00:00 China Memakai ‘Armada Bayangan’ Hindari Sanksi Minyak: Laporan 02:02 AS Bangun Kembali Pangkalan Dekat Asia di Tengah Ketegangan dengan China.
Laporan mengungkap China menggunakan armada bayangan dan kamuflase pembayaran untuk mengimpor minyak sanksi guna mendukung rezim otoriter serta memperkuat cadangan strategisnya. ----------------- AS membangun kembali pangkalan era PD II di Pulau Tinian guna mendiversifikasi kekuatan udara menghadapi ancaman militer China di Indo-Pasifik.
Sebuah laporan dari komite yang berfokus pada China
mengungkap detail baru tentang bagaimana Partai Komunis China
menghindari sanksi minyak AS
dan membantu mendukung perekonomian Iran, Rusia, dan Venezuela.
Ketua Komite Pilihan tentang PKC
membagikan laporan baru yang mengungkap
bagaimana rezim China menjaga perekonomian Iran dan Rusia
tetap stabil sambil memicu agenda otoriternya sendiri.
Selama bertahun-tahun, Partai Komunis China
menggunakan armada bayangan
untuk membeli minyak murah dari negara-negara otoriter
seperti Iran, Venezuela, dan Rusia.
Armada bayangan adalah kapal-kapal tua
yang menghindari deteksi, terkadang mengubah bendera asalnya.
Laporan menemukan bahwa kapal-kapal yang disita
dari armada bayangan telah mengirimkan
sekitar 70 juta barrel minyak mentah
yang dikenai sanksi ke China.
Rezim menggunakan cara ini untuk menimbun
cadangan minyak strategis yang sangat besar,
sekitar 1,2 miliar dolar pada awal tahun 2026.
Selain kapal-kapal dibuat tidak terdeteksi,
metode pembayarannya pun demikian.
Para penyelidik mengatakan dalam kasus Iran,
pembayaran minyak disambarkan sebagai
proyek konstruksi pembangunan bandara,
kilang minyak, dan jalan raya di Iran.
Para penulis laporan berkata operasi Epic Fury
telah sangat mengurangi armada bayangan China,
tetapi menambahkan China mungkin akan terus
menggunakan infrastruktur yang dibangunnya
selama beberapa tahun terakhir.
Para penyelidik komite mengungkapkan rezim China
membangun sistem komando di armada bayangan
yang sering diawaki oleh personel militer
dan intelijen China dan Rusia.
Mereka memperingatkan sistem tak hanya dipakai
untuk memperdagangkan minyak ilegal,
tetapi juga untuk memindahkan peralatan,
personel, atau senjata sensitif secara diam-diam.
Komite memberi beberapa saran untuk di masa mendatang,
yaitu memberi sanksi pada pelabuhan
yang menerima armada bayangan,
menetapkan program penghargaan
bagi pelapor atau whistleblower,
serta mengarahkan komisi perdagangan
untuk melakukan investigasi.
AS tengah merekonstruksi pangkalan militer
eksperang Dunia II dekat kawasan Asia.
Dulunya pernah menjadi tempat singgah
pesawat-pesawat AS pembawa bom atom ke Jepang.
Laka ini diambil sebagai persiapan AS
menghadapi kemungkinan konflik
dengan Beijing di masa depan.
Fokus utamanya adalah Pulau Tinian
di Kepulauan Mariana Utara Indo-Pasifik.
Sebagai bekas pangkalan udara terbesar
era Perang Dunia II,
AS kini membangun kembali landasan
dan infrastruktur di sana.
Berjarak 100 mil dari Guam,
lokasi ini disiapkan sebagai pangkalan cadangan
jika pangkalan utama diserang.
Analis menilai strategi seperti ini
sangat penting untuk menghadapi konflik di masa depan.
Langkah ini membuat pangkalan kecil
bisa menjalankan fungsi pangkalan besar.
Saat perang, landasan paci ini
bisa berfungsi sebagai titik pendaratan,
tempat pengisian bahan bakar
maupun gudang amunisi.
Kekuatan udara AS tetap terjaga
meski pangkalan utamanya hancur.
Langkah ini terwujud di tengah
memanasnya ketegangan di Indo-Pasifik
di mana kapal-kapal China
makin sering melanggar batas laut
dekat Jepang dan Korea Selatan.
China juga rutin menggelar latihan militer
skala besar di sekitar Taiwan
yang diklaim sebagai wilayahnya.
China juga terus mengklaim
hampir seluruh wilayah Laut China Selatan
meski klaim tersebut ditolak oleh
keputusan internasional.
Analis berpendapat, strategi Washington
mengirimkan pesan yang jelas bahwa AS
tidak lagi bergantung pada pangkalan besar saja.
Hal ini membuat lawan seperti China
tidak dapat mengandalkan serangan tunggal
untuk melumpuhkan AS.