Bali: Seruan "Akhiri 26 Tahun Penganiayaan Falun Gong di Tiongkok" oleh PKT

Bali: Seruan "Akhiri 26 Tahun Penganiayaan Falun Gong di Tiongkok" oleh PKT

T
The Truth Media
1.9K Tayangan video·21 Jul 2025

20 Juli 1999 adalah hari di mana Partai Komunis Tiongkok (PKT), kelompok Jiang Zemin (pemimpin Partai Komunis Tiongkok saat itu) melancarkan penindasan terhadap Falun Gong atau yang disebut juga Falun Dafa. Jiang sesumbar akan “melenyapkan” Falun Gong dalam 3 bulan. Bencana kemanusiaan tersebut telah melintasi pergantian abad, hingga kini telah berlangsung selama 26 tahun, namun Falun Gong semakin tumbuh berkembang.

Di Bali, pada 20 Juli 2025, guna menandai peristiwa tersebut, ratusan pengikut spiritual ini mengadakan latihan bersama berskala besar di lapangan Bajra Sandhi Renon Denpasar.

Wayan Gelgel, selaku koordinator lapangan memaparkan betapa kejamnya penganiayaan yang menimpa pengikut spiritual ini di Tiongkok, mulai dari ditangkap, dijebloskan ke penjara dan dianiaya hingga meninggal. Yang lebih mengerikan adalah pengambilan organ tubuh secara paksa.

[I Wayan Gelgel, Koordinator Lapangan]:
“Mengerikannya adalah mereka waktu di diambil organnya itu masih hidup, artinya tidak di bius. Dan di pengambilan organ ini tidak hanya satu organ yang diambil, bisa satu orang itu semua diambil, ginjalnya, hatinya, kornea matanya, jadi berbagai bagian tubuh itu diambil dan dijual setelah itu tubuhnya dikremasi untuk menghilangkan jejak. Nah ini adalah hal yang sangat mengerikan bagi kita, yang mestinya tidak terjadi dan orang-orang di dunia juga harus tahu karena media di sana selalu menutup-nutupi apa yang sedang terjadi di sana. Oleh karena itu kami praktisi Falun Gong di seluruh dunia, termasuk di Bali menyampaikan hal penting ini agar orang orang tahu.”

Gelgel juga mengatakan, bahwa otoritas Tiongkok sempat memberikan penghargaan terhadap latihan ini, karena dilihat bisa menekan biaya kesehatan untuk rakyatnya.

[I Wayan Gelgel, Koordinator Lapangan]:
“Falun Gong di China dulunya diperkenalkan tahun 1992 dan dengan cepat para masyarakat, orang-orang di sana ikut berlatih dan akhirnya sampai mencapai 100 juta lebih. Nah, karena apa? Karena manfaatnya sangat bagus dan bahkan sampai mendapat penghargaan Qigong bintang terang. Setelah itu karena saking banyaknya orang berlatih, pemimpin komunis China saat itu Jiang Zemin merasa cemburu karena saking banyaknya yang berlatih, dikira Falun Gong akan berpolitik, padahal Falun Gong tidak berpolitik, hanya ingin menjadi orang baik dan sehat”

Ditegaskan pula bahwa Partai Komunis Tiongkok juga memanfaatkan media serta influencer media sosial di luar negeri untuk mengintimidasi, dan melakukan perang fitnah terhadap komunitas Falun Gong dan pendirinya. Indonesia juga tidak terkecuali, tujuannya adalah untuk menyesatkan opini publik tentang Falun Gong dan menyeret orang-orang – secara sadar maupun tidak - terlibat dalam kejahatan kemanusiaan ini.

Selain latihan berskala besar, mereka menggelar aksi pengumpulan petisi dalam upaya menghentikan penganiayaan yang masih berlangsung di Tiongkok yang tidak sesuai dengan hak asasi manusia.

[Bapak Wisnu, Pengunjung Bajra Sandhi]
“Banyak orang-orang tidak berdosa diambil organnya secara paksa tanpa bius, tentu itu sangat tidak manusiawi. Kegiatan genosida ini harus dihentikan karena tidak sesuai dengan prikemanuasian di negara kita.”
Pada 5 Mei 2025, Kongres AS secara bulat meloloskan RUU Perlindungan Falun Gong. Ini dapat dikatakan sebagai tonggak sejarah, karena untuk pertama kalinya, Kongres AS berkomitmen untuk menerapkan sanksi hukum terhadap mereka yang terlibat dalam penganiayaan terhadap Falun Gong, termasuk mereka yang terlibat dalam kejahatan pengambilan organ tubuh hidup-hidup dari praktisi Falun Gong di Tiongkok. Resolusi tersebut juga menuntut agar Partai Komunis Tiongkok segera mengakhiri penganiayaan Falun Gong.

Dalam kesempatan itu beberapa praktisi mengungkap pengalamannya setelah berlatih.

[Kadek Parta, Praktisi Falun Dafa di Bali]:
“Kesabaran saya meningkat, kesehatan saya lebih meningkat juga dan moralitas tentu juga meningkat. Dulu saya pernah mengidap pilek menahun, setelah belajar Falun falun Dafa pilek menahun saya berkurang dan hampir tidak ada dan tubuh saya merasa lebih baik.”

[Wayan Yoni, Praktisi Falun Dafa di Bali]:
"Dulu saya sering sakit, bisa dihitung satu bulan saya 2 kali ke dokter. Setelah mengikuti latihan Falun Dafa ini yang diperkenalkan oleh teman kerja saya, dengan tanpa disadari saya tidak pernah ke dokter lagi, semua penyakit maag dan stres yang saya alami itu hilang dengan tidak saya sadari. Watak saya berubah, dulu saya sering marah-marah sampai membanting benda-benda kalau marah, di situ saya menyadari tidak boleh melakukannya lagi.”

Acara diakhiri dengan nyala lilin bersama di lapangan Puputan Badung Denpasar, membentuk formasi huruf dengan lilin yang bertuliskan “Stop the Persecution of Falun Gong in China” (Akhiri Penganiayaan terhadap Praktisi Falun Gong di Tiongkok).