Titik Terang-Parenting, Kasih Sayang

Titik Terang - Kehidupan, Misteri dan Psikologi
217 pengikut
583 Tayangan video·18 Mei 2023
Semua manusia dalam kehidupannya membutuhkan kasih sayang. Tidak ada orang yang bisa hidup tanpanya. Sebuah eksperimen yang dilakukan oleh seorang Dokter ahli anatomi syaraf, yang terkenal dengan penelitiannya membedah otak Einsten, bernama Dr Marian C Diamond akan membuktikan bahwa kasih sayang merupakan kebutuhan utama setiap makhluk untuk bertahan hidup. Eksperimennya menggunakan tikus-tikus muda dan tikus-tikus tua. Lalu apa yang terjadi dengan tikus-tikus tersebut?
Apakah penerapannya sama dengan manusia? Kisah-kisah bayi korban dari Perang Dunia II akan membuktikan bahwa kasih sayang sangat dibutuhkan, lebih dari kebutuhan pokok seperti makanan dan tepat tinggal untuk tetap bertahan hidup dan tumbuh kuat.
[Musik]
Semua manusia dalam kehidupannya
membutuhkan kasih sayang. Tidak ada orang
yang bisa hidup tanpanya.
Berikut sebuah eksperimen yang
membuktikan bahwa pentingnya kasih
sayang sebagai fondasi hidup, terutama
dalam mendidik anak.
Eksperimen tersebut dilakukan oleh
seorang dokter ahli anatomi saraf yang
terkenal dengan penelitiannya membedah
otak Einstein bernama Dokter Marian C
Diamond. Dalam eksperimennya kali ini ia
akan membuktikan bahwa kasih sayang
merupakan kebutuhan utama setiap makhluk
untuk bertahan hidup.
Doctor Marian menggunakan tikus-tikus
mudah sebanyak 12 ekor yang ditempatkan
dalam sebuah kandang. Kandang pertama
dipenuhi berbagai alat yang digunakan
untuk bermain.
Sedangkan kandang satunya tidak diisi
mainan sama sekali.
Lalu apa yang terjadi dengan tikus-tikus
tersebut?
[Musik]
Halo semua saya Neny Anggraeni. Selamat
datang di channel saya Titik Terang. Di
sini kamu akan dapatkan semua info
sampai tips-triks seputar dunia Psikologi.
Kembali pada eksperimen dokter Marian
pada tikus-tikus mudanya,
didapatkan hasil ternyata tikus-tikus
yang kandangnya diisi dengan mainan
dapat menyelesaikan tes lebih cepat,
dibandingkan dengan tikus yang
diletakkan pada kandang tanpa mainan.
Bahkan tikus-tikus tersebut juga
menunjukkan kemampuan untuk memecahkan
masalah dengan lebih baik.
Tidak cukup dengan eksperimen tersebut,
kali ini Dokter Marian melakukan
eksperimen yang sama, tetapi menggunakan
tikus-tikus lebih tua berusia 600 hari,
yang kurang lebih sama dengan 60 tahun
usia manusia.
Namun ternyata beberapa ekor tikus
meninggal menjelang usia 600 hari.
Dokter Diamond pun berpikir untuk
mencoba dan memperbaiki durasi usia
tikus dengan menambahkan bahan tambahan
dalam eksperimennya. Bahan itu adalah
kasih sayang.
Bahan kasih sayang ditambahkan dengan
cara: daripada lebih lama menempatkan
tikus-tikus dalam kandang setelah
dibersihkan,
para ilmuwan yang terlibat dalam
penelitian lebih memilih membawa
tikus-tikus dalam setiap aktivitasnya.
Para ilmuwan bahkan membawa tikus-tikus
tersebut dalam jas lab mereka sembari
bekerja.
Hasilnya tikus-tikus tersebut hidup
lebih lama dibandingkan dengan yang
tidak dipelihara dengan kasih sayang.
Dari eksperimen tersebut terbukti
pentingnya kasih sayang sebagai
kebutuhan utama makhluk hidup untuk
bertahan hidup.
Namun dalam eksperimen Dokter Marian,
Apakah aplikasinya sama jika diterapkan
pada manusia?
Berikut kisah nyata yang membuktikan
bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam
lingkungan yang penuh kasih sayang akan
tumbuh lebih sehat dan kuat. Dan betapa
pentingnya sebuah kasih sayang untuk
perkembangan seorang anak.
Perang Dunia 2 berakhir tahun
1945 dengan kemenangan di pihak Sekutu
dan dijatuhkannya bom atom di Jepang.
Dunia dalam keadaan porak poranda
meninggalkan banyak masalah kemanusiaan
sebagai warisan kekejaman Perang Dunia 2.
Diantara banyak masalah manusiawi yang
harus ditangani, salah satunya adalah
anak-anak korban perang,
bayi-bayi dan anak-anak yang orang
tuanya terbunuh atau terpisah saat
perang menjadi yatim piatu untuk
selama-lamanya.
Salah satu negara yang tidak terlibat
Perang Dunia 2 adalah negara Swiss.
Swiss yang berhasil menghindar dari
perang mengirim petugas-petugas
kesehatannya untuk menangani masalah
anak-anak korban perang tersebut.
Beberapa Dokter Swiss ditugaskan untuk
menyelidiki bagaimana sebaiknya merawat
bayi-bayi yatim piatu korban dari Perang
Dunia 2.
Demi rasa kemanusiaan,
dokter-dokter Swiss tersebut menjelajahi
seluruh Eropa dan mengunjungi banyak
tempat penampungan anak yatim piatu
untuk mencari tahu perawatan yang paling
tepat.
Dari pengalaman menjelajahi beberapa
tempat dan mengadakan perbandingan,
dokter tersebut banyak melihat keadaan
yang sangat bertolak belakang.
Di suatu tempat ia melihat didirikannya
banyak Rumah Sakit darurat militer
Amerika untuk merawat bayi-bayi yang
terlantar.
Bayi tersebut diberi pelayanan penuh
oleh juru rawat berseragam putih yang
profesional.
Tempat tidur stainless steel anti karat,
ruang yang selalu bersih, hingga susu dan
makanan khusus yang tidak diragukan
gizinya.
Bertolak belakang di tempat lain, justru
para relawan dengan truk membawa
bayi-bayi itu untuk diserahkan kepada
orang-orang yang tinggal di desa-desa
pegunungan terpencil.
Setengah lusin bayi ditinggalkan begitu
saja, untuk diasuh penduduk desa.
Bayi-bayi tersebut bahkan diasuh bersama
hewan peliharaan, seperti domba, sapi dan
anjing.
Susu yang diberikan adalah susu sapi dan
dalam timbangan perempuan desa, serta
bubur dapur umum. Lalu apa yang terjadi
dengan bayi-bayi tersebut?
Beda bayi-bayi yang dirawat istimewa di
Rumah Sakit dan bayi-bayi yang dirawat
apa adanya di desa-desa terpencil.
Saat epidemik melanda Eropa, setelah
Perang Dunia 2, inflasi, kelaparan,
penyakit infeksi,
influenza, dan disentri merajalela.
Statistik angka kematian sangat tinggi
di Eropa. Di sini terlihat bedanya
Bayi-bayi yang mendapatkan perawatan
penuh dan istimewa, tetap saja dalam
statistik menunjukkan angka kematian
yang sangat tinggi.
Lalu apa yang terjadi pada bayi-bayi
yang hidup di Desa? dengan makanan ala
kadarnya khas pedesaan, dan tumbuh
bersama hewan peliharaan? Ternyata mereka
tumbuh lebih baik dibandingkan bayi-bayi
yang dirawat secara istimewa di rumah
sakit.
Sampai akhirnya dokter itu menemukan
bahwa untuk tumbuh bayi memerlukan tidak
hanya cukup gizi yang baik saja, tetapi
lebih dari itu. Dan kebutuhan itu tidak
bisa ditawar-tawar atau ditunda-tunda
lagi. Ya... kebutuhan itu adalah kasih
sayang, yang tidak didapatkan oleh
bayi-bayi di rumah sakit Militer adalah
kasih sayang dan belaian.
Juru rawat hanya menunaikan tugasnya
memberikan susu dan makanan yang baik.
Sebaliknya bayi-bayi di desa mendapat
banyak belaian, berkumpul, melihat
berbagai macam hal, dan mendapat
perhatian yang wajar. Mereka tumbuh lebih
baik. Bagaimana bayi di desa dirawat
dengan cukup kasih sayang? Dari
pengamatan sang Dokter Swiss tersebut,
bayi-bayi di desa lebih sering mendapat
kontak belaian kulit ke kulit dari dua
atau tiga orang tertentu dalam frekuensi
tinggi.
Selain itu bayi lebih sering melakukan
gerakan yang lembut, misalnya; digendong,
dipangku, diayun, bernyanyi,
bercakap-cakap, dan sebagainya. Itu semua
tidak didapatkan oleh bayi-bayi yang ada
di Rumah Sakit Militer.
Kesimpulannya seorang bayi, seorang anak
membutuhkan kontak manusiawi. Inilah yang
disebut kasih sayang. Tidak hanya sekedar
makanan dan tempat yang bersih. Kalau
kasih sayang tidak diberikan maka mereka
mudah sekali meninggal.
Sebaik-baiknya metode hubungan adalah
hubungan yang dibangun atas dasar kasih
sayang. Sistem hubungan ini begitu
alamiah. Pada dasarnya setiap orang tua
di dunia ini akan menyayangi
anak-anaknya. Namun dalam prakteknya
kualitas dan intensitas kasih sayang
orang tua bisa berbeda.
Terkadang rutinitas sehari-hari, media
hiburan, dan media-media lainnya membuat
kita hidup dalam dunia yang egosentris,
sehingga membuat anak-anak kehilangan
sentuhan kasih sayang dari orang tuanya
sendiri.
Kalau kita koreksi diri sendiri, maka
Apakah kita sebagai orang tua
benar-benar memahami arti kasih
sayangnya sesungguhnya?
Terima kasih untuk telah menonton video
ini. Jangan lupa untuk like, subscribe dan
share, agar lebih banyak orang
mendapatkan info yang bermanfaat. Sampai
jumpa di video-video selanjutnya.
[Musik]
