Goldman Sachs & IMF Minta China Perkuat Yuan

NTD Indonesia
799 pengikut
China diduga sengaja menjaga Yuan tetap lemah (sekitar 25% lebih rendah) untuk mendorong ekspor murah, memicu kritik dan tekanan utang pada negara-negara mitra dagang.
Baca artikel selengkapnya di: https://ntdindonesia.com/
------
NTD Indonesia di Ganjing World ☛ https://www.ganjingworld.com/s/NK2eJa2ngq
NTD Indonesia di Facebook ☛ https://facebook.com/ntdindonesia/
NTD Indonesia di Instagram ☛ https://www.instagram.com/ntdnewsindonesia/
Donasi dukung kami ☛ https://ntdindonesia.com/donasi/
#matauangyuan #matauangchina #kursyuandollar #yuanlemah #chinesecurrency #beltandroadinitiative #barangmurahchina #fastfashion
Kini kita bahas senjata lain yang digunakan China, yaitu mata uang.
Goldman Sachs dan Dana Monetary International sama-sama menyoroti mata uang China.
Mereka berpendapat, mata uang China mungkin diperdagangkan jauh lebih rendah dari yang ditunjukkan kekuatan ekonomi ekspornya.
Ini dapat menciptakan tekanan keuangan besar bagi negara-negara yang sangat bergantung pada China untuk perdagangan dan pinjaman.
Hari Rabu, Goldman Sachs berkata mata uang China sekitar 25 persen lebih rendah dari yang seharusnya.
Banyak ekonom berspekulasi, Beijing sengaja menjaga yuan tetap lemah untuk membantu meningkatkan ekspor.
Surplus perdagangan global China melonjak melewati $1 triliun tahun ini didorong oleh ekspor murah dan praktik dumping barang ke pasar luar negeri.
Hal ini memicu kritik dari AS, Uni Eropa dan mitra dagang lainnya yang berpendapat bahwa barang-barang murah China merusak industri dalam negeri.
IMF mendesak China untuk membiarkan mata uangnya menguat.
Dengan alasan negara itu perlu lebih mengandalkan pengeluaran konsumen di dalam negeri daripada ekspor ke luar negeri.
Mata uang China yang lebih kuat akan membuat ekspornya lebih mahal dan mengurangi keunggulannya di pasar luar negeri.
Namun dengan yuan yang masih lemah, pembiayaan China tampak menarik.
Tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga untuk proyek-proyek di bawah inisiatif Belt and Road.
Negara-negara yang ingin membangun infrastruktur penting dapat beralih ke China untuk mendapatkan bahan baku, tenaga kerja, dan pendanaan murah.
Namun banyak negara-negara ini sekarang merasakan tekanan.
Dengan pendapatan yang masuk lambat, utang-utang semakin sulit untuk dibayar.
Beberapa analis memperingatkan jika China terus mempertahankan nilai mata uangnya yang rendah, negara-negara berkembang dapat terjerumus lebih dalam ke dalam utang.
