sejarah sejak 1979,
di tengah bara konflik Timur Tengah yang terus membesar,
ada satu pertanyaan yang selama ini jarang dibahas secara jujur dan mendalam.
Apa sebenarnya bahasa terdalam yang sedang dipakai Iran
Apakah Iran bertindak seperti negara modern pada umumnya,
menghitung untung rugi, menimbang kepentingan nasional,
menjaga keamanan rezim, dan mengelola pengaruh regional?
Ataukah dibalik semua langkah politik, program nuklir,
dan konfrontasi militer yang selama ini terlihat di permukaan,
ada sebuah cara berpikir lain yang jauh lebih gelap,
jauh lebih ideologis, dan jauh lebih berbahaya,
yakni cara berpikir tentang kiamat?
Pertanyaan ini menjadi semakin mengganggu
setelah sebuah pernyataan penting muncul dari Washington.
Pada 2 Maret 2026,
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio
berdiri di depan gedung Kongres AS
dan menerima pertanyaan para wartawan.
Dalam kesempatan itu,
ia melontarkan kalimat yang bagi sebagian orang
mungkin terdengar seperti komentar politik biasa.
Tetapi bagi mereka yang benar-benar memperhatikan Iran,
kalimat itu terasa seperti membuka pintu
menuju inti terdalam persoalan.
Rubio mengatakan,
kira-kira begini,
Rezim Iran dipimpin oleh kaum teologi radikal.
Mereka tidak mengambil keputusan berdasarkan geopolitik,
melainkan berdasarkan teologi,
dan teologi mereka bersifat apokaliptik,
bersifat akhir jaman.
Kalimat itu tajam, sangat tajam,
dan justru karena itulah,
kalimat itu layak dipikirkan dengan serius.
Sebab jika sebuah negara mengambil keputusan
bukan terutama berdasarkan kalkulasi rasional,
tetapi berdasarkan keyakinan religius tentang perang akhir,
maka seluruh cara dunia selama ini berusaha memahami Iran
mungkin memang salah sejak awal.
Diplomasi, sanksi, tekanan ekonomi,
ancaman militer,
bahkan negosiasi nuklir,
semua itu dibangun di atas asumsi bahwa pihak lawan
masih berpikir dalam bahasa negara modern.
Namun bagaimana jika yang sedang dihadapi sesungguhnya
bukan sekedar sebuah negara,
melainkan sebuah rezim yang percaya
bahwa sejarah sedang bergerak menuju babak terakhir
dan bahwa tugas mereka lah untuk mempercepatnya.
Disinilah rasa curiga mulai berubah menjadi kegelisahan yang serius.
Ketika kecurigaan tidak lagi terasa mustahil.
Sebenarnya,
tanda-tanda keanehan Iran sudah lama terlihat.
Selama bertahun-tahun,
perilaku Teheran seringkali tampak tidak sepenuhnya masuk akal
jika dibaca dengan logika geopolitik biasa.
Iran punya sumber daya besar,
punya posisi geografi sangat strategis,
punya populasi besar,
punya warisan peradaban panjang,
dan yang terpenting,
punya cadangan energi yang mampu membuatnya
menjadi salah satu negara paling kaya
dan paling berpengaruh di kawasan.
Secara teori,
Iran bisa memilih jalan seperti banyak negara kaya energi lainnya,
membangun kekuatan ekonomi,
memperkuat negara,
menegosiasikan kepentingan,
mengamankan rezim,
lalu hidup sebagai kekuatan regional yang disegani.
Tetapi Iran justru memilih jalan yang berbeda.
Jalan yang selalu berujung pada ketegangan.
Jalan yang selalu membuatnya berbenturan
dengan Amerika, Israel,
dan negara-negara Arab teluk.
Jalan yang membuatnya terus-menerus
memelihara program nuklir,
memperluas jaringan milisi,
mendorong konflik proksi,
dan mempertahankan slogan-slogan permusuhan
yang tidak pernah benar-benar surut.
Rubio sendiri bukan baru pertama kali
mengatakan hal semacam itu.
Jauh sebelum menjadi Menteri Luar Negeri,
ketika ia masih menjadi senator pada 2015,
ia pernah mengemukakan gagasan yang bahkan lebih lugas,
bahwa Iran percaya sebuah perang besar terakhir akan datang
dan bahwa misi mereka adalah
memicu perang itu dengan tangan mereka sendiri.
Kalimat seperti itu,
bila dibaca sekilas,
mudah dianggap berlebihan,
mudah dicampur propaganda,
mudah dibuang ke dalam laci besar berisi retorika anti-Iran.
Namun ketika pernyataan serupa muncul berulang-ulang,
dan ketika perilaku Iran sendiri
terus menampilkan pola yang tidak biasa,
pertanyaan itu tidak lagi mudah diabaikan.
Kalau benar begitu,
maka logika yang sedang bekerja
bukan lagi logika diplomasi.
Dan jika logika diplomasi tidak lagi menjadi fondasi,
maka seluruh harapan untuk menyelesaikan persoalan Iran
melalui jalan negosiasi
mungkin memang sejak awal berdiri di atas tanah yang rapuh.
Mengapa negara sekaya Iran tidak memilih jalan kemakmuran?
Di titik inilah paradoks Iran menjadi sangat sulit diabaikan.
Iran bukan negara miskin tanpa pilihan.
Iran juga bukan negara kecil yang terpojok total tanpa sumber daya.
Negeri itu memiliki cadangan minyak dan gas yang luar biasa besar.
Letaknya mengontrol salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Secara potensi,
Iran sesungguhnya punya semua syarat untuk menjadi negara kuat,
sejahtera, modern dan sangat berpengaruh.
Lalu mengapa negara seperti itu
tetap bersikeras menempuh jalur yang konfrontatif?
Mengapa bukan kemakmuran yang dijadikan pusat agenda nasional?
Melengkan pengayaan uranium, pembangunan infrastruktur militer,
perluasan pengaruh milisi, dan pembinaan ideologi permusuhan.
Pertanyaan ini menjadi lebih tajam jika dibandingkan dengan Arab Saudi.
Saudi juga negara kaya minyak.
Saudi juga kerajaan dengan sistem yang tidak liberal dalam pengertian barat.
Saudi juga punya kepentingan besar dalam menjaga rezim, kekuasaan,
dan pengaruh kawasan.
Tetapi selama puluhan tahun,
Saudi memilih jalan yang pada dasarnya pragmatis,
memperkaya negara, memperkuat posisi regional,
membangun hubungan dengan Amerika,
membeli teknologi militer mutakhir,
dan memakai uang sebagai alat pengaruh global.
Pada 2017, putra mahakota Saudi, Muhammad bin Salman,
melontarkan satu pernyataan yang mengguncang Timur Tengah.
Ia mengatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei,
adalah Hitler baru di Timur Tengah.
Dan ia juga menegaskan bahwa Arab Saudi tidak tertarik pada bom nuklir.
Tetapi jika Iran berhasil mengembangkan bom nuklir,
Saudi akan segera mengikutinya.
Pernyataan itu membuka jendela lain.
Saudi, yang juga kaya dan otoriter,
tidak merasa perlu mengejar bom nuklir lebih dulu.
Tetapi Iran justru menjadikan jalur itu sebagai obsesi jangka panjang.
Mengapa?
Kalau jawabannya adalah soal kedaulatan nasional,
maka Saudi juga punya kedaulatan.
Kalau jawabannya adalah ancaman barat,
maka Saudi juga hidup di bawah bayang-bayang tekanan global.
Kalau jawabannya adalah sumber daya,
maka Saudi punya sumber daya yang bahkan lebih besar
dan lebih berintegrasi ke ekonomi dunia.
Namun yang membedakan Iran bukan sekedar kepentingan nasional.
Yang membedakan Iran kemungkinan besar adalah jawa ideologis rezimnya.
Selogan Yang Tidak Pernah Mati Dari Propaganda Menjadi Ritual
Sejak revolusi Iran 1979,
dunia mendengar sebuah selogan yang terus bergema dari jalanan,
sekolah, masjid, panggung politik dan ruang-ruang publik Iran.
Matilah Amerika, Matilah Israel.
Awalnya banyak orang mengira itu hanyalah selogan revolusioner,
kalimat agitasi yang biasa muncul di tengah pergolakan politik.
Tetapi setelah puluhan tahun berlalu,
selogan itu tidak menghilang, justru semakin mengeras.
Bahkan bukan lagi sekedar jargon,
ia telah berubah menjadi semacam ritual ideologis yang terus diulang,
diwariskan dan dinormalisasi.
Selama 47 tahun, selogan itu bertahan.
Dan ketika sebuah selogan bertahan selama hampir setengah abad,
ia tidak lagi bisa dianggap sekedar ekspresi emosi sesaat.
Ia telah menyatu dengan identitas politik rezim.
Disinilah muncul pertanyaan yang jauh lebih menegangkan.
Apakah selama ini Teheran memang sedang menyiapkan masyarakatnya
untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekadar konflik regional?
Apakah permusuhan yang tak pernah selesai itu sebenarnya bukan tujuan akhir,
melainkan alat untuk mempersiapkan dunia
memasuki babak yang mereka percaya sebagai perang penentu?
Petunjuk besar dari Mahmud Ahmadinejad
Untuk mendekati jawaban,
salah satu tokoh penting yang perlu diperhatikan
adalah mantan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad
yang menjabat dari 2005 hingga 2013.
Terlepas dari kontroversi seputar dirinya,
satu hal yang jelas,
Ahmadinejad bukan figur biasa dalam sejarah politik Iran.
Ia bukan sekedar presiden administratif.
Ia adalah salah satu wajah paling terbuka
dari keyakinan apokaliptik dalam politik Iran modern.
Pada September 2012,
saat berpidato di sindang umum PBB,
Ahmadinejad membuka pidatonya dengan doa
yang sangat tidak biasa dalam forum internasional sebesar itu.
Ia memohon kepada Tuhan agar mempercepat kedatangan Imam Mahdi.
Bagi sebagian orang luar,
kalimat itu mungkin terdengar seperti sekedar ekspresi religius.
Namun bagi mereka yang memahami teologi syiah,
kalimat itu jauh lebih berat daripada yang tampak di permukaan.
Di balik doa itu, tersembunyi satu gagasan besar.
Bahwa sejarah sedang berkerak menuju satu momen
ketika seorang tokoh pernyelamat akan muncul
dan bahwa dunia harus terlebih dahulu
melewati fase kekacauan yang sangat besar sebelum momen itu datang.
Di akhir pidatonya,
Ahmadinejad kembali menyinggung janji Tuhan
tentang hadirnya seorang yang saleh,
seorang pemimpin akhir jaman
yang akan datang bersama Nabi Isa.
Saat itu, delegasi Amerika Serikat dan Israel
meninggalkan ruangan sebagai bentuk protes.
Namun terlepas dari protes itu,
Ahmadinejad sesungguhnya telah memperlihatkan sesuatu yang sangat penting.
Bahwa bagi sebagian elit Iran,
urusan politik dunia tidak dipahami hanya sebagai perebutan kekuasaan
melainkan sebagai bagian dari drama eskatologis,
drama akhir jaman.
Dan disinilah rasa dingin itu mulai menambat.
Karena ketika seorang pemimpin politik berbicara tentang
mempercepat kedatangan tokoh akhir jaman,
pertanyaan yang muncul bukan lagi sekadar apa keyakinannya,
tetapi apa yang bersedia ia lakukan untuk mewujudkan keyakinan itu.
Imam yang menghilang akar teologis dari imajinasi politik Iran.
Untuk memahami seluruh kerangka berpikir ini,
kita harus mundur sangat jauh ke belakang
Dalam keyakinan Syiah Imamiyah,
setelah wafatnya Imam ke-11 yakni Hassan al-Askari,
putranya yang masih kecil Muhammad bin Hassan al-Aksari
tiba-tiba menghilang dari pandangan dunia.
Anak itu diakini sebagai Imam ke-12.
Ia tidak dianggap mati,
melainkan gaib, disembunyikan oleh kandak Tuhan hingga tiba saatnya kembali.
Peristiwa ini dikenal sebagai Al-Gayabah, Al-Kubruh, atau Goi Besar.
Dalam teologi Syiah, Imam bukan pemimpin biasa.
Imam adalah figur suci,
pewaris otoritas rohani,
pembimbing sah umat,
dan pemegang legitimasi sejati setelah Nabi Muhammad.
Artinya, ketika Imam ke-12 menghilang,
persoalan yang muncul bukan hanya kehilangan seorang tokoh,
tetapi juga hilangnya pemegang otoritas tertinggi yang sah di muka bumi.
Sejak itulah dunia syiah hidup dalam penantian.
Penantian terhadap kembalinya Imam yang goib.
Penantian yang kini telah berlangsung lebih dari 1100 tahun.
Bagi banyak orang luar,
gagasan ini mungkin terdengar seperti legenda.
Tetapi bagi penganutnya,
ini bukan dongeng,
ini adalah kenyataan teologis yang hidup,
mengikat,
dan dalam beberapa kasus,
sangat menentukan cara mereka memandang sejarah.
Dalam kitab-kitab besar tentang Al-Gayabah,
disebutkan bahwa Imam ke-12 akan kembali pada akhir jaman.
Ia akan muncul ketika dunia dipenuhi ketidakadilan,
kekerasan,
dan kerusakan.
Ia akan membawa keadilan,
mengalahkan kejaliman,
dan memimpin tatanan baru dalam sejumlah riwayat.
Ia juga akan didampingi oleh Nabi Isa.
Gagasan ini,
bila dibaca secara simbolik,
mungkin tidak otomatis berbahaya.
Tetapi persoalan besar muncul ketika ia dibaca secara politis,
secara literal,
dan lebih dari itu,
secara akselerasionis.
Dari menunggu ke mempercepat,
dua wajah teologi syiah modern.
Secara garis besar,
di dalam dunia syiah modern,
terdapat dua kecenderungan penting.
Yang pertama adalah aliran yang bisa disebut pasif atau kuaites.
Mereka meyakini bahwa kemunculan Mahdi sepenuhnya bergantung pada kehendak Tuhan.
Manusia tidak boleh mengatur waktunya,
apalagi mencoba memaksanya.
Tugas manusia hanyalah hidup benar,
menjaga iman dan menunggu.
Namun ada aliran kedua yang jauh lebih berbahaya.
Aliran yang percaya bahwa kedatangan Mahdi bisa dipercepat.
Bukan dengan doa semata,
tetapi dengan menciptakan kondisi-kondisi yang sesuai dengan nubuat.
Jika dunia harus lebih dahulu tenggelam dalam perang,
ketidakadilan,
pertumpahan darah,
dan kekacauan besar,
maka kondisi itu bukan sesuatu yang harus dicegah.
Sebaliknya, kondisi itu harus didorong.
Dalam aliran seperti ini,
menunggu pasif dianggap tidak cukup,
nubuat harus dipenuhi,
sejarah harus dibantu bergerak.
Bahkan kehancuran bisa dipahami bukan sebagai tragedi,
melainkan sebagai jalan pembuka.
Salah satu nama yang sering dikaitkan dengan corak pemikiran seperti ini
adalah Ayatullah Masbah Yazdi,
sosok yang dikenal sangat berpengaruh
dan kerap disebut sebagai salah satu guru spiritual Ahmadinejad.
Bagi arus pemikiran semacam ini,
menciptakan kondisi bagi kemunculan Mahdi
dapat dilihat sebagai kewajiban religius.
Dan begitu sesuatu disebut sebagai kewajiban religius,
maka ia berhenti menjadi pilihan,
ia berubah menjadi tugas.
Mengapa bom nuklir menjadi sangat menggiulkan dalam kerangka ini?
Di titik inilah program nuklir Iran menjadi jauh lebih menyeramkan.
Selama ini, dunia berdebat tentang nuklir Iran
dalam bahasa keamanan strategis,
the trans balance of power,
pencegah serangan,
dan perlindungan rezim.
Semua itu benar dalam kerangka negara modern.
Namun jika sebagian elit Iran memandang dunia dengan lensa apokaliptik,
maka bom nuklir tidak lagi sekadar alat pertahanan.
Bom nuklir menjadi sesuatu yang lain.
Ia menjadi alat yang mampu menciptakan kehancuran besar dalam waktu singkat,
Ia menjadi instrumen yang bisa mengubah jalannya sejarah secara brutal.
Ia menjadi alat yang dalam imajinasi apokaliptik
dapat menghadirkan pemandangan yang mirip dengan nubuat.
Langit menyala, kota hancur, jutaan manusia tewas,
dunia terkuncang, dan tatanan lama runtuh.
Dengan kata lain,
dalam pembacaan yang paling ekstrim,
senjata nuklir bisa dilihat bukan sebagai perisai,
tetapi sebagai pemicu sejarah akhir.
Disinilah kekhawatiran dunia menemukan bentuk paling serius.
Bagaimana jika pihak yang mengejar senjata pemusnah massal
tidak melihat kehancuran sebagai sesuatu yang harus dihindari,
tetapi justru sebagai sesuatu yang bisa mempercepat takdir suci?
Pertanyaan inilah yang membuat segala sesuatu terasa jauh lebih gelap.
Nubuat, Panji Hitam dan Kekacauan Timur Tengah
Sejumlah riwayat dalam tradisi syiah berbicara tentang
tanda-tanda menjelang kemunculan Mahdi.
Akan ada kekacauan besar,
akan muncul tokoh-tokoh tertentu,
akan ada peperangan,
pertumpahan darah,
kebangkitan dari wilayah tertentu,
serta runtuhnya ketertiban politik di kawasan Arab.
Bagi orang luar,
teks-teks seperti ini mungkin hanya materi kajian keagamaan.
Tetapi bagi kelompok radikal yang membacanya secara literal,
teks itu dapat berubah menjadi peta tindakan.
Disinilah berbagai konflik di Timur Tengah,
mulai dari Suriah, Irak, Yaman, hingga Teluk,
bisa dibaca oleh mereka bukan sekadar konflik politik,
melainkan bagian dari rangkaian tanda-tanda.
Panji Hitam, tiran akhir jaman,
penguasa Arab yang mati,
kekacauan Jazirah,
perang besar,
semua itu dapat dirakit ke dalam sebuah narasi
bahwa sejarah sedang mendekati momen penentuan.
Dan jika seseorang sungguh percaya bahwa
semua tanda itu harus terjadi sebelum sang penyelamat datang,
maka perang terhadap negara-negara Arab,
konflik terhadap Saudi,
permusuhan terhadap Israel,
dan perlawanan terhadap Amerika
dapat dipahami sebagai bagian dari proyek
yang jauh lebih besar daripada sekadar geopolitik.
Itulah sebabnya pertanyaan
mengapa Iran menyerang atau mengancam negara-negara Teluk.
Tidak cukup dijawab dengan alasan rivalitas regional.
Sebab di balik rivalitas itu,
bisa saja ada keyakinan lain
bahwa justru kekacauan kawasan inilah
yang akan membuka jalan.
Amerika sebagai setan besar,
Israel sebagai musuh eskatologis.
Pada 5 November 1979,
Ayatullah Ruhullah Khamenei
menegaskan satu konsep yang kemudian
menjadi fondasi mental revolusi Iran.
Amerika adalah setan besar.
Kalimat itu bukan sekadar propaganda anti-barat.
Dalam kerangka teologi revolusioner Iran,
label itu memberi makna spiritual
Amerika bukan lagi lawan biasa.
Ia adalah penghalang utama,
simbol kekuatan jahat,
musuh kosmis yang harus dihancurkan.
Dan jika Amerika diposisikan sebagai setan besar,
maka konsekuensinya sangat serius.
Dalam pola pikir seperti itu,
negosiasi dengan Amerika tidak lagi sekadar sulit,
tetapi secara ideologis menjadi mencurigakan.
Berteman dengan Amerika
bukan lagi kompromi taktis
melainkan risiko pengkhianatan terhadap misi spiritual.
Israel pun menempati posisi yang tak kalah penting.
Dalam berbagai narasi keagamaan
yang dibaca secara literal oleh kalangan radikal,
perang melawan Yahudi sering ditempatkan
sebagai bagian dari tanda-tanda akhir jaman.
Ketika tekst-tekst seperti itu
dipadukan dengan politik negara,
hasilnya bisa sangat berbahaya.
Kebencian tidak lagi dibatasi
oleh pertimbangan strategis,
melainkan disucikan.
Maka slogan Matilah Israel dan Matilah Amerika
tidak bisa lagi dibaca semata
sebagai ekspresi diplomatik besar.
Ia adalah bahasa ideologis
yang menghubungkan politik harian dengan perang akhir jaman.
Mengapa diplomasi bisa gagal sejak awal?
Jika semua ini benar,
atau bahkan jika hanya sebagian dari semua ini benar,
maka kegagalan diplomasi terhadap Iran
menjadi jauh lebih mudah dipahami.
Diplomasi mengandaikan bahwa
kedua pihak sama-sama ingin menghindari kehancuran total.
Diplomasi bekerja karena ada kepentingan bersama
untuk tetap hidup, tetap stabil,
dan tetap memperoleh sesuatu.
Tetapi jika satu pihak percaya
bahwa kekecohan global
justru akan membuka jalan keselamatan suci,
maka asumsi dasar diplomasi itu runtuh.
Amerika dan Barat selama ini
berusaha menghadapi Iran dengan tekanan ekonomi,
pembatasan, negosiasi,
inspeksi dan kesepakatan.
Semua instrumen itu
bergantung pada harapan bahwa Teheran
masih bisa ditarik ke dalam kalkulasi untung rugi.
Namun bagaimana jika bagi sebagian pengambil keputusan di Iran,
kerugian ekonomi hanyalah harga kecil
dibanding terwujudnya Nubuak?
Bagaimana jika serangan militer justru dipahami
sebagai pembenaran teologis bahwa jaman itu
benar-benar sudah dekat?
Bagaimana jika tekanan Barat justru memperkuat
keyakinan kaum garis keras
bahwa mereka sedang berjalan di jalur yang benar?
Disitulah paradoks paling pahit muncul.
Amerika mencoba memakai rasionalitas
untuk melawan lawan yang tidak sepenuhnya tunduk
pada rasionalitas negara modern.
Dan jika itu benar,
maka benturan yang terjadi
bukan hanya benturan kepentingan,
itu adalah benturan antara dua cara membaca sejarah.
Apakah mengganti pemimpin akan memubah segalanya?
Pada akhirnya,
semua analis ini membawa kita
pada satu pertanyaan yang jauh lebih dalam
daripada sekadar siapa yang berkuasa di Teheran hari ini.
Jika keyakinan apokaliptik telah menembus struktur negara,
lembaga keagamaan,
pendidikan politik, budaya slogan,
dan imajinasi kolektif selama puluhan tahun,
maka apakah mengganti satu pemimpin
sungguh cukup untuk mengubah arah sejarah Iran?
Jika satu tokoh jatuh,
tetapi sistem keyakinan tetap hidup,
maka masalahnya tidak selesai.
Jika satu rezim terguncang,
tetapi bahasa kiamat tetap mengakar di jantung ideologi negara,
maka cerita belum berakhir.
Dan mungkin disinilah latak bagian paling menakutkan dari semuanya.
Sebab yang sedang dihadapi dunia
mungkin bukan hanya ambisi satu pemerintahan,
bukan sekedar program nuklir,
dan bukan hanya konflik regional.
Yang sedang dihadapi dunia
bisa jadi adalah sebuah peradaban politik
yang meyakini bahwa kehancuran besar
bukan sesuatu yang harus dihindari
melainkan sesuatu yang mungkin dibutuhkan.
Jika demikian,
maka pertanyaan bukan lagi
apakah perang bisa dihindari untuk sementara.
Pertanyaannya adalah
berapa lama dunia masih bisa bertahan
sebelum keyakinan seperti itu
benar-benar memaksa sejarah melompat ke babak berikutnya.
Dan jika suatu bangsa telah terlalu lama hidup
dalam keyakinan bahwa
api terakhir akan memurnikan dunia,
maka mungkin tragedi sesungguhnya
bukan teratak pada satu serangan,
satu ledakan, atau satu perang.
Tragedi sesungguhnya
adalah ketika generasi demi generasi
dibesarkan untuk percaya
bahwa kiamat bukan ancaman
melainkan panggilan.
Di titik itulah bulu kuduk merinding.
Di titik itulah semua berita tentang nuklir,
rudal, milisi,
slogan dan perang tiba-tiba bersambung
menjadi satu garis yang lebih mengerikan.
Dan di titik itulah dunia mulai sadar
bahwa kisah Iran mungkin
belum mendekati akhir.
Bisa jadi, seperti yang dikhawatirkan
banyak orang, kisah ini
justru baru saja dimulai.
Cukup sekian dulu.
Terima kasih atas perhatiannya.