00:11 Aplikasi ‘Apa Kamu Mati’ Jadi Top Aplikasi Berbayar di China 02:35 Misteri Kematian Siswa di China Picu Protes Di Tengah Isu Pengambilan Organ 04:54 Pelaut AL AS Jadi Mata-mata China, Dihukum Hampir 17 Tahun
Aplikasi "Demumu" di China viral karena membantu memantau keselamatan warga yang hidup sendiri melalui fitur check-in harian otomatis ke kontak darurat. -------------- Aksi protes masal meluap di China bagian tengah pasca kematian mencurigakan seorang siswa, tuntut transparansi dan penyelidikan independen setelah maraknya kasus pengambilan organ. -------------- Mantan pelaut AS, Jinchao Wei, dihukum 17 tahun penjara karena menjual rahasia militer sensitif dan lokasi kapal kepada intelijen China.
Sebuah aplikasi dengan nama menyeramkan
menduduki peringkat puncak toko aplikasi berbayar di China.
Aplikasi ini bernama Apakah Kamu Mati?
Dirancang untuk membantu orang yang hidup sendiri
dengan memastikan seseorang tahu keadaan mereka setiap hari.
Host China Insider David Chang membagikan informasi.
Masyarakat China saat ini sangat menarik.
Ada banyak kasus di sekitar Anda.
Misalnya pasangan China lebih sering menggunakan ponsel
daripada berinteraksi di lingkungan sosial yang sebenarnya.
Budaya internet China cukup menonjol
dan banyak orang jadi tertutup, terutama setelah pandemi.
Mereka lebih suka berinteraksi melalui aplikasi dan lainnya.
Memperiksa keadaan mereka mungkin bukan melalui telepon
tapi dengan mengklik tombol.
Aplikasi ini juga ada tujuan lain.
Jika Anda tahu, ada banyak pembicaraan
tentang anak muda hilang di China
yang organ tubuhnya diambil secara acak.
Jadi aplikasi ini juga bermanfaat
untuk melacak orang yang Anda cintai.
Aplikasi ini dikenal di luar negeri dengan nama Demomo.
Pengguna dapat menekan tombol check-in sekali sehari
untuk memberi tahu mereka baik-baik saja.
Jika tidak check-in selama dua hari berturut-turut,
aplikasi secara otomatis mengirim pesan
ke kontak darurat terdaftar.
Aplikasi ini dirilis pada Mei tahun lalu
dengan nama Mandarin Seleme
yang berarti, apa kamu mati?
Aplikasi seharga $1 ini dengan cepat menjadi viral
mencerminkan pergeseran sosial yang lebih luas di China.
Banyak anak muda memilih tetap lajang,
menikah lebih lambat, atau hidup sendiri.
Sementara itu banyak lansia hidup
tanpa dukungan keluarga di dekatnya.
Menurut Biro Statistik Nasional,
rumah tangga satu orang di China
mencapai hampir 20 persen
dari seluruh rumah tangga pada 2024.
Angka ini naik dari kurang dari 8 persen
Media pemerintah China memperkirakan
akan ada sekitar 200 juta rumah tangga
satu orang pada 2030.
Pengembang aplikasi berkata
mereka ingin memperluas fitur untuk para lansia
mengingat lebih dari 20 persen penduduk China
sudah berusia di atas 60 tahun.
Meskipun banyak yang memuji tujuan aplikasi,
yang lain mengkritik atas namanya,
terutama referensinya tentang kematian.
Ada laporan bahwa perusahaan
akan mengubah nama aplikasi di masa depan.
Aksi protes menuntut keadilan
meletus di China bagian tengah.
Ini suluh kematian siswa berusia 13 tahun
di sekolahnya minggu lalu.
Pihak sekolah berupaya menyingkirkan jasadnya
secara diam-diam tanpa membiarkan
orang tuanya melihat.
Saat ini diketahui otoritas setempat
berupaya membungkam orang tua siswa tersebut.
Insiden ini sontak memicu kritik tajam
dan kecurigaan yang mendorong massa
turun ke jalan.
Apa yang mereka tuntut dari pihak berwenang?
Dan mengapa mereka menyebut insiden ini
sebagai penutupan kejahatan
yang mengancam keselamatan warga?
Berikut informasi selengkapnya.
Beberapa mungkin menganggap konten berikut mengganggu.
Sebuah video memperlihatkan sekolah
mencoba memindahkan jasad dengan ambulans
segera setelah sang siswa dinyatakan meninggal.
Tampak sebuah truk yang dikendarai paman siswa itu
meminta ambulans untuk berhenti
sebelum orang tuanya datang melihat jenazahnya.
Saat orang tuanya tiba,
mereka melihat bercak darah di sudut mulut
sang anak dan lubang di dada kirinya.
Namun tak ada seorang pun dari pihak sekolah
yang memberikan penjelasan.
Orang tua siswa itu berkata bahwa
putra mereka tidak ada masalah dengan kesehatannya.
Pihak sekolah digabarkan
tidak memberikan informasi apapun
dan menolak menyerahkan rekaman CCTV
dengan alasan kamera pengawasnya rusak.
Minimnya transparansi ini
mendorong masa datang dan menuntut sekolah,
termasuk orang tua siswa lainnya.
Terdengar masa menuntut penyelidikan
independen atas kematian siswa itu.
Protes berlangsung sepanjang hari.
Video menunjukkan aparat berwajib
dikerahkan untuk meredam aksi protes.
Ketawatiran mulai bermunculan di internet
seputar apakah siswa itu menjadi target
pengambilan organ.
Informasi daring yang beredar menyebut kemungkinan
keluarga dari siswa tersebut telah diancam
karena orang tuanya tidak bersuara
semenjak kejadian.
Ini bukanlah kasus pertama.
September lalu, seorang siswa SMA di Tianjin, China
dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit
tempatnya dirawat.
Keluarga mendapatkan bahwa organ hati anaknya hilang,
sementara organ lainnya dalam kondisi tertusuk.
Ia dikabarkan jatuh
dari lantai dua gedung sekolah
dan pihak sekolah mengkonfirmasi tulangnya
mengalami keretakan.
Kembali di China In Focus, saya Tiffany Meyer.
Seorang mantan pelaut Angkatan Laut AS
telah dijatuhi hukuman hampir 17 tahun
karena menjadi mata-mata China.
Ia menjual rahasia militer
ke perwira intelligent China,
termasuk melaporkan masalah dengan kapal
angkatan laut, serta mengungkap
berbagai lokasinya.
Jinchao Wei, juga dikenal sebagai Patrick Wei,
bekerja di kapal serbu amfibiu SSSX
di pangkalan Angkatan Laut San Diego
sebagai mekanis.
Posisi itu memberinya akses ke informasi pertahanan
sensitif, termasuk data kapal
Angkatan Laut AS dan senjata mereka.
Jaksa berkata ia membocorkan
foto, pergerakan kapal, dan detail
senjata. Ia dilaporkan
dibayar lebih dari 12 ribu dolar AS.
Juri menyatakan ia bersalah
tahun lalu atas enam dakwaan,
termasuk spionase dan ekspor
data pertahanan yang melanggar hukum.
Wei telah direkrut oleh seorang perwira China
pada 2022.
Yang menggambarkan dirinya sebagai
seorang penggemar Angkatan Laut yang
berafiliasi dengan industri pembuatan kapal
milik negara China.
Awalnya dimulai dengan instruksi sederhana dan
imbalan kecil, seperti berjalan di dermaga
untuk melihat kapal mana yang berlabuh
setiap hari, dan ia dibayar
500 dolar untuk itu.
Hal ini berlanjut dengan ia membagikan ribuan
dokumen, manual operasi, dan
berbagai informasi sensitif.
Wei adalah warga negara AS yang dinaturalisasi.
Jaksa penuntut berkata
ibunya telah mendorongnya untuk bekerja
untuk China, mengatakan itu akan dapat
membantunya mendapatkan pekerjaan
di pemerintah China.