Masa Lalu Sebagai Cerminan, Sumpah Akan Menjadi Kenyataan
Budaya tradisional Tiongkok berbicara tentang menghormati Tuhan dan mempercayai para Dewa. Di zaman dahulu, bersumpah adalah hal yang sangat khusyuk, adalah menyatakan tekad hati kepada para Dewa di langit dan bumi, memohon para Dewa dan Buddha menjadi saksi atas perilaku diri sendiri, menghargai kebaikan dan menghukum kejahatan.
Orang dahulu sangat memandang penting pada janji, sangat menaruh perhatian pada perihal ‘Sumpah’. Dikatakan ‘janji bagai ribuan kati emas, akan ditepati dengan teguh’ ‘Kata-kata yang telah diucapkan, sulit ditarik kembali’. Mutlak tidak boleh mengumbar janji atas hal-hal yang tak mampu diri sendiri lakukan. Lebih-lebih tidak boleh mengeluarkan sumpah beracun, konsekuensinya sangat mengerikan. Di dalam lima ribu tahun budaya orang Tionghoa telah mencatat banyak sekali kisah tentang sumpah janji yang menjadi kenyataan.
Masa lalu sebagai cerminan, sumpah akan menjadi kenyataan.
Budaya tradisional Tiongkok berbicara tentang menghormati Tuhan dan mempercayai para dewa.
Di zaman dahulu, bersumpah adalah hal yang sangat kusuk adalah menyatakan dekat hati kepada para dewa di langit dan bumi.
Memohon para dewa dan Buddha menjadi saksi atas perilaku diri sendiri, menghargai kebaikan dan menghukum kejahatan.
Orang dahulu sangat memandang penting pada janji, sangat meneruh perhatian pada perihal sumpah.
Dikatakan janji sebagai ribuan kati emas, akan ditepati dengan teguh.
Kata-kata yang telah diucapkan sulit ditarik kembali.
Mutlak tidak boleh menghumbar janji atas hal-hal yang tak mampu diri sendiri lakukan.
Lebih-lebih tidak boleh mengeluarkan sumpah beracun, konsekuensinya sangat mengerikan.
Di dalam 5.000 tahun budaya orang Tiongkok telah mencatat banyak sekali kisah tentang sumpah janji yang menjadi kenyataan.
Karena mengengkari sumpah, tubuh tertembus puluhan ribu panah.
Dalam Sing Dang Chuan dan Suo Dang ada sebuah cerita.
Jin Jiung dan sepupunya Luo Zheng, saling berbagi seni bela diri,
telah bersumpah untuk mewariskan mahakarya keluarga mereka,
yakni Garajin dan Tombak Luo.
Semua akan diajarkan ke pihak lain dan mutlak tidak akan disimpan untuk diri sendiri.
Jin Jiung bersumpah, jika menyisakan satu atau setengah jurus pukulan,
pasti akan muntah darah dan mati.
Tetapi pada akhirnya dia takut sepupunya akan melebihi dirinya,
lalu menyisakan satu jurus mahakarya Jin, yakni melepas gada dari tangan.
Luo Zheng bersumpah, jika ada yang disembunyikan, pasti akan mati dengan tubuh tertembus panah.
Karena takut kakak sepupu melebihi dirinya,
Luo Zheng juga menyembunyikan satu jurus mahakarya Luo,
yakni Tombak berbalik menyerang.
Kemudian karena pemberontakan Liu Heidai yang melawan dinasti Tang,
Luo Zheng lalu memimpin pasukan untuk meredam pemberontakan.
Ia terjebak di dalam sungai lumpur lalu mati terkena hujan panah.
Jin Jiung dewasa tua bertanding dengan Wei Jikong,
memperbutkan stempel panglima saat mengangkat bejana ribuan kati yang muntah darah dan mati.
Sumpah bukanlah hal yang remeh.
Tak terkecuali, tokoh pahlawan seperti Jin Jiung dan Luo Zheng pun
juga menerima hukuman karena melanggar sumpah janji.
Yang satu tubuh tertembus ribuan panah, yang satu lagi muntah darah dan mati.
Meskipun itu cerita dalam novel, namun juga menggugah orang untuk mawas diri.
Sesuai Sumpah Sepasang Mata Buta
Buku ini mencatat sebuah cerita saat perubahan Qinggang.
Sun Jingcheng, Zhou Huan dan ayah kaisar Sung Huicheng
beserta puluhan ribu orang termasuk bangsawan, selir kerajaan, pejabat dan lain-lain
ditawan oleh tentara Qing dan dibawa masuk ke utara.
Setelah Sung Kaochung, Zhou Kou naik tahta,
ia mencapai kesepakatan damai dengan negara Qin.
Permaisuri Tianreng, ibu kandung Zhou Kou dilepas dan dipulangkan.
Sebelum pergi, Sung Jingcheng menarik baju ibu Suri.
Memohon dengan sangat dan berkata,
Jika dapat membuat saya kembali ke selatan,
biarlah saya menjadi penguasa istana Taiyi sudah cukup.
Tidak ada tuntutan lain terhadap kakak kesembilan Zhou Kou.
Permaisuri Tianreng tidak dapat menolak lalu mengangkat sumpah,
Jika tidak dapat menjemput Anda kembali, biarlah mata saya menjadi buta.
Tanpa diduga setelah kembali, dikarenakan satu negara tidak eksis dua kaisar,
Sung Kaochung tidak berniat menjemput Sung Jingcheng untuk kembali.
Permaisuri Tianreng tidak berani berbicara banyak lagi.
Maka masalah ini tidak ada kelanjutannya.
Namun tidak lama kemudian sepasang mata Permaisuri Tianreng menjadi buta.
Berobat kemana-mana juga tidak bisa sembuh.
Ada seorang pendeta Tao menggunakan jarum emas untuk membelai matanya.
Mata kiri dia segera pulih.
Permaisuri sangat senang.
Minta pendeta Tao untuk menyembuhkan mata kanannya lagi.
Pendeta Tao berkata,
Mulai sekarang Anda menggunakan satu mata untuk melihat benda,
satu mata yang lain untuk memenuhi sumpah janji Anda.
Meskipun Permaisuri Tianreng tidak berdaya,
namun karena dia tidak berusaha sekuat tenaga untuk menolong.
Pada akhirnya, dia tetap harus membayar sesuai sumpah semulanya.
Mengingkari sumpah, dua pangeran tewas.
Di dalam Fengshen Yanyi, Raja Sang Chou tidak bermoral,
membunuh istri dan anak.
Kedua pangeran Yin Chou dan Yin Hong saat nasibnya dalam merah bahaya.
Mereka beruntung telah ditolong oleh guru mereka dan berkultifasi Tao di dalam gunung.
Di kemudian hari mereka mengikuti perintah guru turun gunung
Sebelum turun gunung, guru mereka berpesan berulang-ulang kepada muridnya.
Tidak boleh mendua hati.
Yin Hong bersumpah kepada gurunya Ji Qing Shi dan berkata,
Jika murid memiliki niat lain, empat anggota tubuh akan menjadi abu.
Yin Chou juga bersumpah kepada gurunya Kuang Zheng Shi dan berkata,
Jika murid mengubah kata sebelumnya,
maka akan menerima nasib dicangkul dan dibajak.
Dua orang guru mereka mengeluarkan semua pusaka dan senjata berharga dalam gua.
Seluruhnya diserahkan kepada mereka.
Ji Qing Shi mengajar Yin Hong, Ji Shao Xian Yi, Yin Yang Qin, dan Sui Hu Feng.
Kuang Zheng Shi mengajar Yin Chou, San Tao Liu Pi, dan Fan Tian Yin,
Lu Hong Chung, Ji Xiong Jian, Fang Tian Hua Qi, dan lain-lain.
Setelah Yin Chou dan Yin Hong turun gunung, mereka disesatkan oleh Seng Kung Pao.
Mereka tidak membantu Chou menggebur Sang Chou,
sebaliknya malahan membantu Sang Chou menggebur Chou.
Guru mereka terus memberikan nasihat kepada mereka.
Dua bersaudara tersebut tidak hanya tidak mau mendengarkan,
berbalik menggunakan pusaka Fang yang diwariskan Sang Guru untuk menyerang guru mereka.
Kemudian Yin Hong putus nyawa dalam gambar Tai Chi milik Lao Tzu.
Benar-benar empat anggota tubuh hancur menjadi abu.
Sedangkan Yin Chou juga dihimpit oleh beberapa dewa besar
di dalam Gunung Qishan menerima nasib dicangkul dan dibajak.
Keduanya mendapat ganjaran sesuai sumpah janji mereka sendiri.
Dua dewa Ji Jingzhe dan Kuang Zhengze ketika melihat murid mereka sendiri menerima ganjaran buah kejahatan,
meneteskan air mata karena tidak tega, namun kehendak Tuhan tidak bisa dilanggar.
Dalam Fang Seng Yangyi juga menuliskan Seng Kung Pao bersumpah kepada Yuan Tze Tien Chung.
Jika dia terus melawan kehendak Tuhan
dan membantu Raja Chou melakukan kejahatan,
maka dia akan menutup mata Laut Utara dengan tubuhnya.
Ketika Seng Kung Pao mencapai ajal dengan kejahatan bertumpuk,
juga mendapat ganjaran sesuai sumpahnya.
Tze Tien Chung mati sesuai sumpahnya.
Dalam San Kuo Yan Yi, pasukan sekutu 18 jalur adipati menyerang Tong Chou.
Tze Tien Chung mengalahkan Tong Chou, menduduki Luoyang.
Di sebuah sumur di selatan kota, dia mendapatkan stempel giyok warisan negara.
Namun Tze Tien Chung tidak mengakuinya.
Bersumpah di depan Yuan Shao dan para adipati,
Tuhan ada di atas.
Jika saya memiliki pusaka ini, menyimpannya untuk niatan lain,
akan mati mengenaskan di bawah busur dan anak panah.
Di kemudian hari ketika Tze Tien Chung mengejar dan menyerah Huang Chu,
jenderal bawahan Liu Piao,
dia masuk perangkap dan mati terpanah anak panah,
sesuai dengan sumpah janji dia sendiri.
Hukum langit tidak boleh dicurangi.
Sumpah janji begitu keluar, sudah dicatat di antara langit dan bumi.
Hanya dengan mempertahankan kebenaran dan mengumpulkan kebaikan,
barulah bisa menghindari bencana.
Menghapus sumpah beracun baru bisa selamat.
Partai Komunis Tiongkok atau PKT,
telah meminta orang-orang yang bergabung dalam partai,
liga dan pionir, mengangkat sumpah.
Berjuang sumur hidup untuk komunisme,
mempersembahkan nyawa diri sendiri untuk dia.
Setiap waktu siap mengorbankan segalanya demi partai dan rakyat.
Ini adalah sumpah janji racun yang meminta nyawa,
sangat tidak menguntungkan.
Perbuatan jahat Partai Komunis Tiongkok terlalu banyak,
telah menewaskan 80 juta orang Tiongkok
dalam berkali-kali gerakan politik selama ini.
Manusia tidak menghukum, Tuhan yang akan menghukum.
Saat Tuhan memberi hukuman,
semua anggota partai, liga dan pionir adalah bagiannya,
akan ikut terlibat dan terkubur bersama dia.
Hanya dengan pernyataan terbuka, mundur dari partai, liga dan pionir,
baru dapat menghapus sumpah beracun.
Membatalkan kontrak penjualan nyawa dengan iblis,
mendapatkan pelindungan dewa dan Buddha.
Tiga pemunduran adalah demi keselamatan dan kebahagiaan Anda sendiri.
Dewa melihat hati manusia,
bahkan menggunakan nama samaran untuk pemunduran juga diakui.
Namun harus menyatakan sikap, memilih yang mana,
manusia sendiri yang menentukan.
Demi keselamatan dan kebahagiaan Anda serta keluarga Anda,
kami berharap sejak awal Anda dapat meninggalkan iblis jauh-jauh.
Melakukan pilihan yang bijak.
Jangan lewatkan kesempatan.
Segeralah bergabung dalam arus besar pemunduran partai global
untuk mendapatkan perlindungan ilahi dan menyambut masa depan yang gemilang.