Pada akhir 1950-an, Mao Zedong ingin membuktikan bahwa China mampu mengejar Inggris dalam produksi industri. Ambisinya besar. Target produksi baja dan pangan dinaikkan. Seluruh negara dimobilisasi untuk menjalankan program yang disebut Lompatan Jauh ke Depan.
Namun, ada satu persoalan mendasar. China belum memiliki kemampuan industri, teknologi, dan sumber daya yang cukup. Dalam sistem politik yang menempatkan pemimpin sebagai figur yang tidak boleh salah, kenyataan tidak dapat disampaikan secara jujur. Pejabat daerah mulai menggelembungkan laporan panen. Pemerintah pusat percaya persediaan pangan melimpah, lalu meminta setoran yang lebih besar dari desa-desa. Akibatnya, makanan dirampas dari petani yang justru membutuhkan hasil panen untuk keluarganya sendiri. Sistem komune rakyat mengambil alih tanah, alat pertanian, ternak, dan produksi pangan. Dapur komunal dibentuk, tetapi persediaan kemudian menipis. Pada saat yang sama, petani dipindahkan dari sawah untuk bekerja di tungku-tungku baja rumahan. Panci dan peralatan pertanian dilebur menjadi logam yang sering kali tidak berguna. Kampanye pembasmian burung pipit ikut mengganggu keseimbangan ekosistem.
Ketika Menteri Pertahanan Peng Dehuai mencoba menyampaikan kritik pada Konferensi Lushan tahun 1959, ia disingkirkan. Pesan kepada seluruh pejabat menjadi jelas: mengatakan kebenaran dapat menghancurkan karier dan keselamatan mereka. Akibatnya, laporan palsu terus berlanjut, sementara rakyat China menghadapi kelaparan besar. Dalam Analisa China kali ini, Suara Patriot membahas: • Ambisi Mao untuk mengejar Inggris. • Mengapa pejabat daerah memalsukan angka produksi. • Bagaimana sistem komune mengambil kendali atas pangan. • Mengapa petani justru kelaparan di tengah klaim panen melimpah. • Dampak tungku baja rumahan terhadap pertanian. • Hubungan Kampanye Empat Hama dengan kerusakan ekosistem. • Nasib Peng Dehuai setelah mengkritik kebijakan Mao. • Mengapa sistem yang menolak kritik kehilangan kemampuan memperbaiki kesalahan. • Pelajaran bagi Indonesia tentang data, keterbukaan, pertanian, dan pengawasan kekuasaan.
Jumlah korban Lompatan Jauh ke Depan masih diperdebatkan. Sejumlah penelitian memperkirakan puluhan juta kematian. Sejarawan Frank Dikötter mengajukan estimasi sedikitnya 45 juta kematian prematur, tetapi angka tersebut bukan satu-satunya estimasi dan tidak dapat diperlakukan sebagai jumlah pasti. Kritik dalam video ini ditujukan kepada kebijakan Mao Zedong, penyalahgunaan kekuasaan, dan sistem politik yang membungkam koreksi. Rakyat China justru menjadi korban terbesar dari tragedi tersebut.
Video ini membahas tentang tragedi \"Lompatan Jauh ke Depan\" di Tiongkok pada akhir 1950-an. Ambisi Mao Zedong untuk mempercepat industrialisasi dan produksi pangan justru memicu bencana besar akibat laporan palsu, pengabaian sains, dan pembungkaman kritik, yang mengakibatkan kelaparan massal dengan estimasi korban jiwa mencapai puluhan juta orang.
Maka ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan Mao,
kenyataanlah yang mulai dipalsukan.
Sahabat Patriot,
bayangkan seorang pemimpin yang ingin negaranya menjadi kekuatan industri dunia hanya dalam beberapa tahun.
Targetnya besar.
China harus mengejar Inggris,
bahkan bersaing dengan negara-negara paling maju.
Sekilas, ambisi seperti ini terdengar membanggakan.
Tetapi bagaimana jika negara tersebut belum memiliki teknologi,
tenaga ahli,
atau kemampuan produksi yang memadai?
Dan bagaimana jika semua orang terlalu takut untuk mengatakan kenyataan?
Menurut analisis Don Zhao dari Digging into China,
itulah awal bencana yang dikenal sebagai Lompatan Jauh Kedepan.
Pada akhir 1950-an,
Mao Zedong ingin menunjukkan bahwa sistem komunisme mampu mengubah China
menjadi negara industri dalam waktu singkat.
Ia menetapkan target yang sangat tinggi.
Pejabat daerah diminta meningkatkan produksi pangan dan baja secara besar-besaran.
Namun,
Sahabat Patriot,
di dalam sistem yang menempatkan pemimpin sebagai sosok yang tidak boleh salah,
target yang mustahil tidak dapat ditolak.
Maka ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan Mao,
kenyataanlah yang mulai dipalsukan.
Para pejabat daerah mulai berlomba melaporkan keberhasilan yang tidak benar-benar terjadi.
Hasil panen dibesar-besarkan.
Produksi pertanian dilaporkan melonjak berkali-kali lipat.
Wilayah yang mengirim angka paling tinggi dipuji sebagai contoh keberhasilan revolusi.
Pejabatnya memperoleh pengakuan.
Sebaliknya, mereka yang melaporkan angka rendah dapat dianggap tidak setia atau tidak cukup revolusioner.
Sahabat Patriot, bayangkan akibatnya.
Ketika sebuah desa sebenarnya hanya memiliki sedikit hasil panen,
tetapi dilaporkan mempunyai persediaan berlimpah,
pemerintah pusat akan meminta setoran yang jauh lebih besar.
Di atas kertas, rakyat terlihat makmur.
Tetapi di desa-desa, makanan mulai menghilang.
Semakin besar kebohongan dalam laporan,
semakin banyak pangan yang diambil dari masyarakat.
Dan ketika petani mengatakan bahwa persediaan mereka sudah habis,
pemerintah justru menganggap mereka menyembunyikan hasil panen.
MAKO kemudian memperluas sistem komunirakyat.
Tanah, ternak, alat pertanian, dan hasil produksi ditempatkan di bawah pengelolaan bersama.
Petani kehilangan kebebasan untuk mengatur hasil kerja mereka sendiri.
Dapur umum dibentuk untuk menunjukkan bahwa kehidupan komunal mampu menyediakan makanan bagi semua orang.
Pada awalnya, makanan dibagikan untuk menciptakan kesan bahwa persediaan tidak terbatas.
Tetapi persediaan tersebut segera menipis.
Ketika negara tetap menuntut setoran berdasarkan laporan panen palsu,
petani dituduh menyembunyikan makanan,
penggeledahan dilakukan, cadangan terakhir diambil,
dan banyak keluarga mengalami kekerasan.
Sahabat Patriot, orang yang bekerja menanam pangan,
justru tidak dapat mempertahankan makanan untuk keluarganya sendiri.
Mereka bergantung kepada sistem yang mengambil hasil panen mereka.
Ketika negara menguasai seluruh pangan,
kelaparan berubah menjadi senjata yang tidak dapat dihindari.
Ambisi Mao tidak berhenti pada pertanian.
Dia ingin Cina meningkatkan produksi baja agar dapat mengejar Inggris.
Karena pabrik modern belum mencukupi,
masyarakat diminta membangun tungku-tungku sederhana di halaman rumah,
panci, wajan, dan berbagai peralatan pertanian dilebur.
Banyak hasilnya hanya berupa logam berkualitas rendah yang tidak dapat digunakan.
Namun persoalan yang lebih besar adalah tenaga kerja.
Petani yang seharusnya menanam dan memanen,
justru dipindahkan untuk menjaga tungku.
Di sejumlah tempat, tanaman dibiarkan rusak
karena masyarakat diperintahkan menghasilkan baja.
Pada saat yang sama, pemerintah menjalankan kampanye Empathama.
Burung pipit dibasmi secara besar-besaran
karena dianggap memakan hasil pertanian.
Padahal burung juga membantu mengendalikan serangga.
Ketika jumlah burung menurun,
gangguan serangga terhadap tanaman ikut meningkat.
Sahabat Patriot,
satu kebijakan yang keliru diperburuk oleh kebijakan keliru lainnya.
Sawah kekurangan pekerja, tanaman terganggu,
tetapi propaganda tetap mengumumkan kemenangan.
Pada 1959,
Menteri Pertahanan Pengdehuai berusaha menyampaikan kritik
terhadap pelaksanaan lompatan jauh ke depan.
Ia menjelaskan bahwa laporan berlebihan
dan kebijakan yang terlalu tergesa-gesa telah menciptakan masalah serius.
Namun Mao tidak menerima kritik tersebut sebagai peringatan.
Pengdehuai justru dituduh melakukan penyimpangan politik dan disingkirkan.
Pesannya langsung dipahami seluruh pejabat.
Sahabat Patriot,
kalau seorang tokoh besar seperti Pengdehuai dapat dihancurkan
karena mengatakan kebenaran,
siapa lagi yang berani melaporkan bahwa rakyat sedang kelaparan?
Akibatnya, laporan palsu terus berjalan.
Sementara itu, sistem registrasi penduduk
membatasi perpindahan masyarakat desa.
Banyak keluarga tidak bebas meninggalkan wilayahnya
untuk mencari makanan di tempat lain.
Mereka terperangkap di tengah kebijakan yang tidak dapat mereka lawan.
Kebenaran dibungkam, jalan keluar ditutup,
dan kelaparan dibiarkan berkembang.
Bencana kelaparan mencapai puncaknya.
Antara akhir 1950-an dan awal 1960-an,
jumlah korban pastinya masih diperdebatkan.
Sejumlah penelitian memperkirakan sekitar 30 juta kematian.
Peneliti lain menggunakan angka yang berbeda.
Sejarawan Frank Dikweter bahkan memperkirakan sedikitnya
45 juta kematian prematur.
Namun terlepas dari perbedaan estimasi tersebut,
satu hal tidak dapat disangkal.
Jutaan rakyat Cina menjadi korban
dari kebijakan yang gagal dan tidak boleh dikritik.
Pada 1962, ribuan kader partai
berkumpul untuk membahas kerusakan yang terjadi.
Peran kesalahan manusia mulai diakui.
Mao mengambil tanggung jawab formal,
sementara Liu Shouqi dan Deng Xiaoping
memperoleh peran lebih besar dalam pemulihan ekonomi.
Namun luka yang ditinggalkan sudah sangat dalam.
Negara yang ingin melompati Inggris
justru kehilangan jutaan rakyatnya sendiri.
Tragedi lompatan jauh ke depan
menunjukkan bahwa target pembangunan yang besar
harus disertai data yang jujur.
Kebebasan menyampaikan kritik
dan keberanian memperbaiki kesalahan.
Pemimpin boleh memiliki ambisi.
Pemerintah boleh menetapkan target.
Tetapi bawahan harus dapat melaporkan kenyataan
tanpa takut dihukum.
Petani harus dilindungi.
Ilmu, pengetahuan harus dihormati.
Dan kekuasaan harus selalu memiliki pengawasan.
Karena ketika laporan palsu
lebih dihargai daripada kebenaran,
dan ketika kritik diperlakukan sebagai pengkhianatan,
yang hancur bukan hanya kebijakan,
tetapi kehidupan jutaan manusia.
Suara Patriotik Indonesia Berdaulat.