00:11 EV Xiaomi Terbakar, Dua Kasus dalam Sehari 01:36 Angka Kematian China 2025 Lampaui Masa Pandemi COVID-19 03:09 Kematian Bayi 5 Bulan di China Viral, Soroti Komersialisasi RS
Dua insiden kebakaran mobil listrik Xiaomi memicu kekhawatiran keamanan baterai China, sementara solusi sistem pelontar baterai justru dianggap membahayakan publik. ------------- Pertanyaan mencuat setelah pemerintah China rilis angka kematian 2025 yang dinilai melampaui angka kematian akibat pandemi Covid 19. ------------- Kasus kematian bayi akibat operasi jantung yang tidak perlu di China memicu kemarahan publik terhadap sistem kesehatan yang mengutamakan keuntungan.
Sekarang, beralih ke kendaraan listrik China.
Masalah keamanan publik berkembang,
dimana EV buatan produsen China Xiaomi terbakar,
tidak hanya sekali, tetapi dua kali dalam satu hari.
Kebakaran menambah kekhawatiran
tentang keamanan baterai dalam kendaraan EV China.
Mobil listrik buatan Xiaomi terbakar hari Senin.
Perusahaan mengkonfirmasi insiden tersebut,
berkata data baterai normal
dan mereka tidak menemukan penyebab kebakaran.
Xiaomi menambahkan api padam dengan cepat
dan tidak ada korban.
Ini bukan yang pertama kalinya.
Tahun lalu ada banyak laporan tentang EV China,
termasuk Xiaomi, terbakar saat dikendarai
atau bahkan saat diparkir.
Dalam beberapa kasus, insiden berakibat fatal.
Saat kekhawatiran meningkat,
para pembuat mobil bereksperimen
dengan tindakan keamanan.
September lalu, sebuah perusahaan China
memperkenalkan sistem kontroversial
untuk melontarkan baterai EV
yang diluncurkan hanya dalam satu detik.
Sistem menggunakan generator gas
mirip airbag untuk melontarkan
baterai keluar mobil.
Langkah itu memicu reaksi publik.
Para ahli dan warga net
memperingatkan baterai yang terlontar
bisa menjadi bahaya kebakaran bagi mobil lain,
bangunan, atau bahkan manusia.
Mereka berkata resikonya lebih parah
jika terjadi di jalan tau atau dekat pom bensin.
Kritikus menambahkan hal ini
justru menciptakan bahaya baru
dan tidak menyelesaikan masalah.
Pertanyaan muncul setelah China
merilis angka kematian tahun 2025.
Angka tersebut lebih tinggi
dibandingkan saat pandemi COVID-19
di mana seluruh rumah duka
tidak lagi sanggup menampung.
Angka kematian aktual akibat COVID-19
di China tengah dipertanyakan.
Data terbaru yang dirilis otoritas berwajib
menunjukkan tingkat kematian di China
tahun 2025
berada di angka lebih dari 8 per seribu orang.
Angka ini lebih tinggi
dibandingkan tahun-tahun semasa pandemi COVID
di mana tercatat konsisten
di angka 7 per seribu orang.
Angka kematian 2025 juga jauh lebih tinggi
dibandingkan angka yang tercatat
dalam beberapa tahun terakhir.
Komentator urusan China, Tang Qingyuan,
mengatakan angka tersebut tidak relevan
karena tidak ada faktor penyebab kematian
signifikan pada 2025
seperti pandemi, perang,
atau mega bencana alam.
Namun China pernah mengalami
dua gelombang besar kematian
semasa pandemi COVID.
Gelombang pertama terjadi
pada akhir 2019
di mana krematorium di China
begitu kewalahan sehingga warga harus
mengantri untuk mendapat giliran.
Beberapa krematorium bahkan terpaksa
membakar 2-3 jenazah sekaligus
untuk mengejar antrian.
Gelombang kedua terjadi pada akhir 2022
di mana infeksi virus melonjak
setelah China melonggarkan lockdown secara drastis.
Dan sekali lagi,
antrian terlihat di luar krematorium
di seluruh China.
Tang berkata apabila
di tahun 2025 krematorium
China tidak mampu menampung,
itu artinya jumlah kematian sebenarnya
selama tahun-tahun COVID-19
jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan.
Lebih dari 100 orang
berkumpul di luar pengadilan
di kota Ningpo, China Tenggara.
Kasus sengketa medis yang melibatkan
seorang bayi disidangkan.
Bayi berusia 5 bulan itu meninggal
saat menjalani operasi jantung 2 bulan lalu.
Ini adalah salah satu topik
terpanas di media sosial China.
Investigasi mengungkapkan
adanya malpraktek medis, tetapi
kasus ini mungkin lebih dari itu.
Bayi perempuan bernama
Su Luo Si itu meninggal saat menjalani
operasi di Rumah Sakit Wanita dan Anak
Universitas Ningpo pada
14 November. Dokter berkata
operasi ini untuk memperbaiki cacat
septum atrium yang tidak biasa
di jantung. Dia memberi tahu
keluarga bahwa operasi ini memiliki
tingkat keberhasilan lebih dari
99 persen.
Namun, bayi tersebut meninggal
selama prosedur. Laporan otopsi
menunjukkan Su Luo Si ternyata hanya
memiliki kelainan jantung umum, di mana
pengobatan standarnya melibatkan
observasi hingga anak mencapai
usia 1 atau 2 tahun.
Beberapa kasus sembuh dengan sendirinya
tanpa operasi. Operasi di usia
sangat muda justru beresiko sangat besar
yang menimbulkan pertanyaan
tentang apakah operasi itu benar-benar
diperlukan. Selain itu,
otopsi menemukan luka
operasi sepanjang 2,5 inci
pada tubuh Luo Si yang belum
dijahit. Keluarga yang berduka
membagikan kasus ini secara daring,
memicu kemarahan publik dan dengan cepat
menjadi viral di media sosial China.
Ini bukanlah
kasus yang pertama, karena China
telah mengkomersialkan sistem perawatan
kesehatannya selama beberapa
dekade. Otoritas China telah
mengurangi pendanaan untuk rumah sakit
umum, hingga manajemen rumah sakit
harus beroperasi seperti bisnis
memprioritaskan pendapatan
daripada kesehatan masyarakat.
Logikanya sederhana,
lebih banyak operasi dan penjualan obat
berarti lebih banyak pendapatan.
Banyak kasus muncul di mana
pasien mengeluh bahwa rumah sakit
mengaturkan operasi yang tidak perlu
atau bahwa dokter meresepkan obat-obatan
termahal.