00:00 Sekutu AS di Asia Khawatir Sumber Daya AS Teralihkan ke Perang Iran 01:42 Pejabat Senior AS untuk APEC Kunjungi Taiwan 02:07 Selat Hormuz Krusial bagi Energi Global 02:46 Pakar: Serangan AS Ke Iran Dapat Mempercepat Keruntuhan PKC
Sekutu AS di Asia khawatir konflik Iran mengalihkan sumber daya militer dari Pasifik, memberi peluang bagi China untuk menekan Taiwan. ----------- Serangan AS ke Iran menutup lalu lintas pasokan energi global di Selat Hormuz serta memicu lonjakan harga minyak global. ----------- Serangan AS ke Iran ungkap kelemahan PKC, memicu harapan rakyat China untuk melakukan perubahan rezim menuju masa depan tanpa PKC.
AS berada di posisi sulit antara Timur Tengah dan China
ketika Israel melancarkan serangan baru ke Iran.
Sekutu AS di Asia menyatakan kekhawatirannya
tentang apakah perang di Iran akan mengalihkan sumber daya AS yang dibutuhkan untuk menghadapi China.
Seorang anggota Parlemen di Taiwan mendesak Washington
untuk mengalihkan fokusnya kembali ke kawasan Asia Pasifik.
Kami harap operasi di Iran akan berlangsung cepat dan terbatas
Chan menyatakan kekhawatirannya bahwa rezim China dapat meningkatkan pelecehan pada Taiwan
saat AS berfokus ke Timur Tengah.
Kekhawatiran serupa muncul di kalangan anggota Parlemen Jepang
yang bertemu hari Senin untuk membahas serangan AS Israel pada Iran.
Seorang politisi memberitahu Reuters bahwa kekhawatiran muncul tentang bagaimana pertahanan Asia Timur
jika Washington mengalihkan aset militer yang ditempatkan di sana ke Timur Tengah.
Ia juga berkata Tokyo telah meminta jaminan dari Washington tentang hal ini.
Saat ini, sekitar 40 persen kapal perang AS yang siap beroperasi ditempatkan di Timur Tengah.
Kapal induk yang ditempatkan di Asia sedang menjalani perawatan di Jepang.
Brian Clark, seorang mantan pejabat pertahanan AS, berkata
angkatan laut AS kekurangan sumber daya
dan jika perang di Timur Tengah berlarut-larut,
AS dapat mengurangi sumber dayanya di Asia untuk memperkuat operasi melawan Iran.
Sementara, perang di Iran juga menguras amunisi AS.
Beberapa ahli berkata serangan AS ke Iran dapat membendung China
dengan melemahkan dua sekutu Beijing, Iran dan Venezuela.
Namun yang lain berpendapat, semakin lama perang di Iran berlangsung,
semakin banyak keuntungan yang diperoleh Beijing.
Dan di Taiwan, seorang diplomat AS berpangkat tinggi mengunjungi pulau itu hari Senin dan Selasa.
Casey Mace mewakili AS sebagai pejabat senior AS untuk pertemuan APEC
yang akan diadakan akhir tahun ini di China.
Beijing telah menolak mengizinkan Taiwan berpartisipasi sebagai negara berdaulat
dan selalu memblokir atau membatasi partisipasinya di banyak konferensi internasional lainnya.
Semenjak serangan di dan di sekitar Iran,
lalu lintas kapal tanker melalui selat hormus telah terhenti selama empat hari.
Hal ini berdampak ke seluruh pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak.
Selat hormus menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global
yang sebagian besar disalurkan ke pasar Asia termasuk China,
satu-satunya pelanggan minyak Iran.
Impor minyak mentah China jauh melebihi negara manapun.
Sekitar 30 persen impor gas alam cair dan 40 persen minyak China berasal dari Timur Tengah.
Media pemerintah Iran mengutip pernyataan seorang pejabat senior Iran
bahwa Iran akan menghancurkan kapal manapun yang mencoba melintasi selat tersebut.
Serangan militer terkini terhadap Iran membuat beberapa pihak
membayangkan bagaimana China tanpa Partai Komunis China.
Ren Guangyu, seorang analis senior di Universitas Stanford,
menulis di X bahwa dikarena rakyat Iran meneteskan air mata bahagia,
dirinya ikut terharu.
Berharap rekan-rekannya di China bisa merayakan kemenangan serupa di waktu yang tidak lama lagi.
Alan Chang, seorang analis urusan China,
mengatakan bahwa meski perubahan di China kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat,
serangan terhadap Iran bisa mempercepat keruntuhan rezim PKC
karena serangan itu menunjukkan kepada rakyat China bahwa rezim mereka tidak sekuat yang dibayangkan.
Mereka melihat PKC, pemerintah China ini tidaklah sekuat itu.
Karena mereka menjual banyak senjata termasuk apa yang mereka sebut bendera merah,
sistem rudal atau apalah.
Mereka menjual sistem radar peningkatan dini buatannya ke Iran
dan ternyata itu tak berfungsi sama sekali.
Kemudian mereka juga melihat kekuatan Amerika Serikat jauh melampaui negara manapun termasuk China PKC.
Chang mengatakan kematian pimpinan tertinggi Iran menginspirasi rakyat China mengenai gambaran masa depan pilihan.
PKC masih memegang kendali yang sangat kuat terhadap rakyat China.
Perekonomian memang sedang menurun tapi belum mencapai titik kebangkrutan,
namun sedang mengarah ke sana.
Jadi saya rasa banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini membuat rakyat China berpikir
mungkin kita punya jalan baru, kita tidak harus hidup di bawah rezim totalitarian ini.
Jadi saya kira kita amati terus perkembangan.
Banyak peristiwa yang akan terus mendorong ke arah tersebut.
Chang berkata banyak rakyat China yang sedang memikirkan bagaimana seandainya China tanpa partai komunis.
Mereka tidak bersuara tapi mereka berpikir.
Ada satu kelompok di China sana, saya berhubungan dengan beberapa dari mereka.
Ada cukup banyak orang yang berpikir tentang apa yang bakal terjadi di era pasca PKC.
Chang mengatakan AS harus mengirimkan sinyal tegas bahwa Washington mendukung kebebasan di China
dan yakin bahwa jika perubahan rezim sungguh terjadi,
masyarakat China akan menjalani perubahan dan dunia akan melihat China yang lebih baik saat rezim komunis runtuh.