EksklusifDemi Balas Budi, Gadis Bodoh Ini Tiba-tiba Jadi Pendekar?!【✨ Kotak Cerita】

TAS KECIL Siao Shu Bao Indonesia
209 pengikut
Cerita ini diadaptasi dari “Qingyi Budao” (Pelayan Wanita Menangkap Perampok), dalam kumpulan buku karya aksara kuno Shen Qifeng (Dinasti Qing) yang berjudul *Xieduo* (Genta Satir).
🎒 subscribe TAS KECIL - SIAO SHU BAO INDONESIAN. Tumbuhkan Ketrampilan Anak Melalui Cerita.
Cerita kami bukan sekadar cerita, tetapi mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar, menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli.
Yuk, ajak anak bertumbuh melalui cerita!
#ceritasebelumtidur #ceritaanak #karaktermoral #edukasi #parenting #kids #imaginasi #bedtime #stories #dongeng #dongengsebelumtidur #taskecil #ganjingkids #indonesiaku
Kita buka channel Tas Kecil.
Hari ini, ada cerita tentang balas budi.
Pada masa dinasti Qing, ada seorang pejabat.
Istrinya mengurus rumah dengan sangat tegas.
Nyonya, kain bagus-bagus begini dijahit syu'er asal-asalan.
Miring-miring juga.
Syu'er adalah pelayan wanita yang baru dikirim ke rumah pejabat.
Mendengar laporan itu, Nyonya besar memarahi syu'er dengan tegas.
Tak lama, ada lagi yang datang mengeluh.
Begitulah, karena pekerjaan menjahit syu'er buruk hasilnya,
seringkali dimarahi Nyonya besar, bahkan dihukum cambuk.
Namun syu'er kerap hanya menunduk dia menerima hukuman.
Tidak pernah melawan atau membangkang sedikit pun.
Namun suatu hari, pejabat ini dipecat dari jabatannya.
Dalam perjalanan mereka pulang ke kampung halaman,
tiba-tiba terdengar suara syu'.
Anak panah melesat dari hutan.
Si pejabat ketakutan hingga kedua kakinya gemetar.
Aduh, celaka.
Pasti itu kawanan perampok yang terkenal keji,
yang suka membakar, merampok, membunuh.
Tak hanya Nyonya besar yang wajahnya pucat ketakutan.
Pelayan wanita, pria, juga kusir,
semua hanya bisa saling berpandangan.
Mereka semua panik dan ketakutan.
Pak, sebaiknya kita putar arah saja sekarang.
Sepertinya sekarang sudah terlambat.
Di saat semua orang panik kehilangan akal,
ada sebuah suara berkata.
Tenang saja tuan besar,
saya akan mengerahkan seluruh kemampuan melindungi tuan besar.
Si pejabat menoleh.
Yang berbicara adalah seorang pelayan wanita.
Dalam hati ia membatin.
Ini pelayan belum kenal bahayanya.
Tidak tahu betapa lihayanya kawanan bandit ini.
Dengan serius dia berkata ke gadis pelayan.
Hei, tahukah kamu?
Kungfu kawanan bandit ini sangat tinggi.
Si kepala bandit mahir menembakkan peluru meteor.
Lima butir dalam satu jurus.
Semua tepat kena sasaran.
Bandit kedua mahir dengan tongkat besinya.
Dia pernah menghantam gendang batu di depan kuil Cenwu.
Hancur hingga jadi tumpukan serbuk.
Mereka liar dan bertindak sewenang-wenang.
Bahkan kepala polisi pun dibuat tak berdaya.
Gadis pelayan yang berbicara tak lain adalah Syu'er.
Begitu mendengar cerita tuan besar,
Syu'er bukan saja tidak takut,
justru membangkitkan kesatria dalam dirinya.
Gerombolan bandit berani-beraninya berbuat sekeji itu.
Ia menangkupkan tangan memberi hormat.
Tuan besar beri hamba kuda biar hamba datangi mereka.
Jika mereka benar-benar tidak ingin hidup,
akan hamba berantas dengan tangan hamba sendiri.
Pelayan ini yang kalau dipukul dan dicaci,
diam tidak pernah berkata sepatah kata pun,
tak disangka malah ingin memberantas perampok.
Nyonya besar dan para pelayan menganggap Syu'er
omong kosong asal bicara.
Namun tuan besar melihat semangat kesatria Syu'er
dan juga sangat percaya diri.
Tak ada cara yang lebih baik menjaga keselamatan semua orang.
Pilihannya hanya setuju.
Kau harus sangat berhati-hati.
Syu'er anak yang biasanya lemah lembut
dengan lincahnya melompat ke punggung kuda lari masuk ke hutan.
Dari punggung kuda, Syu'er membentak para bandit.
Kalian para bandit, sudah kenal saya?
Nye Syu'er dari Henan.
Para bandit menengok ke arah suara.
Loh, hanya seorang gadis lemah?
Tidak ada seorang pun ambil pusing.
Syu'er berkata,
masa-masa penindasan kalian cuma sampai hari ini.
Kalian menyerahlah.
Kepala bandit mendengar nada bicara orang ini membawa masalah.
Ia putuskan segera melancarkan serangan terlebih dahulu.
Kontan ia lemparkan peluru meteornya.
Terdengar lima tembakan sekaligus.
Dengan kedua jari tangannya di tangan kiri dan kanan,
Syu'er berhasil menjepit masing-masing satu peluru.
Sambil tersenyum, ia membuka mulutnya
dan berhasil menjepit peluru ketiga di giginya.
Ia lalu merebahkan tubuh di atas punggung kuda
dan dengan kedua kakinya menjepit peluru keempat.
Di saat itu peluru kelima meluncur datang.
Syu'er menendang kedua kakinya.
Peluru di kakinya terlempar.
Tepat mengenai peluru kelima yang datang.
Terpentol jauh sebelum kemudian jatuh ke tanah.
Syu'er kembali duduk mantap di punggung kuda.
Ia muntahkan peluru dari mulutnya berkata sambil tertawa.
Masih tidak menyerah?
Bandit kedua menerjang maju dan mengayunkan tongkat besi.
Tidak ada yang tahu jurus apa yang dipakai Syu'er.
Tahu-tahu tongkat besi sudah direbutnya dengan satu jurus.
Lalu dengan tangan kosong dipatahkan jadi tiga bagian,
dicampakannya ke tanah.
Melihat ini wajah kedua bandit pucat luar biasa.
Tongkat pengaduk api ibumu kau pakai mengeretak orang?
Syu'er secara beruntun melepas dua peluru sekaligus.
Kedua bandit ambruk dan tidak bangkit lagi.
Semua anak buahnya kacau dan panik.
Satu persatu berlutut minta ampun.
Ampun, Ono.
Ampun, saya tidak berani lagi.
Ampun, Ono.
Kalian semua tinggalkan kebiasaan lama.
Hiduplah jadi manusia baru.
Akan saya ampuni.
Para anak buah menyembah sujud berterima kasih.
Syu'er membentak menguruh mereka pergi.
Saat Syu'er menunggang kuda dengan santai kembali kerombongan,
Tuan dan Nyonya Besar kaget sekaligus gembira.
Pengalaman Syu'er ini diceritakan kembali seluruh prosesnya.
Tuan dan Nyonya Besar menatap Syu'er dengan senang.
Bagaimana bisa kemampuan kungfumu sehebat itu?
Syu'er senyum-senyum berkata.
Nyonya, sejak kecil ayah selalu bilang hamba lincah dan gesit.
Jadi hamba disuruh belajar ilmu silat.
Nyonya Besar bertanya lagi.
Kungfumu begitu hebat, tapi tiap kali aku mencambukmu,
kenapa kamu cuma diam menerima?
Syu'er menjawab.
Nyonya, sejak kecil hamba terbiasa main tombak panjang, golok besar.
Tapi tidak pernah menyulam atau menjahit.
Nyonya mengoreksi hamba, sudah selayaknya hamba menerima dengan terbuka.
Ayah menyuruh hamba belajar ilmu silat untuk melindungi orang baik,
mencegah orang jahat berbuat kejahatan.
Jika tidak demikian bertentangan dengan semangat kesatria.
Tuan Besar dan Nyonya memuji Syu'er memiliki kebajikan bela diri.
Dapat disetarakan dengan seorang serikandi.
Tuan Besar sangat berterima kasih.
Kau telah menyelamatkan seluruh keluarga.
Saya akan membalasmu dengan imbalan yang sangat besar.
Dengan cepat Syu'er berkata,
hamba tidak berani.
Ayah mengirim hamba jadi pelayan demi membalas budi yang mulia.
Ternyata ayah Syu'er pernah difitnah membunuh.
Ia dipaksa mengaku dan dijebloskan ke penjara.
Beruntung Tuan Besar adalah pejabat yang lurus.
Nama ayah Syu'er dibersihkan dari semua tuduhan palsu.
Setelah ayah Syu'er bebas dan pulang ke rumah,
dia berpesan pada Syu'er.
Syu'er, pergilah ke rumah yang mulia dan jadilah pelayan di sana.
Lindungi penyelamat keluarga kita.
Tuan dan Nyonya Besar menjadi paham
dan mengagumi semangat kesatria Syu'er sekeluarga.
Terlebih bakti Syu'er pada ayahnya.
Jika seseorang berjasa padamu, bagaimana kamu membalas budi baiknya?
Apa yang patut kita kagumi dari cerita Syu'er dalam membalas budi?
Ayo kunjungi Kancing World.
Cari channel Tas Kecil.
Tuliskan pendapatmu di kolom komentar.
