Apakah kau mengira, para pelaku bisnis, setiap hari di otaknya hanya ada “untung, untung dan untung” saja? Namun setelah mendengar cerita ini, yang dilakukan oleh paman Thao akan membuat kita berseru “WOW!”
🍄 Cerita kami bukan sekadar cerita, puisi kami juga bukan sekadar rangkaian kata
Ibarat percakapan sambil saling menatap, setiap kisah kami selipkan dengn panduan yang lembut
Siao Shu Bao hadir menanamkan benih Asah-Asih-Asuh
Menjadi ruang bagi anak-anak untuk ber-imajinasi sekaligus belajar mengelola emosinya.
Seorang asisten yang baik membawa pengaruh halus pada karakter dan nilai moral
Sehingga selain mendukung proses pendidikan anak,
Siao Shu Bao juga menjadi sarana interaktif yang hangat bagi orang tua dan anak, serta bagi guru dan murid.
🎒 Subscribe Channel Tas Kecil Agar Anak Tumbuh Cerdas Melalui Cerita
Hai adik-adik, kali ini ada cerita yang menarik.
Tapi setelah cerita ini, bobo ya.
Adik-adik, apakah kalian mengira para pengusaha hanya peduli pada berapa banyak untung saya?
Cerita ini terjadi pada zaman dinasti Qing.
Ada seorang pengusaha, kita sebut Paman Tao.
Ia menjual barang-barang dari utara dan selatan,
dan sering bolak-balik ke berbagai kota.
Suatu hari, Paman Chia, teman baiknya, datang menemui.
Paman Chia dengan wajah cemas berkata,
Kak Tao, di rumahku ada masalah mendesak.
Saya harus segera pulang.
Paman Chia adalah pengusaha dari luar kota.
Mendengar itu, Paman Tao bertanya,
Loh, apa yang terjadi?
Ada yang bisa saya bantu?
Barang-barang ini saya hitung-hitung nilainya 50 ribu keping.
Kalau ada penawaran seharga itu, tolong bantu jual ya.
Paman Tao menyanggupi,
dan Paman Chia pergi dengan tergesa-gesa.
Siapa sangka Paman Chia pergi berbulan-bulan tidak kembali.
Beberapa kali Paman Tao mengirimi surat,
namun tidak ada balasan sama sekali.
Apa yang telah terjadi ya?
Ternyata, baru saja pulang,
tak lama kemudian Paman Chia jatuh sakit dan meninggal dunia.
Sebelum meninggal, dia berpesan kepada istrinya.
Ada 50 ribu keping di Kak Tao.
Tunggu anak kita agak besar, kau cari dia bersama anak kita.
Satu kata tunggu, lewatlah 10 tahun.
Bibi Chia dan putranya pergi mencari Paman Tao.
Bertanya kesana-sini, namun belum juga bertemu.
Ada apa ini? Paman Tao pindah rumah?
Atau tidak mau menemui mereka?
Suatu hari Bibi Chia kunjungi teman bisnis Paman Chia.
Teman itu berkata,
Oh, saya ingat ada teman baik Chia,
asal dari jinling Marga Tao, bukan Rao.
Mendengar itu Bibi Chia sadar barangkali dirinya yang salah.
Paman Tao bukan Rao, pantas saja tidak ketemu orangnya.
Akhirnya alamat rumah Paman Tao ditemukan dan mereka berkunjung.
Paman Tao sangat terharu seakan tak percaya.
10 tahun saya menunggu kedetangan kalian.
Ternyata meskipun sudah 10 tahun,
Paman Tao menyimpan uangnya dengan baik.
Ia keluarkan buku besar dan menjelaskan.
Ini catatan transaksi bisnis penjualan semua barang suamimu.
Seluruh pokok dan bunga total 260 ribu keping.
Hari ini saya kembalikan kepada kalian.
Hah, gak mungkin.
Bukannya hanya 50 ribu keping yang bisa kembali,
ini malah ada tambahan sebanyak ini.
Bibi Chia menggerakkan tangan, tanda menolak.
Tidak tidak, suamiku hanya menyuruh ambil kembali 50 ribu.
Kami tidak berani menerima lebih dari itu.
Paman Tao membujuk beberapa kali, namun Bibi Chia tetap menolak.
Jadi dia hanya memberikan 50 ribu keping yang dititipkan kepadanya untuk disimpan.
Apakah Paman Tao menyimpan 200 ribu keping sisanya untuk dirinya sendiri?
Ternyata tidak adik-adik.
Separuh ia berikan untuk putra Paman Chia.
Separuhnya lagi dibelikan sawah dan rumah untuk mereka.
Agar mereka mempunyai kehidupan yang mapan.
Paman Tao sendiri tidak mengambil sepeser pun.
Menurutmu adik-adik, tidakkah Paman Tao menjalankan bisnisnya dengan etika dan jujur?
Malam ini Bibi Chia dan putranya tidur nyenyak dan bahagia.
Paman Tao akhirnya bisa tidur nyenyak dan tenang.
Bulan pun sudah tertidur.
Yuk kita tidur adik-adik.