00:01 Trump dan Xi Jinping Bertemu: Sepakati Kerangka Strategis di Tengah Polarisasi Isu Taiwan 02:45 ‘Rubio’ Jadi ‘Lubio’: Trik Kecil Beijing 03:49 CEO Nvidia Jensen Huang di KTT China, Soroti Peran AI di Hubungan AS-China 04:36 500 Ton Persiapan Temani Trump di Beijing
Trump dan Xi sepakati kerangka strategis baru untuk 3 tahun, isu Taiwan tetap menjadi konflik kepentingan keduanya. -------------- Ya, Marco Rubio yang dilarang masuk China tetap orang yang sama. Beijing mengakalinya dengan mengubah ejaan nama Mandarin-nya agar bisa berkunjung. -------------- KTT Trump di China sertakan Elon Musk, Tim Cook, dan Jensen Huang, menyoroti peran AI serta izin penjualan chip Nvidia. -------------- Tujuh pesawat C17 membawa 500 ton perlengkapan dan seribu personel keamanan ke Beijing, memindahkan "Gedung Putih mini" demi komunikasi aman.
Presiden Trump bertemu dengan pemimpin China Xi Jinping selama dua jam pada hari kedua kunjungannya ke China.
Setelah pertemuan, keduanya merilis pernyataan yang menunjukkan perbedaan jelas terkait isu Taiwan.
Melu AS Marco Rubio dan Menteri Keuangan AS Scott Bass memberikan pernyataan lebih lanjut usai pembicaraan.
Berikut ulasan lengkapnya.
Dalam pernyataan resmi, pasca pertemuan Trump-Xi, pihak AS tidak menyinggung isu Taiwan.
Sebaliknya, Beijing merilis peringatan keras.
Xi Jinping menegaskan bahwa Taiwan adalah isu paling krusial dalam hubungan kedua negara.
Beijing memperingatkan bahwa salah penanganan masalah ini dapat memicu konfrontasi hingga konflik.
Meski demikian, pernyataan China tersebut tidak menyertakan tanggapan dari Presiden Trump.
Berbicara dalam wawancara NBC, Melu AS Marco Rubio menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah.
Kami selalu menegaskan poin tersebut. Kami memahami posisi mereka.
Namun kami selalu menjual bahwa segala bentuk paksaan untuk mengubah status quo saat ini akan menjadi masalah.
Bijakan kami terkait hal itu tetap tidak berubah.
Salah satu perkembangan penting selama kunjungan itu adalah kehadiran Pete Hexhead dalam delegasi AS.
Hexhead adalah menham AS pertama yang mendampingi Presiden ke China sejak kunjungan bersejarah Richard Nixon pada 1972.
Para analis menilai langkah ini sebagai sinyal dibukanya kembali jalur komunikasi militer antara Washington dan Beijing.
Terkait penjualan senjata ke Taiwan, Presiden Trump menyatakan akan membahas langsung dengan Xi Jinping.
Ini adalah pertama kali seorang Presiden AS terbuka untuk merundingkan isu tersebut dengan Beijing,
sekaligus menyimpang dari enam jaminan 1982 yang menyatakan AS tidak akan berunding dengan China terkait penjualan senjata ke Taiwan.
Melo AS Marco Rubio menjelaskan bahwa keputusan soal Taiwan sangat bergantung pada persetujuan anggaran dari Kongres.
Meski Desember lalu AS baru saja menjual senjata ke Taiwan yang memicu kemarahan Beijing,
Rubio menegaskan bahwa Presiden akan bertindak sesuai dengan ketetapan dan alokasi dana yang diputuskan Kongres.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Belson menyatakan bahwa Presiden Trump sangat memahami sensitivitas isu ini
dan akan memberikan penjelasan lebih lanjut dalam waktu dekat.
Dia juga menegaskan bahwa keraguan pihak luar terhadap sikap Trump hanyalah bentuk ketidakpahaman atas gaya negosiasinya.
Menanggapi pernyataan Xi Jinping bahwa kemerdekaan Taiwan akan membawa resiko besar bagi perdamaian,
pemerintah Taiwan menegaskan bahwa resiko sebenarnya justru berasal dari upaya Partai Komunis China untuk merusak status quo dan eksistensi negaranya.
Setelah pertemuan Trump dan Xi, pihak China berkata kedua pihak menyempakati kerangka kerja strategis yang stabil untuk tiga tahun ke depan.
Dan pada perjamuan malam harinya, Presiden Trump mengundang Xi Jinping dan istrinya untuk mengunjungi Gedung Putih pada 24 September mendatang.
Apakah Marco Rubio yang bepergian ke China bersama Presiden Trump adalah Marco Rubio yang dilarang masuk ke China beberapa tahun lalu?
Ya, menurut nama Inggrisnya, tetapi tidak menurut versi nama Chinanya.
Inilah trik kecil Beijing.
Seluruh kabinet pemerintahan Trump saat ini berada di Beijing dalam kunjungan kedegaraan, termasuk Menlu AS Marco Rubio,
yang terkena sanksi Beijing pada 2020 saat ia masih menjadi senator.
Hal itu terkait dukungannya terhadap aktivis yang dianiaya di wilayah Xinjiang, China,
serta kritiknya terhadap tindakan keras Beijing ke aktivis pro-demokrasi Hong Kong.
Sejak itu ia dilarang masuk ke China.
Namun bagaimana ia bisa menemani Trump ke Beijing kali ini dan bahkan berjabat tangan dengan Xi Jinping?
Beijing dilaporkan mengubah terjemahan Mandarin dari karakter pertama nama belakangnya,
sehingga nama Mandarinnya tampak berbeda dari versi yang secara resmi dikenai sanksi.
Sebuah analogi dalam bahasa Inggris adalah alih-alih Marco Rubio, kini ia terdaftar sebagai Marco Lubio.
KTT Presiden Trump di China bukan hanya untuk pembicaraan dagang,
tetapi juga menyertakan para pemimpin bisnis Amerika terkemuka,
seperti Elon Musk, Tim Cook, dan CEO Nvidia, Jensen Huang.
Nama Jensen Huang awalnya tidak tercantum dalam daftar eksekutif yang menghadiri perjalanan tersebut.
Namun laporan menyebutkan Presiden Trump secara pribadi menelpon Huang di menit-menit terakhir dan memintanya untuk datang.
Kehadirannya menyoroti peran kecerdasan buatan yang semakin besar dalam hubungan AS-China.
Reuters melaporkan pada hari Kamis bahwa Washington menyetujui penjualan beberapa chip H200 canggih Nvidia ke perusahaan teknologi China.
Chip Nvidia tetap menjadi pusat ketegangan antara Washington dan Beijing karena AS terus membatasi akses China ke teknologi sensitif.
Selanjutnya, kita lihat persiapan yang dilakukan menjelang kunjungan Presiden Trump ke China.
Tujuh pesawat angkut C-17 Angkatan Udara AS telah mendarat di Beijing terlebih dahulu sebelum delegasi Presiden.
Jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan saat kunjungannya ke China di 2017.
Pesawat mengangkut sekitar 500 ton perlengkapan termasuk dua mobil ke negaraan Presiden, kendaraan komunikasi, peralatan keamanan cyber, rumah sakit berjalan serta bank darah.
Itu belum termasuk tim keamanan yang dilaporkan terdiri dari sekitar seribu personel.
Beberapa analis mengatakan ini seperti memindahkan gedung putih mini ke China.
Komentator urusan China, Huang He, mengatakan mengingat situasi Iran, panglima tertinggi AS harus mampu mengambil keputusan kritis saat berada di China.
Ia mengatakan hal itu memerlukan penggunaan sistem komunikasi Amerika sendiri tanpa dipantau oleh Beijing.