SHANGHAI TAMAT SUDAH!  DEPRESI TERBURUK ....

SHANGHAI TAMAT SUDAH! DEPRESI TERBURUK ....

D
105 Tayangan video·10 Agu 2025

Penulis artikel ini, yang menyebut dirinya Ying, tiba di Shanghai untuk mencari pekerjaan tetapi segera menyadari bahwa kota tersebut sedang mengalami depresi ekonomi yang parah. Dia dipaksa untuk tidur di jalanan bersama banyak kurir makanan lainnya yang berjuang untuk bertahan hidup. Ying menggambarkan bagaimana Shanghai, yang dulunya merupakan pusat ekonomi terkemuka, kini terasa lebih lemah dari kota kota kecil, dengan toko toko kosong dan mal mal yang seperti "kota hantu".

Dalam dua tahun terakhir, sekitar 2 hingga 3 juta orang telah meninggalkan Shanghai. Banyak bisnis tutup, bahkan sebelum sempat dibuka secara resmi. Tanda tanda "disewakan" dan "dijual" menempel di mana mana. Bahkan tempat tempat ikonik seperti mal di dekat Jalan Dong Chuan dan KFC di dekat Baoan Wanda telah tutup. Tiga distrik baru yang disebut sebut makmur—DH Hongcha, Bund Utara, dan Kiantan—juga sedang berjuang, dengan Hongcha memiliki 80% ruang kantor yang kosong.

Depresi ini telah mempengaruhi setiap industri, dari penjual bahan bangunan dan agen real estat hingga salon kecantikan dan pengemudi ride hailing; tidak ada yang menghasilkan uang. Konsumsi telah menurun tajam karena orang orang tidak ingin belanja. Selain pekerja migran, bahkan penduduk asli Shanghai juga berimigrasi. Ying sendiri telah menjalani 15 wawancara dalam sebulan, tetapi tanpa hasil. Dia menyimpulkan bahwa Shanghai, yang dulunya simbol kebangkitan China, kini kosong, dengan pekerjaan lenyap dan penduduk yang bisa pergi telah melakukannya. Krisis di Shanghai ini menimbulkan kekhawatiran tentang runtuhnya seluruh perekonomian China.