
KELAPARAN AKAN DATANG? PANEN HENAN TELAH HANCUR TOTAL! DI CHINA, ORANG-ORANG MARAH
Rakyat jelata, khususnya petani tua, memohon belas kasihan akibat hujan tak henti selama berhari-hari di seluruh Tiongkok, dari Anhui hingga Henan, yang menghancurkan panen musim gugur. Curah hujan sejak 1 Oktober telah memecahkan rekor sejak 1961, menyebabkan luapan Sungai Kuning dan tenggelamnya lahan pertanian serta jagung yang membusuk atau berjamur.
Panen jagung dan kacang tahun ini terasa seperti "pertempuran" yang sangat sulit. Petani harus berjalan menembus lumpur setinggi lutut, memanen biji-bijian satu per satu, dengan kerugian finansial yang besar karena tanaman yang hilang dan biaya operasional yang sia-sia. Bagi mereka, ini bukan hanya masalah uang, tetapi juga masalah "jiwa tanah" dan keyakinan yang diturunkan, merasa harus menyelamatkan setiap bulir seperti orang tua mereka menjaga anak-anak.
Di tengah bencana ini, kecemasan meningkat karena tidak adanya penghasilan tetap menjelang Tahun Baru Imlek, dan mereka merasa tidak berdaya melawan alam. Mereka juga marah terhadap "pakar" yang meremehkan peran petani dan terkejut karena penderitaan mereka tidak menjadi berita utama, padahal seluruh provinsi berjuang memanen makanan bangsa.
Kesengsaraan petani ini terjadi bersamaan dengan kemerosotan ekonomi Tiongkok yang lebih luas, di mana pabrik-pabrik tutup, pengangguran melonjak, dan krisis *real estate* meruntuhkan kekayaan kelas menengah. Di jalanan dan stasiun kereta api, keputusasaan terlihat jelas, dengan banyak orang tidur di bawah jembatan. Bagi banyak pihak, krisis ganda ini, diperparah oleh cuaca ekstrem dan keheningan pemerintah, menunjukkan bahwa krisis Tiongkok saat ini adalah keruntuhan yang dalam dan tak terhindarkan.
