Pada tanggal 21 April 2025, dunia dikejutkan oleh kabar yang datang dari jantung Vatikan: Paus Fransiskus, pemimpin ke-266 Gereja Katolik Roma, telah meninggal dunia pada usia 88 tahun. Beliau menghembuskan napas terakhir di kediaman sederhana Santa Marta—tempat yang selalu ia pilih sebagai lambang kesederhanaannya, menolak istana megah tempat para paus sebelumnya bersemayam. Hanya sehari sebelum wafatnya, ia masih terlihat duduk di kursi roda, muncul di Lapangan Santo Petrus, memberkati jutaan umat Katolik yang memadati lokasi suci itu dalam rangka merayakan Hari Raya Paskah. Ia juga sempat bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance dalam sebuah pertemuan singkat namun sarat makna. Kontroversi pun mencuat, menyebut pertemuan itu sebagai “jabat tangan maut”—kiasan yang memantik diskusi tak hanya di kalangan umat Katolik, tapi juga dalam komunitas geopolitik dan teologi akhir zaman. Kematian Paus Fransiskus bukan hanya menjadi momen duka, tetapi juga membuka kembali tabir tentang sebuah nubuat kuno yang telah lama menjadi topik hangat di antara para mistikus dan peneliti naskah-naskah kuno: nubuat Paus terakhir.
Dibuat oleh AI·Mungkin mengandung kesalahan
Ringkasan Video
Dibuat oleh AI
The video discusses the death of Pope Francis on April 21, 2025, and the subsequent wave of theological and geopolitical speculation. It explores his legacy as a reformist leader, his controversial diplomatic ties with China, and the eerie alignment of his tenure with globalist figures and ancient prophecies regarding the \"Last Pope.\"
Intro
Salam sehat sejahtera, jumpa lagi di channel Mata Ketiga.
Pada tanggal 21 April 2025, dunia dikejutkan oleh kabar yang datang dari jantung fatikan.
Paus Franciscus, pemimpin ke-266 gereja katolik Roma, telah meninggal dunia pada usia 88 tahun.
Beliau mengebuskan nafas terakhir di kediaman sederhana Santa Marta,
tempat yang selalu ia pilih sebagai lambang kesederhanaannya.
Menolak istana megah tempat para Paus sebelumnya bersemhayam.
Hanya sehari sebelum wafatnya, ia masih terlihat duduk di kursi roda,
muncul di lapangan Santo Petrus, memberkati jutaan umat katolik yang memadati lokasi suci itu
dalam rangka merayakan hari raya pasca.
Ia juga sempat bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat G.D. Vance
dalam sebuah pertemuan singkat namun sanat makna.
Kontroversi pun mencuat, menyebut pertemuan itu sebagai jabat tangan maut,
kiasan yang memantik diskusi tak hanya di kalangan umat katolik,
tapi juga dalam komunitas geopolitik dan teologi akhir jaman.
Kematian Paus Franciscus bukan hanya menjadi momen duka,
tetapi juga membuka kembali tabir tentang sebuah nubuat kuno
yang telah lama menjadi topik hangat di antara para mistikus dan peneliti naskah-naskah kuno,
Nubuat Paus Terakhir.
Nubuat Meleki dan Misteri Paus Terakhir
Salah satu nubuat yang paling mencengangkan dalam sejarah katolik
adalah Ramalan Uskup Agung Irlandia, Sain Meleki.
Pada tahun 1139, dalam kunjungannya ke Roma, Meleki mengaku mendapat penglihatan dari Tuhan
yang menampilkan deretan 112 paus yang akan memimpin gereja hingga tibanya hari penghakiman.
Ia menuliskan penglihatan ini dalam bentuk frasa-frasa singkat berbahasa latin pada perkamen
yang kemudian diserahkan kepada Paus saat itu dan disimpan di Arsip Rasyafatikan.
Naskah itu baru ditemukan pada abad ke-16 oleh Arnold D'Ewion, seorang sejarawan Benediktin,
dan sejak itu menjadi bahan kajian dan kontroversi lintas jaman.
Frasa terakhir dalam dafer itu merujuk kepada seorang paus yang disebut Petrus Romanus,
Petrus dari Roma.
Yang mengejutkan, dalam nama lengkap paus Franciscus,
George Mario Bergoglio, terdapat unsur nama Petrus dalam penahbisan latin resminya.
Lebih dari itu, banyak melihat keputusannya untuk tidak tinggal di istana apostolik
dan lebih memilih kediaman Santa Marta sebagai tindakan petrusian yang merakyat.
Paus Franciscus Dari Buenos Aires Menuju Puncak Rohani Dunia
Lahir pada 17 Desember 1936 di Buenos Aires, Argentina, George Mario Bergoglio dibesarkan
dalam keluarga imigran Italia yang sederhana.
Ayahnya adalah seorang akuntan kereta api, sementara ibunya mengurus rumah tangga.
Ia tumbuh bersama empat saudara kandung dalam lingkungan yang membentuk pandangan sosial
dan spiritualnya sejak dini.
Salah satu titik balik hidupnya terjadi saat ia berusia muda dan menderita infeksi paru-paru akut
yang memaksanya menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-parunya.
Pengalaman ini tidak hanya membentuk daya tahan fisiknya, tetapi juga menjadi titik refleksi
spiritual yang terus mengiringi perjalanan hidupnya.
Pada tahun 1958, ia bergabung dengan Ordo Yesuit, sosiet selesu yang dikenal ketat dan intelektual.
Ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1969, diangkat menjadi uskup agung Buenos Aires.
Pada 1998, lalu kardinal pada 2001 oleh Paus Yohannes Paulus II.
Pada tahun 2013, setelah pengunduran diri tak terduga dari Paus Benediktus XVI,
Bergoglio terpilih secara mengejutkan melalui Konklavrasia menjadi paus pertama dari Amerika
Latin, dari selatan dunia, dan juga dari Serikat Yesus.
Pemilihan nama Franciscus adalah bentuk penghormatan kepada Santo Franciscus dari Assisi,
sosok yang mengabadikan hidup untuk kemiskinan, perdamaian, dan cinta terhadap ciptaan.
Pilihan nama ini mencerminkan tekad paus Franciscus untuk menjalani hidup yang bersahaja
dan berpihak kepada kaum tertindas.
Reformasi Yang Menggetarkan Akar Tradisi
Selama 12 tahun kepemimpinannya, Paus Franciscus menjadi simbol perubahan.
Ia mencoba membawa gereja katolik ke zaman modern, mengangkat isu-isu seperti perubahan iklim,
imigrasi, keadilan ekonomi, dan hak minoritas.
Ensiklik seperti Laudato Si' 2015 dan Fratelli Tutti 2020 menyerukan tanggung jawab global
terhadap lingkungan dan solidaritas universal.
Namun, reformasi itu tidak disambut semua pihak dengan tangan terbuka.
Kaum konservatif dalam gereja menuduhnya menyimpang dari ajaran inti katolik dan terlalu
mendekat pada agenda globalis.
Yang paling dipersoalkan adalah sikap terbukanya terhadap umat katolik yang bercerai dan menikah
kembali, serta keputusan yang kontroversial pada 2023 untuk mengizinkan pemberkatan pasangan
sesama jenis.
Kritik juga datang atas responnya terhadap krisis pelecehan seksual di dalam gereja.
Meski ia menyerukan zero tolerance, langkah-langkahnya dinilai setengah hati dan lamban oleh kelompok
korban.
Perjanjian Fatikan, Tiongkok dan Tuduhan Menjual Gereja
Salah satu babak paling kontroversial dalam masa kepemimpinan Paus Franciscus adalah
keputusan untuk menanetangani perjanjian sementara dengan pemerintah Tiongkok pada
tahun 2018 yang memungkinkan Partai Komunis Tiongkok PKT memiliki peran dalam pemilihan
dan pengangkatan uskup katolik di negara tersebut.
Perjanjian ini menjadi yang pertama sejak hubungan Fatikan-Tiongkok diputus tahun 1951
menyusul pengusiran utusan Fatikan oleh rezim komunis.
Meski Fatikan menyatakan bahwa Paus tetap memiliki hak veto akhir, detail dari perjanjian
ini tidak pernah sepenuhnya dipublikasikan.
Laporan dari kalangan dalam menyebut bahwa PKT memiliki wewenang untuk mencalonkan kandidat
uskup dan memblokir kandidat yang tidak diinginkan.
Ini memicu tuduhan bahwa gereja menjual dirinya kepada rezim ateis.
Kardinal Yosep Chen dari Hongkong, seorang kritikus vokal kebijakan ini, menyebutnya
sebagai langkah bunuh diri bagi gereja bawah tanah yang selama puluhan tahun setia pada
Roma.
Dalam surat pribadinya pada 2020, ia menyatakan,
Fatikan telah menyerahkan tubuh Kristus ke tangan Judas Iskariot.
Perjanjian tersebut diperbarui pada 2020-2022 dan terakhir pada 2024, meskipun terus menuai
kecamahan internasional dan memunculkan pertanyaan.
Apakah Fatikan sedang berkompromi atas iman, ataukah mencoba menyelamatkan jemaat dengan
jalan diplomasi?
Fransiskus, Si Jinping dan Simbolisme Globalisme
Kematian Fransiskus secara kebetulan bersamaan dengan pengunduran diri Klaus Schwepp, pendiri
Forum Ekonomi Dunia dan arsitek Ide Great Brissett, membuka ruang spekulasi akan adanya
kandang ilahi atau simbolisme sejarah.
Fransiskus dan Schwepp bukan hanya seumur, keduanya dilihat sebagai representasi wajah
globalisme modern yang menonjolkan kerjasama antarnegara, redistribusi ekonomi, dan kontrol
iklim global.
Yang mengejutkan, Fransiskus diangkat menjadi paus pada 13 Maret 2013.
Sehari setelahnya, 14 Maret, Si Jinping secara resmi dilantik sebagai Presiden Tiongkok.
Dua tokoh besar dunia dari dua ujung spektrum agama dan politik naik ketampu kekuasaan
dalam waktu 24 jam.
Ada yang menyebut ini, coincidence of the millennium, tetapi ada pula yang menyebutnya
bagian dari skema langit.
Dalam laporan Le Monde tahun 2020, disebutkan bahwa seorang Jesuit senior mengklaim bahwa
Fransiskus memandang kenaikannya bersamaan dengan Si Jinping sebagai panggilan sejarah,
bahkan berharap bisa mencairkan hubungan Vatikan Tiongkok secara personal.
Si pada 2014 mengizinkan pesawat Fransiskus untuk pertama kalinya melintasi wilayah udara
Tiongkok, sesuatu yang tidak pernah diizinkan kepada paus sebelumnya.
Bahkan paus Yohannes Paulus II pernah ditolak keras.
Sikap ini dianggap simbol dari kedekatan diam-diam antara dua tokoh global.
Namun muncul pertanyaan yang menggema di kalangan pengamat.
Jika Fransiskus sudah pergi, apakah giliran si akan tiba?
Transformasi Ajaran dan Perang Doktrinal
Paus Fransiskus bukan hanya reformis struktural, ia juga reformis doktrinal.
Sejak tahun 2013, pernyataannya tentang homoseksualitas menggemparkan dunia.
Siapa saya yang bisa menghakimi orang yang mencari Tuhan dengan niat baik,
meski memiliki kecenderungan homoseksual?
Dalam gerja katolik yang selama berabad-abad menyebut homoseksualitas sebagai disorder,
pernyataan ini seperti gempa.
Meskipun ia tak pernah secara resmi mengubah doktrin,
Fransiskus secara konsisten menurunkan ketegangan terhadap isu ini.
Tahun 2023, ia mengizinkan pemberkatan pasangan sesama jenis meski bukan sakramen pernikahan
dalam konteks pastoral dan itu cukup untuk memecah gereja secara ideologis.
Reformasi lain yang juga mengundang kontroversi adalah dokumen Amoris Laetitia tahun 2016
yang membuka ruang untuk umat katolik yang telah bercerai dan menikah kembali menerima komuni
dengan syarat pertimbangan pastoral dan penelian individual oleh imam.
Empat kardinal konservatif, termasuk Raymond Bourque, mengajukan lima pertanyaan resmi.
Namun tidak satu pun dijawab oleh Vatikan secara resmi.
Ia menambah keresahan akan kaburnya posisi gereja terhadap prinsip sakramental
yang seharusnya tidak bisa dinegosiasikan.
Sejumlah keuskupan di Argentina dan Jerman mulai memperlakukan kebijakan pemberkatan berdasar situasi,
sedangkan Polandia dan Kanada menolak.
Hasilnya, gereja katolik kini terpecah secara internal menjadi dua arus besar,
progresif dan konservatif.
Meski skandal pelecehan seksual oleh imam-imam katolik telah terungkap sejak awal 2000an,
Paus Franciscus mewarisi luka yang belum tertutup dan mencoba mengobatinya.
Pada 2019, ia mengadakan pertemuan besar para uskup dunia di Vatikan
untuk merebuskan strategi global.
Namun langkah-langkahnya sering dianggap tidak cukup tegas.
Kasus Kardinal Tidur McCarrick yang naik pangkat meski ada laporan pelecehan menjadi sorotan utama.
Franciscus dicurugai tahun lebih awal, tetapi baru bertindak setelah publik menekan.
Banyak korban, khususnya dari Amerika Latin dan Afrika,
mengeluhkan ketertutupan proses penyelidikan dan minimnya transparansi.
Gereja juga belum sepenuhnya membersihkan jaringan perlindungan internal
yang melibatkan uskup dan kardinal yang memindahkan imam pelaku daripada menghukumnya.
Meninggalnya sang Paus dan Arti di balik simbol.
Satu hari sebelum wafat, Paus Franciscus memimpin doa pascah di lapangan Santo Petrus.
Dalam pesan terakhirnya yang diposting di X di lead Twitter,
ia menulis,
Banyak pihak melihat ini sebagai epilog dari era kepemimpinannya
dan bahkan sebagai pengantar menuju masa yang akan sangat berbeda.
Jika ia memang paus terakhir sebagaimana nubuat sain meleki,
maka dunia, menurut ramalan tersebut, akan segera menghadapi hari penghakiman.
Di sisi lain, pengunduran diri Klaus Schwepp juga menjadi bahan pembicaraan luas.
Schwepp adalah tokoh utama dalam penyebaran konsep Great Reset dan transformasi kapitalisme global.
Para analis konservatif menyebut kepergian dua tokoh globalis dalam rantang waktu 24 jam
adalah simbol dari berakhirnya era globalisme dan awal dari kebangkitan nasionalisme dan kedaulatan tradisional.
Akhir jaman atau awal baru
Ramalan Sain Meleki menyebut bahwa setelah paus ke 112
yang diakini sebagai Fransiskus, dunia akan berada dalam kesengsaraan besar
dan Roma akan dihancurkan sebelum tibanya penghakiman terakhir.
Jika Xi Jinping yang naik bersama Fransiskus pada 2013
adalah representasi dari kekuatan bumi dan Fransiskus dari kekuatan langit,
maka kematian Sang Paus memicu pertanyaan yang tidak bisa diabaikan.
Apakah kita sedang menyaksikan kejatuhan dua kekuatan besar sekaligus?
Apakah ini bertanda bahwa jaman lama sedang runtuh membuka jalan lagi lahirnya peradaban baru?
Sebagian spiritualis menyebut ini sebagai transisi peradaban.
Para mistikus menyinggung kedatangan mesias atau pembersihan besar yang akan menyapu korupsi moral dan politik
yang telah lama mencengkeram dunia.
Seperti yang diungkap dalam catatan terakhir Fransiskus,
kita bukan dilahirkan untuk mati, tetapi untuk hidup.
Mungkin kematiannya bukanlah akhir,
melainkan panggilan untuk kehidupan baru
bagi gereja, bagi bangsa-bangsa, dan bagi umat manusia seluruhnya.
Dengan kepergian Paus Fransiskus dan menghilangnya tokoh-tokoh global lainnya,
dunia seperti menahan napas.
Banyak yang bertanya,
siapakah yang akan menghentikan paus terakhir?
Apakah inilah babak awal dari yang telah dinebuatkan selama berabad-abad?
Ataukah ini hanya satu lagi episode kebetulan sejarah?
Dunia sedang bergulir menuju suatu titik yang belum pernah dijelajahi.
Dan jawaban atas pertanyaan besar itu
mungkin tak akan datang dari Fatikan, Beijing, ataupun Davos.
Mungkin jawaban itu akan datang dari langit.
Cukup sekian dulu. Terima kasih atas perhatiannya.