Satu-satunya Penjahit di Desa
Satu-satunya Penjahit di Desa – Kisah tentang Kesombongan dan Iri Hati

Di sebuah desa, hiduplah seorang penjahit bernama Waru, dia adalah satu-satunya penjahit di desa tersebut, semua orang di desa biasa datang kepadanya untuk menjahit pakaian mereka. Dan Waru biasa mendapatkan uang dari hasil menjahit.
Waru tahu bahwa penduduk desa tidak punya pilihan selain datang kepadanya untuk menjahit pakaian, dan dia mulai menjadi sombong. Jika seseorang datang kepadanya dengan keluhan tentang hasil jahitannya, dia akan berperilaku buruk dan berdebat dengan mereka.
Selain itu, perlahan-lahan Waru mulai menaikkan ongkos jahit di tokonya.
Orang-orang marah kepadanya tapi tetap harus mendatanginya karena tidak ada pilihan lain.
Suatu hari seorang wanita miskin datang bersama anaknya ke desa dan mulai tinggal di sana. Ia memiliki keterampilan menjahit. Jadi, untuk mencari pekerjaan, ia pergi ke toko Waru, dan memintanya untuk mempekerjakannya di tokonya, tapi Waru menolak dan mengusirnya.
Karena tidak melihat cara lain untuk mencari nafkah, wanita itu membeli mesin jahit dan membangun sebuah toko kecil dengan uang yang dimilikinya, lalu mulai menjahit untuk penduduk di desa tersebut.
Jahitannya bagus, dan dia melayani pelanggannya dengan lembut dan ramah, selain itu, dia juga memasang harga yang lebih murah untuk ongkos jahitnya, jadi orang-orang desa mulai datang kepadanya untuk menjahit pakaian mereka.
Pekerjaan menjahitnya mulai berkembang dan dalam waktu singkat, semua orang di desa mulai mendatangi wanita itu.
Karena tidak ada pelanggan, sumber pendapatan Waru terhenti. Setiap kali dia melihat wanita penjahit tersebut, dia akan dipenuhi dengan iri hati dan kemarahan.
Melihat kondisi bisnis suaminya yang terpuruk serta suaminya yang selalu tampak kesal dan marah, suatu hari, istri Waru pergi ke toko wanita penjahit dan berkata kepadanya,
"Sejak kamu datang, tidak ada yang datang ke toko suamiku untuk menjahit pakaian. Dua penjahit tidak dapat menghasilkan banyak uang di desa kecil ini. Jika kamu setuju, aku ingin membeli tokomu."
Wanita itu setuju untuk menjual tokonya. Kesepakatan diselesaikan dengan harga 15 juta rupiah. Setelah mengambil uang, hari itu juga setelah wanita itu menutup tokonya, dia meninggalkan desa bersama anaknya.
Tak disangka, Waru yang dipenuhi dengan iri hati dan kemarahan, pergi ke toko wanita tersebut di malam itu juga dan membakarnya.
Toko mulai terbakar dan segera, semuanya berubah menjadi abu.
Ketika istrinya mengetahui hal ini, dia mendatanginya dan berkata, “Apa yang telah kamu lakukan! Aku bertemu dengannya dan membuat kesepakatan. Aku menawarinya untuk membeli tokonya seharga 15 juta dan meninggalkan desa ini. Dia setuju, dan sudah pergi saat itu juga. Kenapa kamu malah membakar tokomu sendiri???”
Ketika Waru mendengar hal itu, dia menyadari kesalahannya, tapi sekarang dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa meratapi kerugiannya.
Kesombongan dan iri hati, pada akhirnya hanya akan merugikan diri kita sendiri.

