00:01 Satelit China Memonitor Pangkalan Militer AS untuk Iran 02:06 Pendiri Evergrande Mengaku Bersalah atas Penipuan dan Penyuapan 03:18 Kemitraan Baru AS-Indonesia di Selat Malaka: Peringatan Bagi Ambisi Hegemoni China
Iran gunakan satelit mata-mata China untuk pantau pangkalan AS, namun Trump klaim Xi Jinping sepakat menghentikan dukungan militer tersebut. ---------------- Xu Jiayin, pendiri Evergrande, resmi mengaku bersalah atas berbagai dakwaan kriminal setelah perusahaan properti raksasanya gagal bayar dan tumbang. ---------------- AS dan Indonesia sepakati kemitraan pertahanan strategis di Selat Malaka guna membendung dominasi China dan mengamankan jalur perdagangan ekonomi global.
Iran telah memantau pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah selama bertahun-tahun dengan satelit China.
Laporan terbaru mengatakan, itu mungkin telah membantu Iran menyerang pesawat tempur AS di wilayah tersebut bulan lalu.
Financial Times mengatakan laporannya didasarkan pada dokumen militer Iran yang bocor.
Dikatakan bahwa pasukan Iran membeli satelit mata-mata China di akhir 2024 setelah diluncurkan keluar angkasa dari China.
Iran memperoleh akses ke citra satelit yang memungkinkannya untuk memantau pangkalan militer AS utama di seluruh Timur Tengah selama beberapa tahun terakhir.
Lima pesawat tempur AS yang ditempatkan di pangkalan Arab Saudi dihantam bulan lalu.
Dan Financial Times melaporkan citra satelit China menunjukkan aktivitas di atas lokasi selama periode tersebut.
Aset AS lainnya di negara-negara teluk kini menghadapi resiko yang lebih besar.
Laporan mengatakan satelit China secara signifikan mengungguli satelit militer Iran yang paling canggih.
Satelit mampu mengidentifikasi objek mulai dari pesawat terbang hingga infrastruktur.
Laporan mencatat satelit dibangun dan diluncurkan oleh perusahaan yang terkait militer China.
Ini terjadi setelah beredar laporan bahwa China diam-diam sedang membantu Iran mempersiapkan sistem pertahanan udara tambahan.
Dalam Fox Business Morning, Trump menyanggah hal tersebut.
Saya menulis surat padanya memintanya agar tidak melakukan itu.
Ia membalas surat saya, pada dasarnya mengatakan dia tidak akan melakukan itu.
Menyusul janji si, Presiden Trump memposting di truth social hari Rabu, mengatakan bahwa AS secara permanen membuka selat hormus.
Ia menambahkan bahwa China sangat senang atas pembukaan ini dan China telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran.
Presiden Trump juga menulis, kita bekerjasama dengan cerdas dan sangat baik.
Bukankah itu lebih baik daripada berperang?
Ia mengakhiri dengan nada peringatan, berbunyi, AS sangat pandai berperang jika diharuskan, dan jauh lebih baik dari siapapun.
Pendiri dan mantan ketua Evergrande Group pengembang properti terbesar di China dengan hutang terbesar dunia,
Xu Jiayin, resmi mengaku bersalah atas berbagai dakwaan.
Hal ini seiring dampak krisis properti Beijing yang kian terpuruk.
Media pemerintah China menyebut Xu mengaku bersalah atas dakwaan penggalangan dana ilegal, penyuapan, penipuan, dan penerbitan surat berharga ilegal.
Sejak berada di bawah pengawasan otoritas pada 2023, kini Xu terancam hukuman penjara seumur hidup dan penyitaan seluruh asetnya.
Kasus ini merupakan puncak dari masalah finansial Evergrande yang memicu krisis properti nasional berkepanjangan,
setelah pada 2021 perusahaan gagal membayar hutang yang mencapai lebih dari 300 miliar dolar.
Didirikan pada 1996, Xu yang awalnya hanya mencoba mengambil langkah berani di bidang properti,
mengubahnya menjadi ekspansi kilat di seluruh negeri.
Namun tumpukan hutang dan pengetatan regulasi pemerintah akhirnya membuat perusahaannya tumbang.
Strategi tersebut memacu ekspansi kilat.
Hingga akhir 2009, Evergrande memiliki puluhan proyek di 25 kota besar China.
Namun banyak pembeli rumah terpaksa kehilangan tabungan mereka karena proyek-proyek tersebut tak kunjung selesai.
Amerika Serikat dan China bersaing lebih sengit untuk mendapatkan pengaruh di Asia.
AS dan Indonesia baru saja mengumumkan kemitraan kerjasama pertahanan utama minggu ini.
Kemitraan bertujuan memperkuat kehadiran AS di Laut China Selatan.
China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai miliknya dan bersengketa dengan hampir semua negara tetangga.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara komunis itu telah meningkatkan aktivitas militernya di kawasan tersebut.
Untuk membahas kesepakatan baru antara AS Indonesia, Carrie Dance dari NTD berbicara dengan Rick Fischer, peneliti senior di International Assessment and Strategy Center.
Saya ingin mendapatkan panjangan Anda tentang kerjasama AS dan Indonesia di Selat Malacca.
Ini sangat signifikan, bukan hanya untuk hubungan AS-Indonesia tetapi juga untuk keamanan kawasan dan keamanan lalu lintas perdagangan minyak bumi global.
Ini bukan perjanjian pangkalan, AS tidak akan mendirikan pangkalan.
Namun Indonesia adalah lingkungan kerjasama pertahanan yang sangat kompetitif.
Banyak negara bersaing mendapatkan perhatian dan akses Indonesia.
Perjanjian AS ini adalah langkah maju yang besar.
Kami akan menawarkan pada Indonesia sistem militer otonom Amerika yang sangat inovatif dan baru.
Akan ada perluasan dalam pelatihan.
Rick, bisa Anda jelaskan pentingnya lokasi strategi Selat Malacca?
Sangat penting.
Semua lalu lintas minyak dan perdagangan Asia dan Timur Tengah melewati Selat itu.
Kendali atas Selat secara harafiah memungkinkan kendali atas separuh ekonomi dunia.
Menjaganya tetap terbuka bukan hanya untuk kepentingan AS, tapi juga kepentingan dunia bebas.
Bagaimana kemitraan baru dengan Indonesia ini berhubungan dengan perang Iran,
di mana China mendapatkan minyak dengan harga diskon besar,
lalu minyak Venezuela tidak lagi tersedia bagi mereka dengan harga pasar?
Bagaimana ini membantu Presiden Trump dalam negosiasinya dengan Xi Jinping?
Ini akan sangat membantu Presiden Trump.
China sekarang menghadapi lingkungan strategis yang sangat bermasalah.
Setahun dua tahun yang lalu, China dianggap tak terhentikan dalam perjalanannya
untuk menjadi hegemoni global pada 2040-an.
Sekarang Presiden Trump telah menghambat ambisi China di seluruh dunia,
menyingkirkan proksi China di Venezuela dan sekarang Iran,
serta memajukan posisi strategis AS di Asia Tenggara.
Perjanjian Indonesia melengkapi aliansi kerjasama yang berkembang pesat dengan Filipina,
serta hubungan pertahanan jangka panjang dengan Taiwan dan Jepang.
Semuanya membuat China terdesak.