7 Juli 2026 – Situasi politik dan keamanan di Iran kembali menjadi sorotan internasional setelah muncul laporan yang menyebut Teheran membentuk sebuah satuan rahasia lintas negara yang diduga memiliki misi untuk melakukan aksi balasan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Di saat yang sama, berbagai laporan juga mengindikasikan adanya dinamika internal yang semakin rumit di dalam struktur kekuasaan Iran, terutama ketika negara itu masih menggelar rangkaian prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei. Di tengah suasana duka nasional, pemerintah Iran menampilkan citra persatuan dan kekuatan di hadapan dunia. Namun di balik prosesi yang berlangsung megah tersebut, sejumlah laporan media dan analis justru menyoroti adanya indikasi ketegangan di dalam elite politik dan militer Iran. Prosesi Pemakaman Khamenei Berlangsung di Tengah Pengamanan Ketat Pada 6 Juli 2026, pemerintah Iran masih melanjutkan prosesi pemakaman kenegaraan Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Jalan-jalan utama ibu kota dipenuhi lautan manusia yang datang untuk mengikuti upacara penghormatan terakhir. Demi menjamin keamanan acara, pemerintah menutup seluruh wilayah udara Teheran selama prosesi berlangsung. Langkah tersebut menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan aparat keamanan terhadap berbagai kemungkinan ancaman. Meskipun pemerintah Iran menampilkan kerumunan massa sebagai bukti kuatnya dukungan rakyat kepada pemimpin tertinggi mereka, sejumlah pengamat menilai besarnya jumlah peserta belum tentu sepenuhnya mencerminkan dukungan spontan masyarakat. Mereka menilai pemerintah memiliki kepentingan politik untuk mempertontonkan citra persatuan nasional di tengah tekanan yang sedang dihadapi negara tersebut.
Iran is facing international scrutiny following reports of a secret unit targeting Donald Trump, coinciding with the state funeral of Ayatollah Ali Khamenei. While the government projects unity, analysts suggest internal tensions among political and military elites, while Russia faces mounting casualties and diplomatic pressure regarding the war in Ukraine.
Salam Pemirsa, 7 Juli 2026.
Situasi politik dan keamanan di Iran kembali menjadi sorotan internasional
setelah muncul laporan yang menyebut teheran membentuk sebuah satuan rahasia lintas negara
yang diduga memiliki misi untuk melakukan aksi balasan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Di saat yang sama, berbagai laporan juga mengindikasikan adanya dinamika internal
yang semakin rumit di dalam struktur kekuasaan Iran,
terutama ketika negara itu masih menggelar rangkaian prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei.
Di tengah suasana duka nasional, pemerintah Iran menampilkan citra persatuan dan kekuatan di hadapan dunia.
Namun di balik prosesi yang berlangsung megah tersebut,
sejumlah laporan media dan analis justru menyeroti adanya indikasi ketegangan di dalam elit politik dan militer Iran.
Prosesi pemakaman Khamenei berlangsung di tengah pengamanan ketat.
Pada 6 Juli 2026, pemerintah Iran masih melanjutkan prosesi pemakaman Kedageraan Ayatullah Ali Khamenei di Teheran.
Jalan-jalan utama ibu kota dipenuhi lautan manusia yang datang untuk mengikuti upacara penghormatan terakhir.
Demi menjamin keamanan acara, pemerintah menutup seluruh wilayah udara Teheran selama prosesi berlangsung.
Langkah tersebut menunjukkan tingginya tingkat kewaspadaan aparat keamanan terhadap berbagai kemungkinan ancaman.
Meskipun pemerintah Iran menampilkan kerumunan masa sebagai bukti kuatnya dukungan rakyat kepada pemimpin tertinggi mereka,
sejumlah pengamat menilai besarnya jumlah peserta belum tentu sepenuhnya mencerminkan dukungan sepontan masyarakat.
Mereka menilai pemerintah memiliki kepentingan politik untuk mempertontonkan citra persatuan nasional di tengah tekanan yang sedang dihadapi negara tersebut.
Seruan terbuka untuk menyerang Donald Trump
Dalam salah satu momen prosesi pemakaman,
pembawa acara di panggung utama memimpin masa meneriakan slogan yang menyerukan agar Donald Trump diserang.
Seruan tersebut kemudian diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan peserta yang hadir di lokasi.
Bagi sebagian orang, teriakan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai luapan emosi masa dalam suasana berkabung.
Namun kemunculan laporan intelijen pada waktu yang hampir bersamaan membuat slogan tersebut memperoleh perhatian yang jauh lebih besar.
Laporan Intelijen Israel, Iran bentuk unit rahasiah muhtar
Media Israel Channel 14 melaporkan adanya informasi intelijen yang menyebut pasukan Quds,
bagian dari Kops Gerda Revolusi Iran Islam RAGC, telah membentuk sebuah unit rahasiah baru dengan nama Sandiq Muhtar.
Menurut laporan tersebut, unit ini disebut memiliki satu misi utama,
yakni melakukan operasi terhadap Donald Trump berserah sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat.
Laporan itu juga menyatakan bahwa unit tersebut tidak berencana mengirim personalnya secara langsung ke wilayah Amerika Serikat.
Sebaliknya, operasi disebut akan dijalankan melalui jaringan perantara yang berada di luar Iran.
Dugaan Pemanfaatan Kartel Meksiko dan Jaringan Diaspora Iran
Masih berdasarkan laporan yang sama,
berdapat dua kelompok yang disebut akan dimanfaatkan sebagai pendukung operasi.
Kelompok pertama adalah Kartel Kriminal di Meksiko,
yang dinilai memiliki pengalaman dalam penyelundupan manusia maupun barang melintasi perbatasan Amerika Serikat.
Sementara kelompok kedua adalah sebagian warga keturunan Iran yang tinggal di berbagai negara.
Mereka diduga akan berperan dalam penyediaan logistik, pengintaian,
pembangunan jaringan komunikasi, hingga membantu persiapan operasional.
Hingga kini, klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi independen maupun pengakuan resmi dari pemerintah Iran.
Dugaan ancaman terhadap Trump pernah muncul sebelumnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya laporan terbaru tersebut,
tuduhan mengenai upaya Iran menargetkan Donald Trump bukanlah isu yang sepenuhnya baru.
Pada 2024, Departemen Kehakimanan Amerika Serikat mengumumkan dakwaan terhadap sejumlah individu
yang dituduh terlibat dalam rencana pembunuhan terhadap Donald Trump.
Para terdakwa diduga bertindak atas nama pemerintah Iran, meskipun tak heran membantah tuduhan tersebut.
Kasus tersebut menjadi salah satu alasan mengapal laporan terbaru mengenai pembentukan unit muhtar,
langsung menarik perhatian berbagai kalangan.
Pengemanan Pemakaman Diduga Melibatkan Milisi Afganistan
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan,
muncul pula laporan lain mengenai sistem pengamanan prosesi pemakaman.
Akun ex The Iran Watcher, yang kerap mengunggah perkembangan mengenai Iran,
mengklaim bahwa anggota Brigade Fatah Mion, kelompok milisi syiah yang mayoritas anggotanya berasal dari Afganistan
dan didukung oleh Kops Gardai Revolusi Islam Iran IRGC,
dikerahkan untuk membantu pengamanan di Kompleks Tahiran Mosalat selama prosesi pemakaman Ali Khamenei.
Dalam unggahannya, akun tersebut menilai pengerahan Brigade Fatah Mion,
menunjukkan bahwa pemerintah Iran mengandalkan pasukan non-Iran untuk membantu mengamankan
salah satu acara kenegaraan paling sensitif.
Namun, hingga kini klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen
maupun dikomfirmasi secara resmi oleh pemerintah Iran atau IRGC.
Apabila informasi tersebut benar, hal itu menunjukkan bahwa pemerintah Iran
memilih mengandalkan unsur milisi sekutu dalam mengamankan salah satu acara
paling penting dalam sejarah politik negara tersebut.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran mengenai klaim tersebut.
Penembak J2 Ditempatkan di Berbagai Titik Strategis
Sejumlah video yang beredar di media sosial
memperlihatkan keberadaan penembak J2 di berbagai bangunan di titik strategis
sepanjang jalur prosesi pemakaman.
Pengamanan berlapis seperti itu,
dinilai memiliki pola yang serupa dengan langkah-langkah keamanan ketika pemerintah Iran
menghadapi aksi demonstrasi besar beberapa waktu sebelumnya.
Besarnya penggerahan aparat menunjukkan bahwa pemerintah
tampaknya berupaya mengantisipasi berbagai kemungkinan gangguan
selama berlangsungnya prosesi kenegaraan tersebut.
Pernyataan Ismail Kani memicu berbagai spekulasi.
Perhatian publik juga tertuju pada laporan mengenai pernyataan
yang dikaitkan dengan Komandan Pasukan Quds Ismail Kani.
Menurut laporan yang beredar, Kani disebut mengatakan bahwa
wafatnya Khamenei merupakan hasil terbaik baginya.
Ungkapan tersebut memicu berbagai spekulasi karena berbeda dari istilah
yang lazim digunakan pemerintah Iran ketika menyampaikan kabar meninggalnya
tokoh penting negara.
Selama ini, pejabat Iran umumnya menggunakan istilah seperti
syahid, gugur sebagai martir, atau dikorbankan di jalan Tuhan.
Karena itu, apabila kutipan tersebut benar adanya,
banyak analis menelai pilihan kata tersebut rasa tidak biasa.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat verifikasi independen
yang dapat memastikan keaslian maupun konteks lengkap dari pernyataan tersebut.
Muncul dugaan retaknya hubungan elit politik dan gardak revolusi.
Berkembangnya berbagai laporan tersebut memunculkan spekulasi
mengenai kemungkinan adanya perbedaan pandangan di antara
elit politik dan Iran dan pimpinan gardak revolusi.
Sebagian pengamat menelai dinamika yang muncul selama prosesi pemakaman
dapat menjadi indikasi bahwa hubungan antara kelompok berpengaruh
di dalam struktur kekuasaan Iran sedang mengalami tekanan.
Namun demikian, hingga kini belum terdapat bukti resmi
yang dapat memastikan adanya kertakan internal tersebut.
Kait Kellogg bandingkan perang Ukraina dengan Afganistan era Uni Soviet.
Sementara itu menghadapi berbagai tantangan internal,
sekutunya Rusia juga terus berada di bawah tekanan akibat perang di Ukraina.
Dalam memuacara dengan PBS,
mantan utusan khusus Donald Trump untuk urusan Rusia,
Kait Kellogg menyampaikan perbandingan yang cukup tajam
mengenai besarnya kerugian yang dialami Rusia.
Menurut Kellogg, ketika Uni Soviet berperang di Afganistan,
jumlah korban tewas tenteranya diperkirakan sekitar 18 ribu orang
dan beban perang tersebut pada akhirnya memaksa Moskow menarik seluruh pasukannya.
Ia kemudian menyatakan bahwa total korban tewas maupun luka di pihak Rusia
selama perang Ukraina diperkirakan telah mencapai sekitar 1,2 hingga 1,4 juta orang
meskipun angka tersebut masih menjadi bahan perdebatan
dan memiliki perbedaan estimasi di berbagai sumber internasional.
Peringatan Agar Putin Tidak Mengulangi Sejarah Nikolai II
Dalam memuacara yang sama, Kellogg mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin
perlu menyadari bahwa Rusia belum benar-benar memenangkan perang.
Ia mengingatkan agar Putin tidak mengulangi nasib tesar Nikolai II,
penguasa terakhir ke Kaiseran Rusia.
Menurut Kellogg, keputusan Nikolai II membawa Rusia masuk ke dalam Perang Dunia I
memicu krisis ekonomi yang semakin parah, meningkatnya kemarahan rakyat,
hingga akhirnya melahirkan Revolusi Februari yang menjatuhkan kekuasaannya.
Beberapa waktu kemudian, Nikolai II beserta keluarganya kehilangan nyawa setelah revolusi tersebut.
Seruan Untuk Menempuh Jalur Diplomasi
Kellogg menegaskan bahwa pesannya tidak hanya ditujukan kepada Kremlin
tetapi juga kepada negara-negara Barat.
Menurutnya, penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi merupakan pilihan yang lebih baik
dibandingkan mendorong Rusia ke situasi dimana kepemimpinan Putin
hanya memiliki dua pilihan ekstrim,
yakni memenangkan perang atau menghadapi risiko kehilangan kekuasaan.
Ia menilai bahwa semakin lama konflik berlangsung,
semakin besar pula biaya kemanusiaan, ekonomi, dan politik yang harus ditanggung semua pihak yang terlibat.
Situasi di Iran maupun Rusia menunjukkan bahwa tekanan eksternal
seringkali berjalan beriringan dengan tantangan internal.
Di satu sisi, Teheran menghadapi sorotan terkait dugaan ancaman terhadap Amerika Serikat
dan berbagai spekulasi mengenai dinamika elite politiknya.
Di sisi lain, Moskau terus menghadapi beban perang yang semakin besar
sementara komunitas internasional masih berupaya mencari peluang
bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Cukup sekian dulu. Terima kasih atas perhatiannya.