00:11 China Latihan Militer Besar-besaran Kepung Taiwan 02:35 Viral Rekaman Video Jendral China Tolak Bunuh Warga Sipil
China melakukan latihan militer besar-besaran untuk mengepung Taiwan. Taiwan mengecam tindakan tersebut, sementara ketegangan meningkat pasca kesepakatan senjata dengan Amerika Serikat. --------------- Beredar video persidangan rahasia seorang jenderal China tolak arahan rezim untuk bunuh warga sipil di lapangan Tiananmen
Semua mata tertuju pada Taiwan.
Pada hari Senin, Beijing mengerahkan militernya dan melakukan latihan tembak langsung.
Militer China berkata latihan akan berlanjut hari Selasa.
Taiwan mengutuk hal ini dan berkata mereka memantau situasi dengan ketat.
Berikut pernyataan Jubir, kantor Kepresidenan Taiwan.
Negara kami menyatakan kecaman keras terhadap otoritas China
yang mengabaikan norma internasional dan menggunakan aktivitas dan cara militer
untuk mengancam negara-negara tetangga.
Saya memiliki hubungan baik dengan Presidensi dan dia belum memberitahu saya apapun tentang hal itu.
Saya tentu telah melihatnya, tapi ia tidak memberitahu apapun.
Saya tidak percaya dia akan melakukannya.
Tidak ada yang membuat saya khawatir. Tidak ada.
Latihan melibatkan angkatan darat, laut, udara, dan roket China.
Pasukan roket adalah militer yang mengoperasikan rudal nuklir berbasis darat China
untuk pencegahan dan serangan jarak jauh.
Tujuannya untuk memblokade pulau dari udara dan laut serta mengepung pulau Taiwan.
China juga melakukan simulasi serangan target darat dan laut yang terjadi hanya 11 hari
setelah Washington mengumumkan penjualan senjata senilai 11,1 miliar dolar AS ke Taiwan.
Itu adalah kesepakatan senjata terbesar antara AS dan Taiwan.
Ini juga terjadi setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi
memperingatkan bahwa serangan China ke Taiwan dapat memicu respon militer dari Tokyo
yang dikatakannya November lalu.
Meskipun latihan mengganggu penerbangan Taiwan, pemerintah berkata masyarakat tidak perlu khawatir.
Kementerian Pertahanan Taiwan berjanji akan mempertahankan kedaulatan dan demokrasi pulau tersebut.
Karena kita harus mengambil langkah-langkah yang tepat dengan premis
untuk memastikan keamanan dan kedaulatan nasional kita,
karena konfrontasi terus meningkat.
Risiko konflik antara kedua pihak hanya akan terus meningkat
dan tidak akan membantu menyelesaikan perbedaan atau perselisihan.
Latihan terbaru ini adalah peningkatan dari latihan sebelumnya di bulan April.
Ini menandai putaran latihan perang besar ke enam China sejak 2022
saat Ketua DPR AS saat itu Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan.
Rezim China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya
meskipun tidak pernah memerintah pulau tersebut.
Taiwan menolak klaim itu berkata hanya rakyat Taiwan yang dapat menentukan masa depan mereka.
Beredar cuplikan video dari persidangan rahasia seorang jenderal China 30 tahun lalu.
Video yang viral dan ditonton jutaan kali segera menyebar ke luar China.
Hal yang sangat langka bagi informasi semacam itu bisa tersebar luas.
Klip tersebut mengungkap perpecahan dalam militer China sebelum dikerahkan
untuk menembaki para pengunjuk rasa dalam pembantaian Tiananmen 1989.
Tragedi berdarah itu merupakan salah satu topik paling disensor di China
dan hingga kini masih banyak warga China yang tidak sepenuhnya paham situasi saat itu.
Jenderal itu bernama Su Qinxian.
Su menjadi dikenal karena menolak perintah Rezim untuk memimpin pasukan kelapangan Tiananmen
untuk menumpas aksi mahasiswa yang menuntut demokrasi dengan senapan mesin dan amunisi.
Saat itu Su memimpin salah satu pasukan paling elit yang ditempatkan dekat Beijing,
Angkatan Darat ke-38.
Baginya itu merupakan keputusan hidup dan mati.
Su menjalani persidangan tanpa rasa takut.
Ia memaparkan keprihatinya di hadapan para hakim.
Para pengunjuk rasa itu diselimuti emosi tinggi.
Maka pasti akan terjadi konflik antara mereka dan pasukan kami.
Saat itu terjadi, konflik berdarah tidak akan terhindarkan karena pasukan kita membawa senjata.
Su khawatir penembakan itu berpotensi melukai warga sipil.
Mereka yang jahat dan yang baik semua ada di sana.
Tentara militer dan warga sipil tidak dapat dibedakan.
Bagaimana saya bisa melakukan misi ini?
Siapa yang harus saya tembak?
Ia menyebut keputusan krusial butuh diskusi di kalangan pejabat tinggi.
Su juga mempertanyakan mengapa perintah itu bersifat lisan tanpa dokumentasi tertulis.
Saat itu saya berkata keatasan.
Mereka bisa mengangkat atau memberhentikan saya.
Jika saya melakukannya dengan baik, saya adalah pahlawan.
Jika saya tidak melakukannya dengan baik, saya akan menjadi penjahat seumur hidup.
Pernyataannya itu sontak mengejutkan semua yang hadir.
Salah seorang hakim membacakan kesaksian.
Setelah pernyataan Su, seketika ruangan itu hending dalam waktu yang cukup lama,
kedua atasan itu tak paku.
Segera setelah resim mengganti posisi Su dengan komandan lain,
Angkatan Darat Ketiga Lapan bergerak masuk ke Beijing
dan melepaskan tembakan ke arah mahasiswa dan warga sipil.
Menjadikannya batalion paling mematikan yang merenggut banyak jiwa pada 4 Juni.
Ribuan diperkirakan tewas dalam pembantaian Tiananmen.
Jumlah korban jiwa sesungguhnya tidak diketahui.
Sementara Su menekam dalam tahanan selama 5 tahun
dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai tahanan rumah.
Ia meninggal pada 2021 di usia ke-85.
Sebelum meninggal, Su berkata tidak menyesali keputusannya.
Ia lebih memilih kepalanya dipenggal daripada tercatat sebagai penjahat dalam sejarah.