"Petik Murbei Beda Wadah" adalah cerita pemuda Cai Shun, anak berbakti dari Dinasti Han, tercatat dalam Dua Puluh Empat Teladan Bakti. Berasal dari "Kumpulan Lengkap Puisi Bergambar tentang Dua Puluh Empat Teladan Bakti".
Cai Shun, warga asli Runan (sekarang provinsi Henan) masa Dinasti Han, sejak kecil kehilangan ayahnya, dia sangat berbakti kepada ibunya. Saat itu bertepatan dengan masa kacau pemberontakan Wang Mang, kemudian terjadi wabah kelaparan, kayu bakar dan beras sangat mahal, Cai Shun dan ibunya terpaksa bertahan hidup dengan buah murbei. Suatu hari, dia bertemu dengan Pasukan Alis Merah. Seorang prajurit dari pasukan pemberontak bertanya, "Mengapa kamu memisahkan buah murbei merah dan buah murbei hitam, memasukkannya menjadi dua keranjang?" Cai Shun menjawab, "Buah murbei hitam untuk ibu saya yang sudah tua, dan buah murbei merah untuk saya sendiri". Pasukan Alis Merah terharu oleh baktinya, memberinya beras dan seekor sapi untuk dibawa pulang dan dipersembahkan kepada ibunya sebagai rasa hormat.
🍄 Siau Shu Bao: Cerita kami bukan sekadar cerita, tetapi mengajak adik-adik mengasah imajinasi, melatih nalar, menumbuhkan logika, serta rasa saling peduli. Yuk, ajak anak bertumbuh melalui cerita!
Adik Manis, harus bobo ya, selesai cerita ini.
Pada zaman dahulu, hidup seorang pemuda bernama Caisun.
Ayahnya sudah meninggal sejak Caisun masih sangat kecil.
Kini ia hidup berdua bersama ibunya.
Bunda, sekarang aku mau ke gunung cari kayu.
Setelah itu, aku akan menanak nasi, bu.
Sun, anakku, hati-hati di jalan, nak.
Lekas kembali ya, nak.
Bunda jangan khawatir, aku akan hati-hati.
Meskipun keluarga miskin, namun Caisun tak pernah mengeluh.
Sejak kecil membantu meringankan beban yang dipikul ibunya.
Di masa itu, negara dalam kekalutan perang di mana-mana.
Sawah tidak ditanami tanaman, semua orang kelaparan.
Caisun merasa cemas, di rumahnya tidak ada makanan.
Harus bagaimana ya, aku tak boleh membiarkan bunda kelaparan.
Ia modar-mandir dalam rumah, berpikir keras mencari solusi.
Tiba-tiba ia mempunyai sebuah ide.
Aha, bukankah tak jauh ada hutan murbei?
Aku bisa ke sana memetik murbei.
Pohon murbei akan berbuah setelah berbunga, itulah buah murbei.
Caisun segera membawa dua keranjang pergi menuju hutan murbei.
Ia membukukkan badan memungut murbei yang baru saja terjatuh ke tanah.
Tidak hanya yang di tanah, ia memanjat ke atas memetik yang di pohon.
Suatu hari, Caisun baru selesai memetik murbei, bersiap-siap pulang.
Hah, datang beberapa pria kegar menghadang di tengah jalan.
Salah seorang pria kegar yang tinggi besar meneriaki Caisun dengan lantang.
Berhenti, apa yang sedang kau pegang, sini serahkan.
Terlihat oleh Caisun, alis mata mereka berwarna merah.
Di tangannya, pegang sebila kolok dan ia sedang menatap Caisun.
Caisun sadar kalau dirinya bertemu pasukan alis merah.
Pasukan alis merah adalah salah satu bala tentara yang menentang rejim Huang Mang saat itu.
Para tentara ini akan menjarah makanan dan uang penduduk jika kekurangan perbekalan.
Caisun terpaksa menyerahkan salah satu keranjang di tangannya kepada pria kegar beralis merah.
Pria kegar ini berteriak,
kemarikan keranjang satunya lagi.
Caisun menolak, berkata dengan cemas.
Ini untuk ibuku, aku tak akan memberikannya padamu.
Belum selesai bicaranya, keranjang sudah direbut pria kegar lainnya.
Ketika pria kegar alis merah menemukan keranjang hanya berisi murbe.
Tidak ada barang berharga.
Mereka sangat kecewa.
Salah seorang pria kegar mengayunkan lengan ingin memukul Caisun melampiaskan amarah.
Namun, dicegah pria kegar teman di sebelahnya.
Pria ini bertanya dengan wajah bingung.
Aneh, murbe yang kau petik tidak banyak.
Mengapa ditempatkan di dua keranjang?
Caisun berkata,
murbe kehitaman pertanda sudah masak.
Ia manis mengenyangkan tubuh, jadi bertenaga.
Keranjang ini untuk ibu saya.
Keranjang yang ini, murbe merah belum matang.
Rasanya agak kasam.
Itu untuk saya.
Salah seorang pria kegar tiba-tiba menangis tersedut-sedut.
Ibu, ibu aku merindukan ibuku.
Mata beberapa pria kegar lainnya terlihat ikut merah terharu,
lalu mulai menyingkir ke samping dan mulai berunding.
Anak ini begitu teliti dengan ibunya.
Dia pasti anak berbakti di rumah.
Pria kegar lainnya yang mendengar mengangguk setuju.
Pria yang menangis tersedut-sedut berkata,
karena tidak bisa mencari nafkah di kampung
dan menjadi tentara mencari makan,
sehingga saya tidak bisa berada di rumah
menunjukkan bakti kepada orang tua.
Pria kegar yang tinggi besar berkata,
kita tak boleh mempersulit anak berbakti ini.
Setelah rundingan, pria kegar pemimpinnya menghampiri Caisun.
Kau orang yang berbakti,
bawa tiga karung beras dan sapi ini sebagai tanda baktimu kepada ibumu.
Pasukan alis merah urungkan niat menjarah murbe milik Caisun,
bahkan memberikannya milik mereka yang berharga.
Namun, Caisun berpikir dalam hati,
jika saya ambil barang-barang ini,
kemungkinan mereka akan menjarah orang lain.
Dia berkata,
terima kasih atas kebaikan kalian.
Caisun menghargainya.
Ibu masih menunggu di rumah.
Saya mohon pamit dulu.
Demikian Caisun selamat kembali ke rumah.
Caisun pulang ke rumah.
Sang ibu menyantap murbe manis hasil petikan Caisun.
Sudah tertidur dengan rasa puas.
Caisun juga sudah tertidur.
Mulan sudah tertidur.