00:01 Perketat Larangan VPN & Denda Besar, China Sudah Mirip Korut? 01:45 Kapal Tanker China Dipaksa Kembali ke Selat Hormuz 02:37 20 Pelajar Asal China Ditolak di Perbatasan AS 03:18 Taiwan Menghukum 6 Tentara atas Dakwaan Spionase untuk China
Rezim China memperketat sensor internet dengan merazia pengguna VPN dan memantau aktivitas online melalui ponsel pintar serta aplikasi anti-penipuan. ------------------ Kapal tanker China, Rich Starry, berbalik arah di Selat Hormuz setelah ditegur AS karena membantu Iran menghindari sanksi minyak internasional. ------------------ Sebanyak 20 pelajar asal China dengan visa resmi ditolak masuk di perbatasan AS di jelang rencana kunjungan Presiden Trump ke China. ------------------ Enam mantan tentara Taiwan divonis penjara karena terbukti membangun jaringan spionase dan membocorkan rahasia negara untuk China.
Dokumen yang bocor menunjukkan bahwa rezim China semakin gencar membatasi akses masyarakat ke situs web asing.
Banyak yang mengatakan bahwa VPN tidak lagi berfungsi.
Bulan lalu, polisi China menggerebek rumah-rumah warga,
menangkap mereka saat menggunakan situs web asing termasuk platform seperti TikTok.
Hal ini memicu pertanyaan apakah China telah mengikuti jejak Korea Utara?
Anda sedang menggunakan ponsel menonton TikTok atau menjelajahi X?
Dan detik berikutnya, Anda diberitahu telah melanggar hukum dan harus membayar denda.
Meski terdengar seperti fiksi, inilah yang terjadi pada seorang pria di China Timur bulan lalu.
Pelanggarannya adalah terhubung ke internet tanpa izin.
Polisi setempat memposting kasus itu di situs web resmi mereka.
Di hari yang sama, lebih dari selusin petugas polisi menggeledah rumah lain
dengan tuduhan mendaftar dan menggunakan VPN secara ilegal dengan hukuman denda besar.
Dalam kasus terpisah awal bulan ini, seorang mahasiswa China dipanggil ke kantor polisi
untuk diinterogasi setelah menggunakan perangkat lunak Microsoft.
Menurut laporan lokal, polisi mengetahui aktivitas online mahasiswa tersebut melalui aplikasi antipenipuan.
Insiden-insiden ini memiliki dua faktor kesamaan,
yaitu menggunakan ponsel pintar buatan China dan menginstal aplikasi antipenipuan di perangkat.
Analis urusan China memperingatkan bahwa fitur-fitur ini dapat memudahkan pengguna terungkap oleh polisi cyber China.
Dokumen internal yang bocor menunjukkan bahwa regulator cyber teratas Beijing
mengadakan pertemuan hari Kamis untuk membahas cara menerapkan kebijakan internet pemimpin rezim Xi Jinping.
Dokumen biro lokal lainnya menguraikan aturan yang melarang penggunaan VPN dan akses ke situs web asing.
Kapal tanker China yang dikenai sanksi AS berbalik arah menuju Selat Hormuz hanya sehari setelah melintasinya.
Kapal Ritz Terry meninggalkan teluk pada Selasa meskipun ada blokade AS yang memicu pujian dari media China.
Namun kemudian pasukan AS meminta Ritz Terry dan kapal tanker lain berbalik arah dan mereka mematuhinya.
Ritz Terry menghilang dari radar di teluk Persia selama lebih dari 10 hari sebelum mencoba melewati Selat Hormuz.
Kapal adalah bagian dari jaringan armada abu-abu yang membantu Iran menghindari sanksi industri minyaknya.
Kapal-kapal ini mengandalkan berbagai taktik untuk menghindari deteksi,
antara lain mematikan transponder identitas dan lokasi atau mengirim sinyal palsu untuk memasukkan pergerakannya.
Ritz Terry dan pemiliknya Shanghai Rand Shipping Company dikenai sanksi oleh AS pada 2023 karena hubungan mereka dengan Iran.
Sekitar 20 orang pelajar asal China ditolak saat memasuki perbatasan AS untuk mengikuti sebuah forum ekonomi meski kelompok tersebut telah mengantongi visa resmi.
Beijing mengatakan mereka menghadapi pemeriksaan berlebihan oleh otoritas beacukai dan perlindungan perbatasan AS di Bandara Internasional Seattle Tacoma.
Ini terjadi di tengah upaya tegas AS memberantas penyelundupan zat berbahaya oleh warga negara China.
Pejabat China menyarankan warganya yang hendak berpergian ke AS untuk waspada dan menangani dengan tepat setiap pertanyaan.
Peringatan ini datang di tengah ketegangan antar kedua pihak jelang rencana kunjungan Presiden Trump ke China bulan depan yang tertunda akibat perang di Iran.
Enam mantan tentara Taiwan dijatuhi hukuman 4 hingga 8 tahun penjara karena terbukti menjadi mata-mata untuk China.
Lima di antaranya bersalah karena membangun jaringan untuk resim China, sementara satu orang lainnya terbukti membocorkan rahasia militer.
Mereka direkrut oleh seorang pria asal Hong Kong bernama Ting.
Ting diduga menerima dana lebih dari 350 ribu dolar dari Beijing untuk membujuk tentara Taiwan agar menyerah dan tidak melakukan perlawanan apabila terjadi invasi.
Meski sempat didakwa bersama keenam tentara tersebut, Ting meninggal dunia pada bulan Februari setelah didakwa.
Selain itu, dua asisten dekat Ting juga dilaporkan meninggal saat proses penyelidikan oleh otoritas.